
Berbagai cara bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di satuan pendidikan. Salah satunya mendorong satuan pendidikan untuk menampilkan inovasi, kreativitas, serta praktik baik. Itulah yang dilakukan Dinas Pendidikan Kota Surabaya dalam festival kurikulum bertajuk SATRIA Surabaya tahun 2026 yang dilaksanakan di Gedung Wanita Candra Kencana, Senin (19/10/2026).
SATRIA merupakan akronim dari science, arts, technology, research, innovation, dan agriculture. Enam pilar tersebut ditampilkan oleh 50 satuan pendidikan di Kota Surabaya, terdiri atas 25 jenjang SD dan 25 jenjang SMP, baik negeri maupun swasta. Festival dibuka langsung Kepala Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Timur Herdiana, Kepala Dispendik Surabaya Febrina Kusumawati, dan Ketua PGRI Kota Surabaya Agnes Warsiati.
Kepala BBPMP Jatim Herdiana mengatakan, festival kurikulum yang digagas oleh Dispendik Kota Surabaya merupakan kegiatan yang bagus untuk meningkatkan kualitas dan mutu pembelajaran di Jatim, khususnya Kota Surabaya. “Informasinya ini baru pertama kali digelar. Saya ucapkan terima kasih atas ide dan gagasan SATRIA Surabaya ini,” katanya.
Herdiana menjelaskan, karena baru dilantik menjadi Kepala BBPMP Jatim, ia meminta saran dan masukan serta menjalin sinergi yang kuat untuk meningkatkan mutu pendidikan di Provinsi Jatim. Terutama mengenai program SATRIA Surabaya yang diharapkan tidak hanya berhenti pada ide dan gagasan, melainkan bisa ditularkan ke sekolah-sekolah lain.
“Juri festival ini berasal dari perguruan tinggi. Artinya memiliki bibit baik untuk jadi gerakan ke semua sekolah-sekolah. Jangan sampai hanya berhenti di ide dan gagasan,” tegasnya.
Kepala Dispendik Kota Surabaya Febrina Kusumati mengungkapkan, SATRIA Surabaya merupakan merupakan perwujudan dari istilah: murid yang hebat berasal dari guru yang hebat, guru yang hebat karena kepala sekolah yang hebat. Sinergi tersebut harus diperkuat dengan praktik-praktik baik di lapangan.
“Kalau hari ini semua sudah menginspirasi, tugasnya tidak hanya berhenti sampai di sini. Apa yang sudah dideklarasikan dan diinovasikan kepada anak-anak harus terus diperkuat, karena langkah ke depan masih panjang,” ujarnya.
Febrina mengaku akan menciptakan seluruh sekolah di Surabaya seperti 50 sekolah yang mengikuti festival kurikulum ini. Ia pun mengingatkan kepada para guru untuk tidak mematahkan semangat anak-anak didik yang mempunyai pikiran kritis. “Terus arahkan dan damping anak-anak yang kritis ini, jangan dipatahkan semangatnya,” katanya.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) Dispendik Surabaya Mochammad Sufyan menambahkan, peserta festival merupakan sekolah yang telah lolos seleksi tahap pertama melalui asesmen dokumen. Peserta berasal dari lima wilayah, yakni Surabaya Pusat, Utara, Timur, Selatan, dan Barat.
“Melalui festival, peserta diberikan kesempatan untuk menampilkan hasil implementasi, karya inovatif, serta praktik baik pembelajaran yang mengintegrasikan enam pilar SATRIA Surabaya,” ungkapnya.
Dari hasil festival ini, yang meraih juara I untuk jenjang SD adalah SDN Keputran I, juara II SDN Wonokusumo VI, juara ketiga SDN Tambaksari I, juara harapan I SDN Wonorejo III, juara harapan II SDN Dr. Sutomo V, dan juara harapan III SDN Wonokusumo V.
Juara pertama jenjang SMP diraih SMPN 34, juara kedua SMPN 23, juara ketiga SMP Islam Al Azhar, juara harapan 1 SMPN 61, juara harapan kedua SMPN 1, dan juara harapan ketiga SMP Santa Maria. (Humas Dispendik Surabaya)




