Semua guru Bahasa Indonesia Kelas IX SMP Negeri Kota Surabaya mengikuti Bimtek Penyusunan Soal Bahasa Indonesia Setara Soal Ujian Nasional (UN) Tahun 2018 di SMP Negeri 13 Surabaya, Rabu pagi (10/1). Kegiatan bimtek dipandu oleh Dr. Heny Subandiyah, M.Pd., dan Dr. Suhartono, M.Pd., kedua narasumber dari FBS Unesa Surabaya.

 

Hadir dalam pembukaan acara Drs. Sudarminto, M.Pd. Kabid Sekolah Menengah Dispendik Surabaya, didampingi para pembina MGMP Bahasa Indonesia, di antaranya Dr. Chamim Rosyidi Irsyad, M.Si., M.Pd., Dra. Yulia Krisnawati, M.Pd., dan Dra. Laili Fadila, M.M.

 

Dalam sambutannya, Sudarminto menuturkan bahwa pelaksanaan bimtek penyusunan soal setara soal UN ini sangat relevan dengan persiapan bagi siswa menghadapi UN dan USBN tahun 2018. USBN tahun 2017 hanya tiga mata pelajaran, yaitu Pendidikan Agama, PPKn, dan IPS, sedangkan USBN tahun 2018 seluruh mata pelajaran atau sebelas mata pelajaran, imbuhnya.

 

“Jadi Bapak dan Ibu dapat mempersiapkan soal UN dan USBN sekaligus.”, pungkas Kabid yang kerap disapa Pak Dar.

 

Heny Subandiyah, dalam paparannya memberikan wawasan tentang kiteria menyusun soal. Soal disusun berdasarkan kisi-kisi soal yang yang bermuara dari SKL. Soal disusun berdasarkan tiga level kognitif, yaitu pengetahuan dan pemahaman, aplikasi, dan penalaran. Untuk mengukur kemampuan peserta didik, masing-masing level kognitif hendaknya mengacu pada Kata Kerja Operasional (KKO). Tiga unsur penting dalam sebuah soal, yaitu ilustrasi, pertanyaan, dan pilihan jawaban, imbuh Heny.

 

Sementara itu, Suhartono menekankan pada ketepatan menyusun soal pada level penalaran. Pada jenis soal ini masih banyak ditemukan kekurangtepatan penyusunan soalnya, khususnya soal yang jenisnya menentukan alasan kesalahan pengunaan kata, kalimat, kepaduan paragraf, ejaan dan tanda baca. Antara indikator soal dengan soal yang dibuat tidak ada kesesuaian, di samping pengecoh pilihan jawaban yang kurang tepat.

 

"Diharapkan Ibu dan Bapak cermat dalam menyusun soal sehingga soal-soal tersebut berbobot dan setara dengan soal UN. Dampaknya, para siswa sudah terbekali latihan-latihan atau tryout dengan model soal yang benar.", imbau Suhartono. (Humas Dispendik Surabaya)