Tak salah jika Surabaya mendapat julukan sebagai Kota Literasi, beragam program serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai mampu menumbuhkan budaya literasi.

 

Siang kemarin, Minggu (12/11) dihadapan para peserta Seminar Nasional “Geliat Budaya Literasi Sebagai Investasi Masa Kini” yang diselenggarakan oleh SCOLAH UNAIR Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Ikhsan sampaikan program keliterasian.

 

“Awal mula budaya literasi di Surabaya digalakkan dengan lomba menulis cerita pendek (cerpen) sejak tahun 2012”, ujar Ikhsan.

 

Ikhsan mengemukakan dari program lomba menulis cerpen kemudian berkembang menjadi Tantangan Membaca Surabaya yang pada akhir Desember 2015 mecapai 1.579.333 buku yang telah dibaca siswa Surabaya.

 

“Tidak hanya program membaca, kini hampir setiap kelas telah terdapat sudut baca dan ketersediaan perpustakaan di fasilitas umum seperti pad ataman-taman kota”.

 

 

Mantan Kepala Bapemas dan KB Kota Surabaya tersebut menambahkan di lingkungan RW juga terdapat juga Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang kini jumlahnya mencapai  1.425 lokasi dan juga masih ada perpustakaan keliling, rumah bahasa, dan matematika guna mendorong kemampuan masyarakat untuk belajar bahasa asing serta meingkatkan kemampuan siswa di bidang matematika. (Humas Dispendik Surabaya)