Untuk mewujudkan komitmen Kota Banda Aceh menuju Kota Layak Anak (KLA) melalui Sekolah Ramah Anak (SRA), Pemerintah Kota (Pemkot) Banda Aceh melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Banda Aceh melakukan studi banding ke Kota Surabaya, Senin (23/9/2019).

 

Rombongan berjumlah 52 orang yang dipimpin langsung Kepala Disdikbud Kota Banda Aceh, Saminan, itu melakukan studi banding ke salah satu SD Negeri dan satu SMP Negeri di Kota Surabaya.

 

Saminan mengatakan, rombongan dari Kota Banda Aceh terdiri atas unsur Disdikbud Kota Banda Aceh, kepala SD Negeri, kepala SMP Negeri, dan Majelis Pendidikan Daerah (MPD) atau Dewan Pendidikan Kota Banda Aceh.

 

“Salah satu RPJM kami adalah menjadikan Kota Banda Aceh sebagai Kota Ramah Anak dengan menyiapkan Sekolah Ramah Anak. Surabaya yang kami rasa siap dan layak menjadi percontohan,” kata Saminan saat di Kantor Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya.

 

Saat di Kantor Dispendik Kota Surabaya, rombongan dari Kota Banda Aceh disambut langsung Sekretaris Dispendik Kota Surabaya Aston Tambunan, Kabid Sekolah Menengah (Sekmen) Sudarminto, Kabid Sekolah Dasar (Sekdas) M Aries Hilmi, serta jajaran di lingkungan Dispendik Kota Surabaya.

 

Dalam kesempatan itu, Aston mengatakan, rombongan dari Kota Banda Aceh akan diarahkan menuju dua sekolah. Sekolah pertama adalah SD Negeri Rungkut Menanggal I dan SMP Negeri 28 Kota Surabaya. Di dua sekolah tersebut, mereka bisa melihat praktik-praktik baik untuk mewujudkan sekolah ramah anak. (Humas Dispendik Surabaya)

Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya membagikan hadiah kepada siswa SD/MI dan SMP/MTs yang berhasil memenangkan lomba menulis cerita pendek (cerpen) tahun 2019. Hadiah diserahkan langsung oleh Kepala Dispendik Kota Surabaya Ikhsan, Jumat (20/09/2019).

 

Untuk jenjang SD, juara pertama diraih Cindy Laroza dari SD Al-Irsyad, juar kedua diraih Irene Sri Wahyu Setya Ningsih dari SDN Putat Jaya IV, juara tiga diraih Tasya Aulia Putri dari SDN Ujung IX. Sementara harapan pertama diraih Erinna Azalia Zahira dari SDN Rungkut Menanggal II, harapan dua diraih Raisha Indira Mayla dari SDN Menanggal, dan harapan ketiga diraih Lintang Mahatma Kandhi dari SD Muhammadiyah 11.

 

Pada jenjang SMP, juara pertama diraih Fadia Salsabila dari SMPN 15, juara kedua diraih Afifah Khosyi’ Azmiy Fikri dari SMPN 26, juara ketiga diraih Kanaya Ramadhani dari SMPN 11. Untuk harapa pertama diraih Ahmad Dhafin Al Farisy dari SMP Al Hikmah, harapan kedua diraih Syaiqotul Minnah dari SMPN 2, dan harapan ketiga diraih Theofanie Widya Marchellina dari SMPK Santo Stanislaus II.

 

Dalam kesempatan itu, Ikhsan berpesan kepada seluruh siswa untuk terus menulis. Jangan sampai berhenti setelah memenangi lomba. Dengan begitu, diharapkan setiap siswa memiliki karya buku sendiri-sendiri di masa mendatang. “Pada lomba cerpen ini, akan diambil 30 karya dari SD dan 30 karya dari SMP untuk dibukukan. Nanti bukunya diberikan kepada siswa satu dan sekolah dapat satu,” ungkapnya.

 

Juara pertama jenjang SMP, Fadia Salsabilla mengatakan, ini kali pertama mengikuti lomba cerpen dan tidak menyangka bisa juara pertama. “Saya menulis cerpen berjudul Cermin Meledak. Cerita fantasi melihat Indonesia di masa depan di mana Indonesia dijajah karena lupa budayanya,” kata siswa kelas 8 ini.

 

Perempuan yang mengaku suka membaca buku bergenre misteri dan fantasi ini membuat cerpen tersebut selama dua hari, termasuk revisi cerpen. (Humas Dispendik Surabaya)

Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya melalui bidang Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Masyarakat, Kesenian dan Olahraga Pendidikan (PDKOP) menggelar pelatihan Pembina Palang Merah Remaja (PMR) bagi guru SD dan SMP/MTs se-Kota Surabaya.

Pelatihan dibagi menjadi beberapa gelombang, dimulai Jumat (20/9/2019) sampai Senin (23/9/2019) mendatang. Gelombang pertama ditujukan untuk guru SD wilayah 1, 2, dan 3 dari 16 kecamatan. Tiap kecamatan mengirimkan 8 guru.

Pelatihan PMR gelombang dua ditujukan untuk guru SD wilayah 4 dan 5 yang berasal dari 15 kecamatan. Gelombang ketiga untuk guru SMP negeri dan SMP swasta.

PMR sendiri merupakan wadah kegiatan remaja di sekolah atau lembaga pendidikan dalam kepalangmerahan melalui program kegiatan ekstrakurikuler.

Narasumber dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surabaya, Pungky Sugianto mengatakan, PMR berupaya meningkatkan keterampilan siswa. Bisa juga untuk pembentukan karakter sejak dini. “Sejak SD bisa dibentuk untuk memberikan contoh-contoh yang mudah bagi temannya,” katanya.

 

Pungky melanjutkan, contoh mudah bisa mengenai bidang kesehatan, seperti cuci tangan, sanitasi. Namun, sebelum bisa memberikan contoh, anak tersebut harus melakukan sendiri terlebih dahulu sebelum mengajak teman yang lain. (Humas Dispendik Surabaya)

Subcategories

Ini adalah berita dari Sekretariat Dinas Pendidikan