Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya Ikhsan menghadiri Pelantikan dan Pengukuhan Dewan Pengurus Cabang (DPC) Himpunan Seluruh Pendidik dan Penguji Indonesia Pendidikan Non Formal (HISPPI) Kota Surabaya periode 2019-2023, Selasa (24/9/2019).

 

Selain pelantikan pengurus, diselenggarakan Seminar Tiga Rumpun, yakni rumpun Tata Rias Pengantin (TRP), Tata Kecantikan Kulit (TKK), dan Tata Kecantikan Rambut (TKR). Diselenggarakan juga lomba lima rumpun bagi pendidik. Di antaranya untuk rumpun TKK, TRP, TKR, Busana, dan Hantaran.

 

Kepala Dispendik Kota Surabaya Ikhsan berpesan, DPC HISPPI Kota Surabaya tetap ramai dan kompak setelah pelantikan ini. Dengan demikian, organisasi bisa terus berkembang, mulai dari lembaganya, pengelola, pendidik, serta para pengujinya.

 

“Salah satu tolok ukur kesuksesan HISPPI Kota Surabaya, yakni akreditasi lembaga paling banyak. Ini salah satu bukti kalau organisasi berkembang dengan baik. Harus kompak antar pengurus, pembina, serta anggotanya,” pesan Ikhsan.

 

Hal yang sama diungkapkan Ketua DPD HISPPI Provinsi Jawa Timur Mohammad Aliwafa yang juga hadir dalam pelantikan tersebut. Menurut dia, setelah pelantikan ini, yang harus dipikirkan oleh pengurus adalah berkembangnya seluruh anggota DPC HISPPI Kota Surabaya. (Humas Dispendik Surabaya)­­

Sebanyak 20 siswa dari jenjang SD hingga SMP mengikuti Focus Discussion Group (FGD) seleksi Pelajar Pelopor 2019 Surabaya, sebelumnya para siswa tersebut, lolos dalam seleksi tes tulis yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya beberapa waktu lalu.

 

Sekretaris Dispendik Aston Tambunan, mengungkapkan program Pelajar Pelopor adalah untuk menyiapkan calon-calon pemimpin bangsa di masa mendatang, Tahun ini ada lima isu utama, yaitu wawasan kebangsaan/kebhinekaan dalam keberagaman budaya; pemanfaatan teknologi informasi; pendidikan kewirausahaan/entrepreneurship; kepeduluan sosial/toleransi; dan kepedulian terhadap lingkungan (alam budaya).

 

“Kalian adalah siswa terpilih dari ribuan siswa, maka dari itu jika terpilih menjadi Pelajar Pelopor diharapkan dapat menularkan semangat positif kepada siswa lainnya,” terang Aston saat membuka FGD seleksi Pelajar Pelopor, Selasa (24/09/2019).

 

Yoyong Burhanuddin salah seorang juri Pelajar Pelopor, menuturkan bahwa saat ini bukan lagi jamannya untuk berkompetisi untuk menjadi yang terbaik, namun saat ini yang dibutuhkan adalah sebuah kolaborasi guna mencapai kesuksesan.

 

“Dunia saat ini tengah belomba-lomna untukk berkolaborasi, karena setiap orang memiliki kelemahan dan kelebihan, dimana harus saling terisi,” tutur Yoyong.

 

Senada dengan Yoyong, Yugi Nurhariyanti juri Pelajar Pelopor, menyampaikan pelajar era masa kini cukup beruntung, dengan adanya diversity (perbedaan) mampu mmeberikan semangat untuk bersatu dan berkolaborasi menjadi pelajar unggul.

 

“Perbedaan-perbedaan diharapkan menjadi sebuah kesatuan pelajar dalam berkolaborasi mencapai kesuksesan,” ungkap Yugi.

 

Sementara itu, Siti Syahira, salah seorang peserta lomba Pelajar Pelopor bercerita tentang upaya memberikan edukasi tentang makanan yang sehat dan bergizi baik baik kepada teman satu sekolah hingga kepada siswa tidak mampu.

 

“Tujuan edukasi ini adalah memberikan pengertian tentang jenis-jenis makanan yang sehat dan bergizi,” ungkap siswi asal SDN Kendangsari I Surabaya.

 

Melalui metode alat peraga dan membuat video youtube Syahira -panggilan Siti Syahira- akan berkeliling ke lingkungan sekitar rumah dan sekolah untuk memberikan edukasi makanan bersih dan sehat. (Humas Dispendik Surabaya)

Sebagai salah satu sekolah berprestasi dan berwawasan lingkungan, SMPN 26 Surabaya menjadi menjadi nominasi juara lomba Lingkungan Sekolah Sehat (LSS) Berkarakter Nasional 2019.

 

Pagi tadi, Senin (23/09/2019) juri LSS melakukan verifikasi hasil penilaian lapangan nasional di sekolah yang terletak di wilayah Surabaya Barat tersebut. Tim juri nasional berasal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

 

Agus Suharyanto, koordinator tim juri nasional, menyampaikan bahwa Lomba LSS Berkarakter Nasional 2019 berbeda dengan pelaksanaan tahun yang sebelumnya. “Berkarakter karena pada penyelenggaraan tahun ini akan ada 3 kategori juara, yaitu best performance, best achievement dan best character,” katanya.

 

Agus, menuturkan verifikasi hasil penilaian lapangan nasional hari ini, semua sarana/prasarana pengelolaan lingkungan dan kesehatan di SMPN 26 Surabaya kembali dievaluasi. Selain melakukan penilaian di SMPN 26, tim juri juga melakukan kunjungan Sekretatiat Tetap (Sektap) Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan Sektap UKS Kota Surabaya yang terletak di kantor Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya.

 

Pada saat yang sama, Kadispendik Surabaya Ikhsan menuturkan bahwa saat ini para warga sekolah memiliki kepedulian yang sangat tinggi dalam mewujudkan lingkungan sekolah bersih dan sehat, hal tersebut tentunya akan mebuat nyaman para siswa dan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) di dalam sekolah. “Jadi tidak hanya pada saat penjurian saja, namun dalam KBM sehar-hari pun pawa siswa dan guru selalu menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan sekolah,” terang Kadispendik Ikhsan saat mendampingi para juri LSS di SMPN 26, pagi tadi, Senin (23/09).

 

Sementara itu, Kepala SMPN 26 Akhmat Suharto, mengungkapkan untuk mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat , beberap program sekolah yang berwawasan lingkungan, seperti kantin apung, bank sampah, pengolah kompos, program hidroponik, hingga pengolahan hasil budidaya ikan lele menjadi hidangan masakan.

 

“Anak-anak menjadikan sekolah tidak hanya sebagai tempat belajar, namun juga sebagai lingkungan yang sehat dan nyaman untuk meningkatkan prestasi,” ungkap 26 Akhmat Suharto. (Humas Dispendik Surabaya)

Subcategories

Ini adalah berita dari Sekretariat Dinas Pendidikan