Selama tiga hari, mulai Senin (16/9/2019) sampai Rabu (18/9/2019), Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya memfasilitasi perubahan rekening penerima BOS/BOPDA jenjang SD/MI dan SMP/MTs.  Perubahan ini dari rekening buku tabungan menjadi berbentuk giro.

 

Bertempat di Aula SMPN 13 Surabaya, perubahan rekening untuk Senin (16/09/2019) hari ini ditujukan untuk sekolah-sekolah yang berada di Kecamatan Krembangan, Semampir, Gubeng, Karangpilang, Tegalsari, Simokerto, Sukolilo, Lakarsantri, Jambangan.

 

Dalam kesempatan ini, perwakilan Bank Jatim dari cabang utama dan cabang pembantu turut membantu perubahan rekening sekolah. “Setelah ini tidak ada lagi buku tabungan, tapi diganti dengan giro,” kata Sekretaris Dispendik Surabaya Aston Tambunan.

 

Persyaratan pembukaan rekening giro BOS/BOPDA sekolah, di antaranya surat permohonan pembukaan rekening, NPWP sekolah, SK kepala sekolah dan bendahara, KTP dan NPWP kepala sekolah dan bendahara, dan lain-lain.

 

Untuk Selasa (17/9/2019) besok, ditujukan untuk sekolah-sekolah di Kecamatan Tandes, Mulyorejo, Benowo, Pakal, Pabean Cantian, Gunung Anyar, Kecamatan Asemrowo, Kecamatan Bubutan, Kecamatan Genteng, Kecamatan Gayungan, Sawahan, Rungkut, Tenggilis Mejoyo.

 

Sedangkan untuk Rabu (18/9/2019), ditujukan untuk Kecamatan Wonokromo, Kenjeran, Tambaksari, Sukomanunggal, Sambikerep, Wonokromo, Wonocolo, Kenjeran, Bulak, Wiyung, dan Kecamatan Dukuh Pakis. (Humas Dispendik Surabaya)

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Pendidikan (Dispendik) terus memberikan wahana bagi pelajar-pelajar Surabaya untuk mengembangkan diri. Salah satunya lewat Surabaya Young Scientists Competition tahun 2019 atau lomba peneliti belia jenjang SMP/MTs se-Kota Surabaya. Lomba diselenggarakan pada Kamis (12/09/2019) sampai dengan Jumat (13/09/2019) di Convention Hall Arif Rahman Hakim Surabaya.

 

Pada tahun ini, ada enam bidang lomba yang diikuti 1.147 siswa dengan jumlah penelitian mencapai 592. Rinciannya, bidang komputer 45 penelitian dengan peserta 87 siswa, bidang environmental science 133 penelitian dengan peserta 254 siswa, bidang life science 218 penelitian dengan 431 siswa, matematika 48 penelitian dengan 93 siswa, fisika 45 penelitian dengan 86 siswa, dan sosial 103 penelitian dengan 196 siswa.

 

Dibanding tahun sebelumnya, Lomba Peneliti Belia tahun ini mengalami peningkatan jumlah penelitian dan peserta. Apalagi terdapat tambahan bidang penelitian baru, yakni bidang sosial. Lomba Peneliti Belia dibuka Kepala Dispendik Kota Surabaya Ikhsan bersama Direktur Center for Young Scientists (CYS) Monika Raharti.

 

Dalam sambutannya, Ikhsan menyampaikan, lomba peneliti belia merupakan penyelenggaraan tahun ketujuh. Lewat lomba ini, pihaknya ingin melanjutkan tradisi memperoleh medali di ajang serupa tingkat internasional.

 

“Beberapa waktu lalu Tim Indonesia berhasil memperoleh 1 emas, 3 perak, dan 3 perunggu dalam lomba peneliti belia internasional. Yang dari Kota Surabaya menyumbangkan 1 emas, 2 perak, dan 3 perunggu,” kata Ikhsandi sela sambutannya.

 

Ikhsan menjelaskan, lomba ini diselenggarakan setiap tahun agar pelajar Surabaya dapat mengembangkan bakat di bidang penelitian. Sesuai pesan dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, pelajar Surabaya harus difasilitasi dan dipersiapkan sarana pengembangan diri. Baik itu di bidang penelitian, olahraga, seni, akademik, dan lain sebagainya.

 

“Ibu Wali Kota Surabaya selalu berpesan kepada anak-anak untuk mengembangkan diri di bidang apapun. Sekarang kalian dipersiapkan untuk jadi peneliti dan ini merupakan langkah awal untuk menyiapkan diri sendiri,” terangnya.

 

Dengan banyaknya wahana pengembangan diri, pihaknya berharap, pelajar Surabaya mampu bersaing dengan anak-anak lain dari seluruh Indonesia, bahkan dunia. Ikhsan menyebut, ke depannya, persaingan sudah tidak ada batas lagi. Anak-anak Surabaya harus siap dan pandai menjaga serta mengembangkan diri.

 

“Pandailah memilih pergaulan, antar teman saling menjaga dan hindari hal-hal tidak baik seperti narkoba. Karena keberhasilan kalian, kalianlah sendiri yang akan mengejarnya. Dan jangan lupa selalu memohon doa restu kepada orang tua, karena sukses itu tidak lepas dari doa orang tua,” jelasnya.

 

Sementara itu, Direktur CYS Monika Raharti mengatakan, kriteria penilaian lomba peneliti belia ada dua. Pertama mengenai latar belakang dan pentingnya penelitian. Kedua, meliputi metodologi penelitian yang harus lengkap dan benar.

 

“Ada 21 juri tingkat universitas yang menilai pekerjaan kalian. Juri berkeliling dan kalian harus berdiri di samping poster, kemudian dengarkan pertanyaan juri,” kata Monika kepada para peserta.

 

Monika mengungkapkan, dari dua penilaian itu, akan diumumkan peserta lomba yang menjadi finalis. Para finalis ini selanjutnya akan presentasi hasil penelitiannya pada Jumat (13/09/2019).

 

“Kepada para juri, harus kita ingat bahwa ini adalah anak-anak SMP, bukan anak SMA atau universitas. Anak-anak SMP harus dilihat idenya, cara berpikir, mungkin bukan kedalaman ilmunya. Para juri diperbolehkan memberikan masukan,” tandasnya. (rls/Humas Dispendik Surabaya)

Untuk menyiapkan calon-calon pemimpin bangsa di masa mendatang, Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya kembali menyelenggarakan pemilihan Pelajar Pelopor Surabaya tahun 2019 jenjang SD/MI dan SMP/MTs. Tahun ini ada lima isu utama, yaitu wawasan kebangsaan/kebhinekaan dalam keberagaman budaya; pemanfaatan teknologi informasi; pendidikan kewirausahaan/entrepreneurship; kepeduluan sosial/toleransi; dan kepedulian terhadap lingkungan (alam budaya).

Sebelum segala proses pemilihan Pelajar Pelopor Surabaya dimulai, calon peserta mendapat pembekalan di Aula SMPN 13 Surabaya, Rabu (11/9/2019). Pembekalan diberikan oleh pemenang Pelajar Pelopor Surabaya angkatan kedua Aryo Seno Bagaskoro dan pemenang angkatan ketiga Wilson Tirta Tamin.

Dalam kesempatan itu, Wilson yang juga produser film layar lebar berjudul Ular Tangga ini mengingatkan kepada peserta Pelajar Pelopor Surabaya untuk berani bermimpi dan berani mewujudkan cita-cita. “Gunakan waktu mudamu untuk mencari banyak pengalaman. Seperti lomba ini, kalian bisa mengasah kemampuan, berkenalan dengan siswa lain, dengan pihak dinas, dan lain sebagainya,” ungkap Wilson.

Hal yang sama dikatakan oleh Aryo Seno Bagaskoro. Menurut dia, untuk mewujudkan cita-cita jalannya tidak mudah. Cemooh bisa datang kapan saja. Namun, cemooh justru dapat dijadikan motivasi diri sendiri untuk terus maju dan berjuang. “Kalau saya tidak takut dan berani maju meski dapat cemooh,” ungkap remaja yang akan meneruskan studi di Heidelberg, Jerman, ini.

Kepala Dispendik Surabaya Ikhsan mengatakan, Pelajar Pelopor Surabaya sudah menginjak tahun keenam. Pihaknya sengaja mengadakan pemilihan pelajar pelopor karena mengetahui banyaknya potensi yang dimiliki oleh pelajar-pelajar Surabaya. “Melalui potensi yang dimiliki, sukses bisa diraih melalui jalur apapun,” katanya.

Ikhsan mencontohkan pemenang pelajar pelopor Wilson Tirta dan Seno Bagaskoro. Pada saat mengikuti pemilihan pelajar pelopor, Wilson mengangkat kewirausahaan dengan menjual udang garang. Kemudian berlanjut ke nasional dengan meraih juara Tunas Muda Pemimpin Indonesia (TMPI). “Dan sekarang diusianya yang baru 17 tahun, Wilson sudah memiliki banyak usaha dan menjadi produser film. Jadi, untuk menjadi sukses itu tidak perlu menunggu tua,” ungkapnya.

 

Sedangkan Seno, kata Ikhsan, pada saat menjadi juara Pelajar Pelopor Surabaya tahun 2014 masih bersekolah di SMPN 6 Surabaya. “Sekarang dia menjadi pelopor Aliansi Pelajar Surabaya dan akhir tahun ini akan melanjutkan studi ke Jerman. Kalian semua juga bisa melahirkan kepeloporan yang baik-baik untuk Indonesia emas di tahun 2045 mendatang,” tandasnya. (Humas Dispendik Surabaya)

Subcategories

Ini adalah berita dari Sekretariat Dinas Pendidikan