Sebanyak 36 psikolog yang berasal dari Asosiasi Psikologi Sekolah Indonesia (APSI) siap diterjunkan pada lima wilayah Surabaya guna memberikan layanan psikologi dalam bentuk pemeriksaan psikologis, konsultasi belajar, konseling dan terapi, serta pelatihan atau workshop kepada para pendidik.

 

“Sebelum mereka diterjunkan ke lapangan diperlukan dahulu perkenalan kepada para kepala sekolah untuk menyamakan persepsi”, ujar Ketua APSI Surabaya Amanto Prayudisiono, S. Psi. Psikolog ketika melakukan audensi bersama Dispendik Surabaya, sore tadi Rabu (17/05).

 

Amanto menjelaskan peran dan tanggungjawab sekolah dalam mendidik dan mencerdaskan generasi muda amatlah besar ditambah lagi dengan meningkatkan permasalahan anak akibat perkembangan zaman yang semakin pesat. Oleh sebab itu, dibutuhkan adanya penaganan yang tepat dengan mengintegrasikan praktisi psikolog dengan tenaga pendidik agar tercapai generasi muda yang sehat baik secara fisik maupun psikisnya.

 

Pada kesempatan ini, Amanto juga menerangkan APSI akan melakukan pemetaan sekolah sehingga jika terjadi sebuah permasalahan anak, sekolah dapat menghubungi para psikolog di kecamatan terdekat.

 

“Kami berharap sebelum tahun ajaran baru dimulai semua telah siap”.

 

Semantara itu, Kadispendik Surabaya Dr. Ikhsan, S. Psi, MM menyambut baik atas dukungan tenaga psikolog dalam membantu memberikan layanan dan perlindungan anak. Menurutnya, selama ini Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya telah berupaya dalam memberikan layanan dan perlindungan anak secara optimal melalui berbagai program mulai menggelar razia malam bersama OPD terkait sampai memberikan ekstrakurikuler konselor sebaya di sekolah. Selain itu Pemkot Surabaya juga telah miliki Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga).

 

Kehadiran Puspaga ini selaras dengan predikat Surabaya sebagai kota yang mengedepankan kesetaraan gender, anti kekerasan perempuan dan anak juga perdagangan manusia. Melalui Puspaga, penanganan masalah keluarga bisa lebih komprehensif. Menurutnya, selama ini jika ada masalah orangtua dengan anak, si anak yang selalu disalahkan dan mendapat julukan anak nakal. Padahal, keluarga punya andil dalam membentuk kepribadian anak. 

 

“Anak Surabaya harus berkualitas agar tidak menjadi beban pembangunan serta diperlukan koordinasi dan kemitraan antar pemangku kepentingan terkait penmenuhan hak-hak anak harus diperkuat agar terintegrasi, holistic dan berkelanjutan,”. (Humas Dispendik Surabaya)