Hari ini, Senin (15/05) merupakan hari pertama pelaksanaan ujian sekolah (US) tingkat SD/MI se-Surabaya. Kegiatan yang melibatkan 860 lembaga dengan rincian 710 SD dan 150 MI tersebut setidaknya diikuti oleh 42.622 siswa.

 

“Mulai dari distribusi soal dari polsek ke sub rayon, hingga berlangsungnya pelaksanaan US berjalan dengan lancar”, tutur Sudarminto Plt. Kabid Sekolah Dasar Dispendik.

 

Sudarminto mengungkapkan berbagai persiapan dalam mensukseskan pelaksanaan US telah dilakukan sejak beberapa bulan lalu, mulai dari penyusunan soal hingga membekali anak dengan try out.

 

“Kami berharap para sudah terlatih dan mampu mengerjakan soal dengan baik, sehingga memperoleh hasil yang optimal nantinya”.

 

Pada kesempatan ini, Sudarminto juga mengingatkan kepada para ketua subrayon untuk menginstruksikan  pengawas ruang agar menjalankan POS dan juknis US  dengan baik, termasuk melakukan pengecekan terhadap barang bawaan siswa.

 

Senada dengan Sudarminto, Sastro, S.Pd.M.Pd menerangkan bahwa untuk membekali siswa agar siap US, selain mengerjakan 34 paket soal try out dari Dispendik, pihaknya juga memberikan tambahan jam kepada siswa kelas VI.

 

“Usai pulang sekolah mereka mendapatkan pendampingan materi dari guru sampai pukul 14.00 siang”.

 

Kepala SDN Babatan tersebut juga berujar menyampaikan sebelum pelaksanaan US dimulai pengawas ruang memberikan pengarahan kepada siswa mulai dari pengisian daftar hadir sampai dengan proses pengisian LJK sesuai dengan aturan dan juknis POS. (Humas Dispendik Surabaya)

Lautan manusia terlihat pada jalan Kya-kya Kembang Jepun, Minggu (14/5). Lautan manusia tersebut sebagai bukti antusiasme masyarakat Surabaya dan turis mancanegara untuk mengapresiasi Rujak Uleg, kuliner khas Surabaya. Peserta Festival Rujak Uleg 2017 bergoyang sembari menguleg bumbu-bumbu rujak dengan kostum fantasi dan tradisional bahkan kostum daur ulang.

 

Kawasan jalan legendaris, Kembang Jepun berubah menjadi lautan manusia. Lebih dari 1.500 warga, baik peserta rujak uleg maupun masyarakat dari Surabaya dan luar kota, tumplek blek di sana. Mereka nguleg rujak bareng.

 

Di tiap stan, sebanyak 300 grup peserta yang berasal dari kelurahan/kecamatan, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkot Surabaya, BUMD, hotel dan media, juga  tamu kehormatan perwakilan negara sahabat, tidak hanya sibuk nguleg rujak. Dengan memakai kostum unik, mereka juga berjoget dan meneriakkan yel-yel masing-masing. Ada yang memakai pakaian tradisional, kostum vampir, hingga superhero. Begitulah potret keriuhan suasana Festival Rujak Uleg 2017 yang tahun ini merupakan gelaran ke-15 kalinya.

 

Peserta rujak uleg berasal dari kelurahan/kecamatan sebanyak 160 grup, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkot Surabaya sebanyak 30 grup, peserta umum kurang lebih 53 grup, peserta dari hotel kurang lebih 28 grup, serta tamu kehormatan dari dalam dan luar negeri kurang lebih ada 24 grup.

 

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini dalam sambutannya mengatakan, Festival Rujak Uleg untuk mengingatkan masyarakat Surabaya, utamanya generasi muda, bahwa Surabaya memiliki kuliner legendaris yang tidak boleh dilupakan. Bahwa rujak uleg merupakan bagian dari warisan budaya para pendahulu di bidang kuliner. Sebelumnya, wali kota  berkeliling di sepanjang kawasan Kembang Jepun untuk melihat langsung kehebohan peserta Festival Rujak Uleg 2017.

 

“Festival ini untuk mengenang dan menjaga budaya kita. Salah satunya rujak uleg. Mungkin anak-anak kita tidak tahu. Kita bangkitkan lagi bahwa kita punya kekayaan luar biasa di bidang kuliner, yakni rujak uleg,” tegas wali kota.  

 

Wali kota juga mengajak warga Surabaya agar perayaan HJKS ke-724 menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan antar warga. Di usia yang sudah sangat matang, wali kota mengibaratkan Surabaya sudah terbang. Karenanya, pantang untuk kembali turun  hanya karena mengungkit-ungkit perbedaan yang memicu perpecahan. Justru, warga Kota Pahlawan harus bersama menjaga situasi kota, serta terus bekerja keras dan terus belajar demi masa depan yang lebih baik.

 

“Sebagai anak cucu pejuang, mari teladani para pejuang meski berbeda tapi satu. Kita bisa menjaga kebersamaan dan persatuan. Mari menjadikan Surabaya sebagai contoh tidak ada pertentangan dan permusuhan. Kalau Surabaya damai, kita semua mudah nyari makan, sekolah dan berusaha,” sambung wali kota.

 

 

Festival Rujak Uleg 2017 memang lebih heboh dibanding tahun sebelumnya. Itu terlihat dari animo masyarakat yang luar biasa. Dan itu menjadi bukti bahwa ajang yang digelar sejak 2002 dan telah dua kali memecahkan rekor MURI untuk kategori pembuat rujak uleg terbanyak ini tetap mampu menjadi magnet yang menarik animo warga Surabaya. Bahkan juga warga dari luar Kota Surabaya. Salah satunya Febri Ariyanti dari Sidoarjo. Ibu muda ini datang bersama suami dan putranya. “Saya tahu nya acara ini dari media sosial. Mumpung hari ini suami libur kerja, jadi saya ajak ke sini. Acaranya ruame. Kita juga bisa ikut nyicipi rujak uleg nya,” ujarnya.(Humas Dispendik Surabaya)

Sejak pukul 07.00 pagi tadi, Sabtu (13/05) puluhan orang tua/walimurid menghantarkan putera-puterinya ke kantor Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya Jalan Jagir Wonokromo 354-356 guna mengikuti berbagai lomba dalam rangka memperingat Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2017.

 

“Ada beberapa lomba yang diadakan, seperti puisi, menari, menyanyi sampai lomba pantomim”, tutur Damaris Padmiasih Kasi Kesenian dan Olahraga Pendidikan.

 

Damaris mengungkapkan selain untuk mengasah dan mengembangkan bakat siswaa di bidang seni, puncak HAN kali ini juga sekaligus mencari bibit-bibit atlit berprestasi yang nantinya dikirim mewakili Surabaya dalam FLS2N, HAN, dan Porseni PLB.

 

Sementara itu, Kadispendik Ikhsan menerangkan daalam menghadapi era masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) seperti pada saat sekarang ini dapat meningkatkan kompetensinya sejak dini sehingga mampu mempersiapkan para siswa menjadi tidak hanya unggul di berbagai bidang namun juga harus mampu bersaing.

 

“Para siswa Surabaya dapat menjadi warga yang inovatif dan kreatif sehingga nantinya mampu bersaing ditengah-tengah era globlalisasi yang berkembang kian pesat. Kami ingin nantinya para siswa dapat menjadi warga kelas dunia dan mampu menjadi tuan dan nyonya di kotanya sendiri”.

 

Mantan Kepala Bapemas dan KB Kota Surabaaya tersebut berujar bahwa pengembangan bakat dan kemampuan para siswa tidak hanya dikembangkan pada bidang akademik saja, namun pengembangan di bidang non akademik juga menjadi sebuah perhatian tersendiri guna mewadahi kemampuan anak di berbagai bidang. (Humas Dispendik Surabaya)

Subcategories

Ini adalah berita dari Sekretariat Dinas Pendidikan