Potensi dan prestasi pelajar Surabaya di berbagai bidang tidak perlu diragukan lagi, hal tersebut ditunjukkan oleh enam pelajar Surabaya yakni Vito Egi Nandriansyah (SMPN 3), Asiyah Hana Romeli (SMPN 1), Gardana Wong Alit (SDN Kaliasin 1), Liliani Chandranata (SMP Santa Maria), Pasha Rizky Dwantara (SD SAIM), serta Ammaara Dyra Nafisa (SDI Darut Taqwa).

 

Mereka adalah para juara pelajar pelopor 2016 yang akan mewaikili Surabaya dalam seleksi anugerah Tunas Muda Pemimpin Indonesia (TMPI) 2017 yang diselenggarakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada 10 Juni mendatang.

 

“Melalui gerakan mentor teman belum pernah terpikir untuk menjadi juara pada seleksi pelajar pelopor 2016 lalu”, tutur Liliani Chandranata, siang tadi Kamis (18/05).

 

Liliani mengatakan gerakan mentor teman yang ia gagas berawal atas banyaknya anak Surabaya yang membutuhkan bimbingan akademis dalam meningkatkan prestasi. Menurutnya, komunitas mentor teman setiap minggu mengajak belajar para siswa yang membutuhkan bimbingan belajar bersama, diskusi serta membahas pelajaran sekolah.

 

“Para mentor berasa dari siswa-siswa pandai yang memiliki kepedulian terhadap teman lainnya”.

 

Gardana Wong Alit siswa asal SDN Kaliasin I menceritakan kisahnya tentang kepeloporannya di bidang lingkungan hidup terhadap gerakan menanam sirih. Ia mengajak siswa sebayanya untuk membudidayakan sirih melalui cara stage, cangkok, menunduk, dan stage air, tidak hanya itu Gardana juga turut mensosialisasikan ke masyarakat melalui media sosial.

 

“Selain dapat mengobati penyakit kanker, sirih dapat mengiobati iritasi dan batuk”.

 

Sementara itu, Sekretaris Dispendik Aston Tambunan mengungkapkan prestasi anak Surabaya di bidang kepeloporan atau yang lebih dikenal di tingkat pusat dengan TMPI patut untuk diapresiasi bersama, menurutnya tahun lalu (2016,red) dua siswa Surabaya dinobatkan sebagai TMPI. Mereka ialah Angelia Wahyu Kartika Budiarti dari SMPN 3 dan Wilson Tirta dari SMP dari Gloria.

 

“Pemkot Surabaya akan terus mendorong para pelajar berprestasi di Surabaya untuk meraih kesuksesan”. (Humas Dispendik Surabaya)

Kesuksesan Surabaya dalam menyelenggarakan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) 100 persen sejak tahun 2016 serta peningkatan mutu dan kualitas pengelolaan pendidikan yang dilakukan secara berkelanjutan menarik bagi daerah lain untuk mengkaji dan mempelajari.

 

Siang tadi Kamis (18/05) Dinas Pendidikan Kota Surabaya menerima kunjungan dari DPRD Kab. Buol, Sulawesi Tengah. Rombongan diterima langsung oleh Sekretaris Dispendik Drs. Aston Tambunan, M. Si di ruang H.O.S Cokroaminoto.

 

“Kedatangan kami, selain untuk belajar mengenai UNBK juga terkait impelementasi UU No.23/2014”, tutur Yaser Butudoka ketua rombongan DPRD Kab. Buol.

 

Terkait UNBK, Aston menjelaskan ada beberapa metode yang disiapkan dalam mendukung keberhasilan UNBK 100 persen di Surabaya. Metodenya yakni pertama melakukan  klasifikasi sekolah yang mampu melaksanakan UNBK secara mandiri, klasifikasi antar sekolah dalam rumpun yayasan yang samaKlasifikasi antar sekolah dengan lokasi terdekat atau subrayon , kemudian alternatif terakhir yakni menyediakan testing center. 

 

“Dari UNBK tersebut kemudian kini kami kembangkan menjadi USBK dan USBN online”.

 

Aston menambahkan, untuk peralihan pengelolaan kewenangan SMA dan SMK berdasarkan UU No. 23 Tahun 2014 seluruh data-data telah diserahkan ke provinsi baik data kepegawaian maupun administrasi lainnya.

 

Mantan Sekretaris Inspektorat Kota Surabaya tersebut berujar Surabaya telah berhasil mengembangkan pendidikan gratis pada semua jenjang pendidikan. Pembiayaan pendidikan di Surabaya telah di-cover melalui anggaran pendidikan yang mencapai hampir 32 % dari APBD kota Surabaya.

 

 “Selain BOS dari pusat Surabaya juga memiliki BOPDA untuk kegiatan operasional sekolah”.

 

Bantuan pendidikan tersebut diwujudkan melalui pemberian BOPDA serta penyediaan sarana dan prasarana kebutuhan siswa yang memadai. Selain itu, peningkatan mutu guru juga menjadi perhatian tersendiri dari Pemkot Surabaya, mulai dari berbagai pelatihan, pengiriman guru ke luar negeri, beasiswa, hingga tunjangan kinerja telah menjadi salah satu program peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di Surabaya.

 

“BOPDA tidak hanya diperuntukkan bagi sekolah negeri saja, namun sekolah swasta dan madrasah juga bisa mengambilnya”.

 

 Besaran BOPDA yang  diberikan, yakni untuk siswa SD sebesar Rp. 29.000, /siswa/bulan serta siswa SMP Rp. 80.426-/siswa/bulan. Selain itu, guna memaksimalkan layanan kepada masyarakat serta pengelolaan pendidikan yang efektif dan efisien Dispendik telah mempergunakan sistem online hampir pada semua lini.

 

Tidak hanya itu, selama kurun waktu empat tahun Dispendik telah menghasilkan beragam inovasi pendidikan. Ada 21 inovasi program pendidikan melalui aplikasi online. Dua puluh satu  inovasi program pendidikan di Surabaya, diantaranya Profil Sekolah, Sistem Informasi Pengelolaan Keuangan Sekolah (SIPKS),  Seleksi Calon Kepala Sekolah, Jurnal Online, Surabaya Belajar, Multimedia Pembelajaran, Rapor Online, Try Out Online, PPDB Online, Sahabat Dispendik,  Klinik Kurikulum, Kenaikan Pangkat Online, Tantangan Membaca 2015, P2KGS, Profil LKP dan PKBM,  Aplikasi Gaji Online, JOSS (Jejaring Obrolan Siswa Surabaya), UNBK 100 persen,  perijinan online, US USBK Online, serta Rekomendasi Luar Kota Online. (Humas Dispendik Surabaya)

Sebanyak 36 psikolog yang berasal dari Asosiasi Psikologi Sekolah Indonesia (APSI) siap diterjunkan pada lima wilayah Surabaya guna memberikan layanan psikologi dalam bentuk pemeriksaan psikologis, konsultasi belajar, konseling dan terapi, serta pelatihan atau workshop kepada para pendidik.

 

“Sebelum mereka diterjunkan ke lapangan diperlukan dahulu perkenalan kepada para kepala sekolah untuk menyamakan persepsi”, ujar Ketua APSI Surabaya Amanto Prayudisiono, S. Psi. Psikolog ketika melakukan audensi bersama Dispendik Surabaya, sore tadi Rabu (17/05).

 

Amanto menjelaskan peran dan tanggungjawab sekolah dalam mendidik dan mencerdaskan generasi muda amatlah besar ditambah lagi dengan meningkatkan permasalahan anak akibat perkembangan zaman yang semakin pesat. Oleh sebab itu, dibutuhkan adanya penaganan yang tepat dengan mengintegrasikan praktisi psikolog dengan tenaga pendidik agar tercapai generasi muda yang sehat baik secara fisik maupun psikisnya.

 

Pada kesempatan ini, Amanto juga menerangkan APSI akan melakukan pemetaan sekolah sehingga jika terjadi sebuah permasalahan anak, sekolah dapat menghubungi para psikolog di kecamatan terdekat.

 

“Kami berharap sebelum tahun ajaran baru dimulai semua telah siap”.

 

Semantara itu, Kadispendik Surabaya Dr. Ikhsan, S. Psi, MM menyambut baik atas dukungan tenaga psikolog dalam membantu memberikan layanan dan perlindungan anak. Menurutnya, selama ini Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya telah berupaya dalam memberikan layanan dan perlindungan anak secara optimal melalui berbagai program mulai menggelar razia malam bersama OPD terkait sampai memberikan ekstrakurikuler konselor sebaya di sekolah. Selain itu Pemkot Surabaya juga telah miliki Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga).

 

Kehadiran Puspaga ini selaras dengan predikat Surabaya sebagai kota yang mengedepankan kesetaraan gender, anti kekerasan perempuan dan anak juga perdagangan manusia. Melalui Puspaga, penanganan masalah keluarga bisa lebih komprehensif. Menurutnya, selama ini jika ada masalah orangtua dengan anak, si anak yang selalu disalahkan dan mendapat julukan anak nakal. Padahal, keluarga punya andil dalam membentuk kepribadian anak. 

 

“Anak Surabaya harus berkualitas agar tidak menjadi beban pembangunan serta diperlukan koordinasi dan kemitraan antar pemangku kepentingan terkait penmenuhan hak-hak anak harus diperkuat agar terintegrasi, holistic dan berkelanjutan,”. (Humas Dispendik Surabaya)

Subcategories

Ini adalah berita dari Sekretariat Dinas Pendidikan