Asesmen Nasional Jangan Dimaknai sebagai Pengganti Ujian Nasional

Home - Berita - Asesmen Nasional Jangan Dimaknai sebagai Pengganti Ujian Nasional

Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya melakukan sosialisasi Asesmen Nasional (AN) kepada kepala sekolah jenjang SD se-Kota Surabaya melalui Zoom Meeting, Selasa (05/01/2021). AN sendiri tidak bisa dimaknai sebagai pengganti Ujian Nasional (UN), karena hasilnya berupa potret secara komprehensif untuk melakukan evaluasi diri dan perencanaan perbaikan mutu pendidikan.

Dalam sambutannya, Kepala Bidang Sekolah Dasar Dispendik Kota Surabaya Muhammad Aries Hilmi menjelaskan, AN terdiri atas Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) literasi-numerasi, survei karakter, dan survei lingkungan. “Konsepnya, ada siswa kita, guru, dan wali murid yang ditunjuk secara acak untuk menjadi responden AN,” katanya.

Aries meminta kepada kepala sekolah agar AN jangan dimaknai sebagai pengganti UN. Sebab, AN untuk mengukur kinerja sekolah secar umum. Meskipun demikian, pihaknya tetap menyiapkan AN secara optimal. “Ini melibatkan semua masyarakat pendidikan. Sekolah tidak bisa memilih siswa atau wali murid mana yang akan menjadi responden. Pemilihan acak melalui Dapodik,” ungkapnya.

Sesuai dengan timeline dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), lanjut Aries, peserta AN adalah siswa jenjang kelas V SD. Pelaksanaan dilakukan selama dua hari pada bulan Agustus.

Pada hari pertama, akan ada tes literasi selama 75 menit dan survei karakter dengan durasi waktu selama 20 menit. Hari kedua meliputi tes numerasi selama 75 menit dan survei lingkungan belajar selama 20 menit.

Kepala Seksi Kurikulum Sekolah Dasar Dispendik Surabaya, Munaiyah menambahkan, AN merupakan kolaborasi mulai dari tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota. Sebelum AN digelar, telah ada simulasi sebanyak tiga kali.

“Pada simulasi pertama melibatkan tim teknis dan proktor. Kemudian pada simulasi kedua diikuti 15 orang guru dari sekolah-sekolah yang ditunjuk dan tim teknis di dinas sebagai proktor,” terangnya.

Dia melanjutkan, untuk simulasi ketiga pada bulan Desember kemarin, diikuti oleh siswa. Dari 15 sekolah yang dipilih kementerian, kemudian diminta mendaftarkan lima siswa untuk mengikuti simulasi.

“Pada saat simulasi dengan peserta siswa, guru yang semula mengikuti simulasi, mereka menjadi proktor. Saat simulasi ini, pelaksanaan daring atau online full. Aplikasi dari kementerian yang dibagikan untuk peserta asesmen, dan ada yang untuk tim proktor,” katanya. (Humas Dispendik Surabaya)