Login

Situs Resmi Dinas Pendidikan Kota Surabaya

Tingkatkan Minat Baca Lewat Kurikulum Wajib Baca

     Sebagai Kota Literasi yang telah dicanangkan beberapa waktu lalu yang bertepatan dengan hari pendidikan, Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Pendidikan (Dispendik) dan Badan Arsip dan Perpustakaan (Baprus) tak henti-hentinya meningkatkan minat baca kepada masyakat, terutama pada siswa.

     Melalui kurikulum wajib baca yang telah diterapkan di sekolah-sekolah, diharapkan dapat merangsang minat baca sejak dini. Tidak hanya itu, guna mendukung peningkatan minat baca di kalangan pelajar, Dispendik akan membuat sebuah program tantangan membaca kepada para siswa.

     Hal tersebut di sampaikan Kepala Dispendik Surabaya Dr. Ikhsan, S. Psi, MM dihadapan para undangan seminar nasional perpustakan untuk pendidik di STIE Perbanas, Sabtu (13/06)

     Menurut Ikhsan, dalam program tantangan membaca, para siswa yang berhasil menyelesaikan tentangan tersebut akan mendapatkan setifikat dari Walikota atau dari Kadispendik.

      Dalam program tantangan membaca ini, siswa yang mengikuti program tersebut harus dapat menyelesaikan tantangan membaca minimal 10 buku bacaan sastra dalam satu tahun serta membuat resumenya. "Referensi buku-bukunya sedang kami siapkan".

      Melalui program tantangan membaca ini, diharapkan para siswa dapat meningkatkan pengetahuannya di berbagai macam bidang, yang nantinya dapat menjadi bekal bagi masa depannya kelak. (Humas Dispendik Surabaya)

Tangani Permasalahan Anak, Ratusan Siswa Ikuti Sosialisasi Konselor Sebaya

     Jumat (15/06) ratusan siswa dari jenjang SMP dan SMA negeri/swasta ikuti kegiatan sosialisasi pelaksanaan konselor sebaya. Kegiatan tersebut merupakan hasil kerjasama antara BKKBN pusat, BKKBN provinsi, dan pemerintah kota Surabaya.

     Dalam kesempatan ini, Kepala BKKBN Prof. Dr. Fasli Jalal mengungkapkan untuk mencapai sebuah keberhasilan diperlukan sebuah perisapan yang matang. Untuk itu sejak dini para siswa harus berupaya menghindarkan diri dari hal-hal yang berpengaruh negatif serta terus giat belajar guna mencapai cita-cita.

     "Saat ini banyak beasiswa yang telah disediakan pemerintah, untuk itu para siswa harus dapat menjaga diri dan jangan sampai terpengaruh oleh hal-hal negatif", tuturnya.

      Terkait perkembangan reproduksi, Fasli menerangkan idealnya seorang pria menikah yakni minimal umur 25 tahun sedangkan untuk wanita 21 tahun. Hal tersebut disebabkan usia dibawah itu, nantinya banyak mengalami ganguan reproduksi karena belum siapnya mental serta kondisi tubuh yang masih belum siap juga. Melalui program generasi berenca (genre) diharapkan para siswa dapat menyiapkan betul-betul masa depannya nanti. 

      Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya Dr. Ikhsan, S. Psi, MM yang turut memberikan pengarahan mengungkapkan nantinya akan ada ekstrakurikuler konselor sebaya di awal tahun ajaran baru yang bertujuan sebagai bentuk penanganan-penanganan berbagai macam permasalahan anak di kota Surabaya.

     Dalam ekstrakurikuler konselor sebaya, para siswa akan di ajarkan tentang materi-materi yang berkaitan dengan perkembangan manusia, kesadaran dan identitas diri, anak dan konvensi hak anak, keterampilan hubungan antar individu, kreatifitas anak masa kini, budaya masyarakat, keteramapilan dan mengatasi masalah, menjaga diri tetap sehat, persiapan perkembangan karir, dan menjadi kader perubahan. "Saat ini modul-modulnya tengah persiapkan".

      Menambah kemeriahan suasana, Kadispendik Ikhsan mengajak ratusan pelajar ini, untuk melantunkan mars dan yel-yel orpes secara bersama-sama. (Humas Dispendik Surabaya)

Additional information