Login

Situs Resmi Dinas Pendidikan Kota Surabaya

Peringati GSP dengan Menanam Pohon di Sekolah

Saat ini, permasalahan lingkungan hidup sudah sangat kompleks. Permasalahan tidak terbatas pada kondisi sosialnya, namun juga pada komponen lingkungan lainnya. Mulai dari ketersedian air bersih,sanitasi, polusi, kemacetan, sampai kepada berkurangnya ruang terbuka hijau, oleh karena itu diperlukan adanya upaya penghijauan dengan gerakan penanaman1000 pohon, 10.000 pohon, dan sejuta pohon. 


Gerakan ini sangat mudah untuk dilakukan, cukup dengan menanam 1 atau 2 pohon sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Kita bisa menanam di halaman rumah, pekarangan belakang rumah atau di pinggir jalan. Apabila kita tidak mempunyai halaman, bertanam di pot juga boleh, yang penting bisa untuk mengurangi emisi gas karbon.


 Penghijauan juga merupakan salah satu usaha penataaan lingkungan dengan menggunakan tanaman sebagai materi pokoknya. Tumbuhan dan air akan dapat mengurangi panas melalui evapotranspirasi yang di lakukan.

Udara alami yang bersih sering di kotori oleh debu, baik yang dihasilkan karena kegiatan alami, ataupun kegiatan manusia. Adanya penghijauan, membuat partikel padat yang tersuspensi pada lapisan biosfer bumi dapat di bersihkan oleh tajuk pohon melalui proses terapan dan serapan.


Dengan adanya mekanisme ini, jumlah debu yang melayang-layang di udara akan menurun. Partikel yang melayang-layang diudara akan terjerap (menempel) pada permukaan daun, dan sebagian lagi akan terserap masuk kedalam ruang stomata daun. Ada juga partikel yang menempel pada kulit pohon, cabang dan ranting.


Menyikapi hal tersebut, Senin (12/01), tim kader lingkungn SMP PGRI 6 (Spegrinam) Surabaya memperingati Hari Gerakan Penanaman Sejuta Pohon ( GSP ) dengan melakukan penanaman pohon di sekolah. Tidak hanya melakukan penanaman pohon kader lingkungan Spegrinam juga melakuan perawatan kepada tanaman yang sudah ada.


Kepala Spegrinam Banu Atmoko , S.Pd mengungkapkan tujuan penanaman ini selain sebagai memperingati Hari Gerakan Penanaman Sejuta Pohon, juga karena pohon memiliki beberapa bentuk tajuk yang khas, sehingga menciptakan keindahan tersendiri. Oleh karena itu, apabila di susun secara berkelompok dengan jenis yang sama pada masing-masing kelompok dapat menciptakan keindahan atau suasana yang nyaman dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. (Humas Dispendik Surabaya)

 

Akreditasi dan Pendataan Online Upaya Peningkatan PKBM Surabaya

Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya terus melakukan upaya dalam rangka peningkatan mutu dan kualitas pendidikan, salah satunya yakni dengan melakukan akreditasi sekaligus sosialisasi pendataan online kepada pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang tersebar di  Surabaya.


 Kepala Bidang Kesenian, Olahraga dan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Drs.  Dakah Wahyudi M. Pd, menyampaikan semua PKBM di Surabaya diharapkan mengajukan permohonan akreditasi tahun ini. Dengan demikian, mereka nantinya mempunyai status akreditasi. Ini bisa menjadi panduan bagi masyarakat untuk memilih lembaga pendidikan yang kompeten.


 ”Tahun ini, setidaknya seluruh PKBM dapat mengajukan permohonan akreditasi,” ungkapnya.


Seluruh penyelenggara Pusat Kegiatan Berbasis Masyarakat (PKBM) wajib mengajukan akreditasi tahun ini. Akreditasi ini erat kaitannya dengan status lembaga dan kualitasnya. Masyarakatpun wajib tahu kualitas lembaga yang menjadi pilihannya.


Ketua Forum Asesor Badan Akreditasi Nasional (BAN) Pendidikan Non Formal (PNF) Jatim Muhammad Aliwafa mengatakan, tahun-tahun sebelumnya akreditasi tidak ada pemringkatan. Sekarang ini jenjang akreditasi ada A, B, C, D, dan tidak terakreditasi. ”Semakin banyak nilai indikator yang dipenuhi, nilai akreditasinya semakin baik,” ujarnya saat sosialisasi tentang akreditasi PKBM di Aula dispendik, kemarin (12/1).


Dia menjelaskan, syarat akreditasi memang cukup berat. Ada 60 butir syarat akreditasi yang harus dipenuhi oleh lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD), 72 butir untuk PKBM, dan 37 untuk lembaga pelatihan dan kursus (LKP).


Namun sejatinya, proses permohonan untuk pengajuan akreditasi tidak ribet. Prosesnya, mengajukan berkas persyaratan, permohonan disitasi, dan disitasi. Dia mengingatkan agar PKBM yang mendapat disitasi dari tim asesor tak perlu memberi uang saku alias amplop. ”Gak perlu, ini prosesnya panjang.,” tegasnya.


Beberapa syarat umum yang harus dipenuhi PKBM dalam pengajuan akreditasi antara lain, memiliki izin penyelenggaraan dari dispendik, mengajukan akta pendirian dari notaris, telah beroperasi minimal dua tahun, memiliki nomor pokok satuan PAUD (NPSP) bagi PAUD, mempunyai nomor induk lembaga kursus dan pelatihan bagi LKP, dan nomor induk lembaga bagi PKBM. Juga menggunakan prasarana pendukung dengan dokumen yang sah (sertifikat kepemilikan tanah dan bangunan dan surat perjanjian pemanfaatan prasarana).


Sementara itu, Galuh Tri staf IT Dispendik menerangkan pendataan online ini bertujuan sebagai pusat informasi kepada masyarakat tentang PKBM di Surabaya. Informasi tersebut meliputi nama lembaga, alamat lembaga, jadwal dan waktu belajar, masa berlaku ijin operasional hingga nantinya status akreditasi.


“Pendataan secara online memiliki banyak manfaat yang dapat diketahui masyarakat dalam memilih PKBM, mereka dapat langsung mengakses dispendik.surabaya.go.id untuk memperoleh informasi lebih lanjut”.


Terkait PKBM, praktisi pendidikan Martadi menjelaskan berdasarkan Permendikbud no.129 Tahun 2014 Sekolah Rumah terbagi menjadi tiga bagian, yakni Sekolah Rumah Tunggal, Majemuk dan Komunitas.


Sekolah Rumah Komunitas wajib memperoleh izin pendirian satuan pendidikan nonformal sebagai kelompok belajar dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (Humas Dispendik Surabaya)

Additional information