Tadi siang (27/08) bertempat di Wisma Sejahtera Ketintang, Direktorat P2TK Dikmen bekerjasama dengan MKKS SMA Negeri se-Surabaya selenggarakan Bimtek Program Percontohan Penataan dan Pemerataan Guru PNS SMA. Acara yang melibatkan 60 peserta berasal dari para kepala dan guru SMA negeri dihadiri langsung oleh Kadispendik Surabaya Dr. Ikhsan, S. Psi, MM.

 

Pada kesempatan ini Ikhsan menyampaikan bahwa dalam rangka meningkatkan profesionalitas guru serta menjadikan pendidikan Surabaya menjadi lebih baik Dispendik akan selenggarakan program Pemetaan dan Penguatan Komepetensi Guru Surabaya (P2KGS).

 

 P2KGS ini bertujuan untuk memetakan serta memberikan penguatan agar para guru di Surabaya menjadi lebih professional dalam memberikan pendidikan kepada para siswa. Langkah awal yang dilakukan dengan memetakan kemampuan guru. Pemetaan dimulai dari penilaian diri sendiri (self assesment) mengenai mata pelajaran (mapel) yang diampu oleh masing-masing guru. Setelah itu, Dispendik Surabaya menyiapkan soal untuk dikerjakan guru. Hasil pengerjaan soal digunakan sebagai penguat penilaian diri sendiri.

 

P2KGS bukanlah sebuah tes seperti UKG namun lebih tepatnya menyiapkan para guru menjadi tenaga pendidik yang betul-betul professional di bidangnya. Ikhsan berharap agar semua guru menilai diri sendiri dengan jujur, karena jika terdapat kekurangan maka akan diberi sebuah penguatan dengan melakukan pendampingan yang tepat sasaran.

 

P2KGS diawali dengan penilaian diri sendiri dan pengerjaan soal, hasilnya digunakan sebagai bahan evaluasi dan dianalisa. Melalui hasil analisa, Dispendik Surabaya bakal mengeluarkan rekomendasi penguatan kompetensi bagi guru yang mempunyai kekurangan di berbagai aspek. Peningkatan kompetensi tiap-tiap guru sesuai dengan titik lemahnya tapi tetap berlandaskan mapel yang diampu.

 

Mantan Kepala Bapemas KB Kota Surabaya ini menegaskan, P2KGS dilakukan secara online. Namun, pelatihan diberikan dengan tatap muka langsung bersama narasumber berkompeten yang ditunjuk Dispendik Surabaya.

 

 "Pelatihan model in-on, in-on. In pertama berupa pelatihan, kemudian on-nya mempraktikkan hasil pelatihan di sekolah. In kedua berupa pelatihan kembali untuk menutupi kekurangan saat praktik sesuai evaluasi, on terakhir adalah praktik kembali," tandasnya.

 

 Materi dalam pelatihan model in 1 yakni mencakup kebijakan umum serta tentang displin  PNS melalui PP 53 kemudian pre-test kemudian dilanjutkan dengan model in 2 dengan materi wawasan kebangsaan dan budi pekerti. Sedangkan pada materi in 3 mencakup kurikulum anti narkoba dan wawasan lingkungan, lalu dilanjutkan dengan penyusunan perangkat pembelajaran dan PTK (jurnal online). Pada in yang terakhir yakni in 4 akan dilakukan pos-test sekaligus unjuk kerja kompetensi guru. 

 

“Selama mengikuti pelatihan selama 32 Jam para guru akan didampingi  para dosen dari perguruan tinggi. Para guru juga mendapatkan pembekalan dari mereka”. (Humas Dispendik Surabaya)

Pemerintah Kota Surabaya menggelar Pertunjukkan Rakyat (Pertura) di lapangan Universitas PGRI Adi Buana, Kamis (27/8). Pertura yang diadakan kali ini merupakan upaya jemput bola pemerintah dalam memberikan pelayanan prima bagi masyaarakat. Selain masyarakat sekitar, stan UKM serta pelayanan program dari berbagai SKPD turut hadir meramaikan acara tersebut.

 

Tomi Ardianto, Camat Wonokromo dalam sambutannya berharap agar dengan diadakannya acara Pertura, masyarakat sekitar dapat memanfaatkan seluruh pelayanan yang telah disediakan oleh Pemerintah Kota. Selain itu, dalam kesempatan yang sama, masyarakat juga dapat menyampaikan aspirasinya terkait dengan penyusunan perencanaan pembangunan kota Surabaya.

 

Selanjutnya, Walikota Surabaya, Tri Rismaharini dalam sambutannya mengatakan bahwa alasan diadakannya pertura kali ini adalah sebagai bentuk sosialisai Pemerintah Kota Surabaya terkait dengan pelayanan kepada masyarakat. Namun kegiatan ini juga tidak hanya sekedar pelayanan publik namun juga merupakan cara untuk menangkap aspirasi masyarakat yang belum bisa diakomodir oleh pemerintah. 

 

Selanjutnya Walikota Surabaya juga berpesan kepada para orang tua untuk berhati-hati dan teliti dalam mengawasi anak-anaknya. Terkait hal tersebut Pemerintah Kota Surabaya melalui BNN juga telah melakukan sosialisasi kepada generasi muda mengenai bahaya narkoba. 

 

Ia menambahkan bahwa ancaman besar yang menanti saat ini berada tidak hanya pada anak-anak di tingkat SMP dan SMA, namun juga terjadi pada anak-anak usia 9 hingga 14 tahun.

 

Sehingga dibutuhkan pengamanan dan sosialisasi terkait bahaya narkoba. Karena sekali anak-anak terjerat narkoba, maka akan sangat sulit untuk melepaskannya. Apabila terjadi kecanduan dan anak-anak tidak bisa mendapatkan apa yang dibutuhkannya, maka akan berakibat pada tindak kriminal dan berdampak pada kenakalan remaja.

 

Walikota Surabaya juga mengingatkan bahwa pada akhir tahun 2015, Indonesia akan memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Pada era tersebut, seluruh SDM dari seluruh dunia dapat masuk ke Indonesia dengan mudah baik untuk bekerja maupun membuka usaha. Apabila tidak cermat dan berhati-hati, secara tidak langsung, para pendatang dari luar negeri dapat mengambil alih lahan usaha penduduk. Untuk mempersiapkan hal tersebut Pemerintah Kota Surabaya telah menyediakan pelayanan gratis untuk perijinan hak merk, hak paten, termasuk juga verifikasi usaha.

 

 

Walikota melanjutkan pentingnya pengurusan perijinan dan merk adalah agar usaha yang telah dilakukan masyarakat tidak dapat diambil alih oleh para pendatang. Karena apabila hal tersebut terjadi secara terus-menerus, resiko yang didapatkan adalah sama saja dengan terjajah kembali. Bedanya penjajahan di era saat ini terfokus pada bidang eonomi. Karena itu kita tidak boleh jadi penonton di kota sendiri. (Humas Dispendik Surabaya)

Upaya penanggulangan narkoba merupakan tanggungjawab yang besar dalam menjauhkan para generasi muda dari bahaya narkoba, hal tersebut tentunya tidak hanya tertumpu pada pemerintah ataupun BNN namun juga melibatkan kepedulian semua lapisan masyarakat. Mulai dari tokoh masyarakat, ulama, sampai para pendidik menjadi sebuah kesatuan yang erat dalam membentengi bahaya narkoba.

 

Keberhasilan pencegahan narkoba di kalangan dunia pendidikan juga didukung dengan adanya  program P4GN. Berbagai aksi P4GN, mulai dari pembuatan kurikulum anti narkoba oleh para guru sampai dengan  kegaitan-kegiatan siswa menjadi kader P4GN merupakan sebuah sinergitas bersama dalam memerangi narkoba.

 

Berbagai aksi penampilan siswa, mulai dari pertunjukkan gamelan jawa, paduan suara, pantomim, cheerleaders, sampai pada teaterikal  mewarnai punca aksi sekolah bersih narkoba 2015 yang berlangsung tadi (27/08) di Gedung Wanita Surabaya. Kegiatan tersebut merupakan kerjasama antara Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam rangka penanggulangan bahaya penyalahgunaan narkoba.

 

Kepala BNN Kota Surabaya AKBP Suparti menuturkan program sekolah bersih narkoba telah berlangsung selama enam bulan dan diikuti oleh 100 SMP se-Surabaya. Dari 100 sekolah tersebut kemudian disaring menjadi 50 sekolah, 50 sekolah tersebut kemudian diseleksi kembali sampai terdapat 20 sekolah yang benar-benar telah memiliki kriteria para juri.

 

“Dalam puncak aksi sekolah bersih narkoba akan diumumkan enam sekolah yang menjadi pemenang, kemudian juara pertama akan mewakili Surabaya dalam sekolah bersih narkoba tingkat provinsi”.

 

Suparti menambahkan, dewasa ini penyebaran narkoba tidak hanya pada kalangan orang dewasa saja, namun sudah merambah pada siswa sekolah. Oleh karena itu, salah satu syarat sekolah bersih narkoba diantarnya sekolah mampu melakukan identifikasi tentang bahaya atau efek narkoba di lingkungan siswa. Tidak hanya itu, sekolah juga harus menyediakan sarana rehabilitasi yang layak bagi para siswa yang kedapatan mengkonsumsi narkoba.

 

Keenam pemenang aksi sekolah bersih narkoba  2015 diraih oleh SMPN 21 sebagai juara harapan III, SMPN 6 juara harapan II, SMPN 28 juara harapan I, SMPN 23 juara III, SMPN 26 juara II, dan juara pertama  diaraih oleh SMPN 3, sedangkan juara favorit disabet oleh SMPN 16.

 

Sementara itu, Kepala SMPN 3 Budi Hartono S, Pd mengungkapkan dalam mengikuti lomba sekolah bersih narkoba, pihaknya telah menyiapkan zona anti narkoba serta design pembelajaran yang terintegrasi dalam berbagai mata pelajaran sampai pada kegiatan pembinaan anti narkoba pada seluruh komponen sekolah, mulai dari guru, siswa sampai penjaga sekolah.

 

Puncak aksi sekolah bersih narkoba 2015 turut dihardiri Kadispendik Surabaya Dr. Ikhsan, S. Psi, MM, Kepala Bapemas dan KB Nanis Chairani, perwakilan BNN Provinsi, perwakilan Polrestabes, dan para kepala SMP negeri. (Humas Dispendik Surabaya) 

 

Subcategories

Ini adalah berita dari Sekretariat Dinas Pendidikan