Login

Situs Resmi Dinas Pendidikan Kota Surabaya

Integrasikan Pendidikan Lingkungan Hidup ke dalam Setiap Mata Pelajaran

Selama dua hari, Senin dan Selasa (15-16/12) di Ruang Pertemuan Lt.2 SMPN 23 Surabaya para guru mengikuti arahan tentang bagaimana mengintegrasikan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) ke dalam setiap mata pelajaran dari Mochamad Zamroni, Presiden Tunas Hijau Indonesia. Dengan semangat tinggi para guru berdiskusi untuk menelaah RPP yang telah dibuatnya untuk diintegrasikan dengan Pendidikan Lingkungan Hidup.


Jika menyimak kembali pada deklarasi UNESCO, Deklarasi Tbilisi, 1977’bahwa Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) adalah suatu proses untuk membangun populasi manusia di dunia yang sadar dan peduli terhadap lingkungan total (keseluruhan) dengan segala masalah yang berkaitan dengannya, serta masyarakat yang memiliki pengetahuan, ketrampilan, sikap, tingkah laku, motivasi dan komitmen untuk bekerja sama, baik secara individu maupun secara kolektif untuk dapat memecahkan berbagai masalah lingkungan saat ini, serta mencegah timbulnya masalah baru.


Dalam paparannya, Zamroni menuturkan bahwa pendidikan lingkungan cakupannnya meliputi isu-isu yang berkembang yang menyangkut isu global dan isu lokal. Dalam belajar perspektif global menyadarkan pada kita bahwa tanggung jawab untuk memelihara bumi dan isinya ini merupakan tugas bersama. Segala masalah yang ada di sekitar kita seperti penipisan lapisan ozon, pemanasan global, penggundulan hutan, polusi, semakin langkanya spesies tanaman maupun hewan, krisis energi dan sebagainya. Prof. Lester R. Browen seorang peneliti yang sangat prihatin terhadap permasalahan lingkungan hidup dunia menyatakan bahwa pengeksplotasian alam dengan memakai bantuan teknologi terutama industri sudah saatnya untuk dihentikan dan mereka harus membayar hasil yang diperoleh, imbuhnya.


Masih menurut sosok yang tidak asing bagi para siswa Surabaya dengan program Eco School dan Eco-Preneur-nya, bahwa isu lokal adalah hal-hal yang berkait dengan segala permasalahan yang terjadi di sekitar kita. Misalnya, kekeringan; kekeringan adalah kekurangan air yang terjadi akibat sumber air tidak dapat menyediakan kebutuhan air bagi manusia dan makhluk hidup yang lainnya.


Dampak yang ditimbulkan antara lain menyebabkan ganggungan kesehatan, keterancaman pangan. Banjir, merupakan fenomena alam ketika sungai tidak dapat menampung limpahan air hujan karena proses influasi mengalami penurunan. Itu semua dapat terjadi karena hijauan penahan air larian berkurang. Adapun dampaknya yaitu ganggungan kesehatan, penyakit kulit, aktivitas manusia terhambat, penurunan produktifitas pangan. Masih banyak permasalahan lain, misalnya tanah lonsor, erosi pantai, instrusi air laut, dan lain-lain., tambah pria yang akrab disapa dengan mas Roni.


PLH dikategorikan menjadi dua macam, yaitu PLH formal dan PLH nonformal. PLH formal yaitu kegiatan pendidikan di bidang lingkungan hidup yang diselenggarakan melalui sekolah yang terdiri atas pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang dilakukan secara terstruktur dengan menggunakan metode pendekatan kurikulum yang terintegrasi maupun kurikulum yang monolitik atau tersendiri. Sedangkan PLH non-formal adalah kegiatan pendidikan di bidang lingkungan hidup yang dilakukan di luar sekolah yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang, misalnya AMDAL, ISO, dan PPNS. Untuk menyikapi hal itu, Kementerian Lingkungan Hidup sejak tahun 2006 mengembangkan Program Sekolah Adiwiyata.


Sedangkan Dra. Elly Dwi Pudjiastuti, M.Pd., Kepala SMPN 23, dalam sambutannya menambahkan bahwa Program Adiwiyata adalah salah satu program Kementerian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Dalam program ini diharapkan setiap warga sekolah ikut terlibat dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat serta menghindari dampak lingkungan yang negatif.


Dalam pelaksanaannya Kementerian Lingkungan Hidup bekerjasama dengan para stakeholders, menggulirkan Program Adiwiyata ini dengan harapan dapat mengajak warga sekolah melaksanakan proses belajar mengajar materi lingkungan hidup dan turut berpartisipasi melestarikan serta menjaga lingkungan hidup di sekolah dan sekitarnya melalui setiap mata pelajaran. Untuk mewujudkan itu, dimulailah dengan mengintegrasikan PLH ke dalam RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) pada setiap mata pelajaran, kemudian guru akan mengimplementasikan dalam pembelajarannya, tambah Elly. (Humas Dispendik Surabaya)

 

 

GOPTKI Tarakan Kunjungi Dispendik

     Keberhasilan Surabaya dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 dilapangan khususnya bagi jenjang taman kanak-kanak (TK), menarik perhatian daerah lain untuk lebh dalam mengkaji.

      Tadi pagi (16/12), Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya menerima kunjungan dari Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-Kanak Indonesia (GOPTKI) Kota Tarakan.

     Rombongan yang berjumlah 15 orang tersebut diterima langsung oleh Sekretaris Dispendik Drs. Aston Tambunan, M. Si didampingi Kasi PAUDNI Hari Joko dan Kasi Kesenian dan Olahraga Damaris Padmiasih.

    Mustika, S. Pd salah seorang perwakilan rombongan dari GOPTKI Tarakan mengungkapkan kunjungan kali ini bertujuan untuk melakukan orientasi lapangan terhadap penerapan kurikulum 2013 pada jenjang TK di Surabaya.

     Pihaknya bersama rombongan akan melakukan orientasi lapangan (OL) di beberapa TK, salah satunya TK Negeri Pembina, TK Islam Al-Al Azhar, serta TK. Katolik Surabaya. Dalam kegiatan OL di lapangan GOPTKI akan melihat secara langsung penerapan kurikulum 2013 bagi TK.

       Sementara itu, Aston Tambunan mengungkapkan penerapan kurikulum 2013 secara serentak telah diterpakan sekolah-sekolah sejak awal tahun 2013 lalu. " Pelatihan dan pendampingan secara terus dilakukan, untuk meningkatkan kompetensi guru surabaya". (Humas Dispendik Surabaya)

 

Additional information