Memandang setiap anak yang dilahirkan adalah JUARA. Bagaimana pun kondisi mereka adalah juara. Kemampuan anak kita seluas Samudera. Sukses tidak harus kognitif. Keberanian tampil adalah kemampuan psikomotorik anak kita. Pemaksaan Kognitif = Kemunduran Akhlak dan Kreativitas.

 

Setiap Anak Cerdas dengan Multiple Intelligence. Kecerdasan adalah kebiasaan, Perilaku yang diulang-ulang.” Kembangkan Kemampuan dan kubur ketidakmampuan anak” Itulah cuplikan kalimat yang dikembangkan oleh Tim Next Edu. Untuk wilayah UPTD BPS Surabaya V, Kegiatan yang dimotori oleh Marzuki, Verra, Belgis dan Puji di fasilitasi Kepala UPTD BPS Surabaya V Drs. Sudirman, M.Si dengan didukung oleh K3S dan KS di wilayah ini. Kegiatan berlangsung dalam dua gelombang mulai tanggal 19 s/d  22 September 2016. Acara ini diikuti lebih kurang 90 guru.

 

Pada In hari ke-2, Peserta diberikan materi TIPS PRAKTIS MENGAJAR K-13 DI SEKOLAH DASAR.  Ada 3 alat Bantu yaitu Buku Guru (Silabus, KD, Aktivitas Pembelaran, dan Penilaian), Buku Siswa (Lembar Kerja), dan Kreativitas guru. Kegiatan yang menarik adalah saat guru-guru mempresentasikan Hasil Kerja di depan peserta lainnya dan peserta lainnya menanggapinya.

 

Kreativitas guru dalam kegiatan ini dikembangkan oleh Tim agar nantinya ketika tampil mengajar di sekolah (On), guru tidak canggung dan mau serta mampu mengembangkan.

 

 

Guru-guru akan selalu semangat apabila hasil yang didapat saat pelatihan (In), dimonitor kembali dalam pendampingan (On). Pengembangan K-13 harus selalu ada yang baru dan bermakna bagi guru dan siswa. Semoga kegiatan ini bermanfaat bagi dunia pendidikan.  (Humas Dispendik Surabaya)

Perkembangan dunia teknologi yang semakin pesat terutama makin maraknya permainan (game) online yang sering dimainkan oleh anak-anak acapkali memiliki dampak kurang baik terhadap psikologis anak. Namun, membatasi anak-anak dalam bermain game juga akan memberikan dampak psikologis tersendiri pada anak. Untuk itu, pengawasan orang tua,lingkungan,sekolah dan pemerintah diharapkan bisa membatasi permainan anak ini.

                                        

Pada kesempatan ini, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Ikhsan mengungkapkan penggunaan handphone paling sering dijadikan untuk media bermain. Untuk itu sejak lama di tingkat SD dan SMP dilarang membawa handphone.

 

“Lingkungan sekolah bisa terganggu karena belum paham digunakan apa handphonenya. Anak saat sudah memegang gadget pasti tidak bisa mengontrol kebutuhannya akan gadget, jadi orang tua harus ikut berperan di dalamnya,”jelasnya disela dialog yang merupakan rangkaian Lustrum Fakultas Teknik ke-Vl Universitas Surabaya (Ubaya).

 

, Marsemnus Ferdinand Suciadi ,penggiat game sekaligus dosen Jurusan Teknik informatika Fakultas Teknik Ubaya menjelaskan pentingnya rating game untuk diperhatikan orangvtua. Akses untuk melihat rating game ini juga bisa dilihat di aplikasi sebelum mengunduh game yang dipilih.

 

"Kebanyakan orang memukul rata dan beranggapan bahwa semua game itu berbahaya bagi anak, padahal itu tidak benar. Anak boleh bermain game, asalkan contentnya cocok.", ungkapnya.

 

Konten dalam game ini bisa dilihat bersamaat dengan rate. Ia merinci, rate yang saat ini ada diantaranya. Early Childhood untuk untuk anak usia dini, everyone untuk semua umur, Everyone 10+ untuk usia 10 tahun ke atas.

 

Sementara itu, dalam dialog “Melek Game”, Kepala Bidang Pos dan Telekomunikasi Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Surabaya, Adang Kurniawan menegaskan rating game ini bertujuan sebagai himbauan, bukan larangan untuk peredaran sebuah judul game.

 

Dengan sistem rating tersebut, orangtua dapat melihat apakah konten yang ada cocok untuk dikonsumsi atau tidak bagi anak. Akan tetapi, rating game tersebut hanya berupa acuan saja alias tidak mengikat sama sekali. Rating tersebut hanya bertugas sebagai peringatan saja.

 

“Orangtua tetap bebas membelikan game dengan rating apapun untuk sang anak. Tentunya, jika orangtua sudah memahami tanggung jawab dan konsekuensi di balik keputusannya”. (Humas Dispendik Surabaya)

 

 

Suasana taman flora atau yang lebih kita kenal dengan kebun bibit, Sabtu pagi (24/09) tidak nampak seperti biasanya, ratusan pelajar tingkat SD dari berbagai sekolah berkumpul dengan mengenakan seragam pramuka lengkap dengan atributnya. Mereka tengah mengikuti kegiatan Pesta Siaga Ceria yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Kepala Sekolah Inklusi (FKKSI) Kota Surabaya.

 

Tepat pukul 08.20 Pesta Siaga Ceria dibuka secara resmi oleh Kadispendik Surabaya Dr. Ikhsan, S. Psi, MM. Dalam sambutannya, Ikhsan berpesan bahwa melalui kegiatan seperti diharapkan mampu mengasah keterampilan siswa, sehingga para siswa mendapatkan bekal pengetahuan baru dalam menumbuhkan karakter lewat pramuka.

 

“Ada beberapa pertandingan yang dilombakan, namun bersifat fun dan anak dapat merasa senang dengan kegiatan yang dilakukannya”.

 

Mantan Kepala Bapemas dan KB Kota Surabaya tersebut menambahkan kegiatan pramuka merupakan sebuah kegiatan non akademis yang dianggap mampu dalam membentuk karakter siswa, sehingga nantina mereka memiliki kemandirian dan mental yang siap menghadapi tantangan perubahan zaman.

 

Sementera itu, Kak Sartono panitia penyelenggara kegiatan Pesta Siaga Ceria menuturkan, selain melibatkan 51 SDN Inklusi se-Surabaya, peserta juga terbagi menjadi 102 regu. Menurutnya disini mereka akan mengikuti lomba seperti menari untuk downsyndrom serta autis, sampai kegiatan menulis cerpen.

 

“Kami harap pelakasnaan yang berlangsung sampai siang hari dapat berjalan dengan lancar”.

 

Sartono menambahkan Pesta Siaga adalah wahana untuk menempa diri generasi muda bangsa Indonesia sejak dini, sehingga diharapkan akan lahir patriot-patriot bangsa yang handal dan berkarakter baik.

 

“Dalam Pesta Siaga ini, terdapat banyak sekali manfaat yang bisa kita ambil, seperti dapat membangkitkan semangat untuk berpacu meraih prestasi, cinta lingkungan, disiplin dan bertanggungjawab serta mempererat tali persahabatan dan persaudaraan”.

 

Selain itu, kegiatan ini dinilainya sangat tepat untuk mengukur atau membandingkan sejauh mana keterampilan, wawasan dan pengetahuan kepramukaan yang telah dimiliki anak-anak pramuka siaga dari berbagai lomba yang diadakan. Di mana dalam setiap perlombaan tersebut mengandung makna kebersamaan, keterampilan, persaudaraan dan kepemimpinan. (Humas Dispendik Surabaya)

Subcategories

Ini adalah berita dari Sekretariat Dinas Pendidikan