Penanganan permasalahan anak secara komprehensif  guna mewujudkan Surabaya sebagai kota layak anak diwujudkan Pemkot Surabaya dengan berbagai program yang melibatkan berbagai SKPD. Tadi siang , Jumat (09/12) bertempat di ruang ATCS, Gedung Pemerintah Kota Surabaya melalui  Bagian Humas kota Surabaya menggelar media gathering dengan tema "Kegiatan Penanganan Anak yang Telah Dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Surabaya".

 

Nanis Chairani, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapemas) dan KB kota Surabaya menjelaskan, Bapemas tidak sendiri dalam penanganan anak. Bapemas bekerjasama dengan SKPD dan jajaran samping. Kecamatan memiliki Pusat Krisis Berbasis Masyarakat untuk melakukan penanganan awal. 

 

Nanis menuturkan, masyarakat dapat melaporkan ke Satgas perlindungan Perempuan dan Anak di Kelurahan. Sedangkan Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak di tingkat kota. Anak-anak juga dapat menyampaikan masalah mereka dan berkonsultasi melalui hotline 08113345303.

 

Eko Prasetyoningsih, Kabid Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan kota Surabaya menjelaskan, Dinas Pendidikan kota Surabaya memiliki banyak program untuk menghindarkan anak-anak dari permasalahan anak. Seperti sosialisasi bahaya narkoba, sosialisasi HIV, kesehatan alat reproduksi. Anak-anak dapat curhat dengan Konselor Sebaya, Pelajar Pelopor menjadi teladan bagi teman-temannya, kongres pelajar, sekolah kebangsaan, peneliti belia.

 

Eko menambahkan, Dinas Pendidikan kota Surabaya juga menggelar Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa, Pramuka, Duta Lalu-lintas, Sahabat Dispendik, Sekolah Aman, BK Sahabat Anak, ekstra kurikuler Konselor Sebaya, Kantin Kejujuran, Zona Integritas Sekolah, sweeping anak bolos sekolah, larangan penggunaan handphone di sekolah, tantangan membaca, Jaringan Obrolan Siswa Surabaya, dan kelas layanan khusus.

 

Sedangkan, Denny Ch, Satuan Polisi Pamong Praja kota Surabaya menjelaskan,  Satpol PP Surabaya melalui tim Odong-odong 24 jam secara shift melakukan penyisiran ke daerah rawan permasalahan anak. Satpol PP melakukan pendataan. Sedangkan tim Rembug melakukan upaya pencegahan salah satunya dengan penyisiran warnet dan pendataan yang dilakukan oleh Bapemas, Dinas Pendidikan, pihak sekolah dan orang tua. Sedangkan tim Kaipang melakukan penertiban terhadap PMKS. Penertiban yang dilakukan bersifat pembinaan supaya mendapat pembinaan dari keluarga. Jika anak-anak tidak memiliki orangtua akan dikirim ke Kampung Anak Negeri yang dikelola Dinas Sosial kota Surabaya.

 

Sementara itu, Diyan Wahyuningsih, officer Save the Children menjelaskan,  alur penanganan anak melalui beberapa tahapan. Yakni preventif, represif, pra rehabilitatif, pemberdayaan, rehabilitasi, resosialisasi dan lanjutan. Pemerintah Kota Surabaya bersama NGO telah meningkatkan pemahaman dan kesadaran kepada masyarakat tentang peraturan dan perundang-undangan. Kemudian meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak menjerumuskan anak dan menjamin tumbuh kembang anak. (Humas Dispendik Surabaya)

Keberhasilan Surabaya dalam melakukan pengelolaan pendidikan terutama dalam meningkatkan mutu dan kualitas tenaga kependidikan menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi daerah lain untuk melakukan kunjungan ke Surabaya.

 

Tadi siang (09/12) Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya menerima kunjungan dari para anggotan dan pimpinan DPRD Kota Bandung. Rombongan diterima langsung oleh Kadispendik Dr. Ikhsan, S. Psi, MM didampingi Kabid. Ketenagaan Ir. Yusuf Masruh.

 

Dihadapan para anggota DPRD Kota Bandung, Yusuf menjelaskan bahwa keberhasilan program pendidikan gratis di surabaya pada  semua jenjang mulai dari tingkat SD hingga SMA telah di-cover melalui anggaran pendidikan yang mencapai hampir 31 % dari APBD kota Surabaya.

 

“Selain BOS dari pusat Surabaya juga memiliki BOPDA untuk kegiatan operasional sekolah”.

 

 Bantuan pendidikan tersebut diwujudkan melalui pemberian BOPDA serta penyediaan sarana dan prasarana kebutuhan siswa yang memadai. Selain itu, peningkatan mutu guru juga menjadi perhatian tersendiri dari Pemkot Surabaya, mulai dari berbagai pelatihan, pengiriman guru ke luar negeri, beasiswa, hingga tunjangan kinerja telah menjadi salah satu program peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di Surabaya.

 

“Besaran BOPDA yang  diberikan, yakni untuk siswa SD sebesar Rp. 56.845,-/siswa/bulan, siswa SMP Rp. 74.639-/siswa/bulan, dan siswa SMA/SMK sebesar Rp. 163.913/siswa/bulan”.

 

Selain itu, Yusuf menambahkan bahwa penggajian guru honorer saat ini sudah berdasarkan UMK Kota Surabaya sebesar 3,2 juta perbulan. Tidak hanya guru honorer namun para pendidik PAUD dan sekolah minggu juga mendapatkan bantuan pendidikan dari Pemkot Surabaya.

 

“Anggaran penggajian tersebut diambilan BOS dan BOPDA”.

 

Sementara itu, Kadispendik Ikhsan menyampaikan bahwa dalam menyelenggarakan pendidikan di Surabaya mengacu pada Peraturan Daerah (Perda) No. 16 Tahun 2012 yang mana didalamnya mengatur mengenai beragam kebijakan-kebijakan yang diterapkan Pemkot Surabaya terhadap pendidikan.

 

Mantan Kepala Bapemas dan KB Kota Surabaya tersebut juga berujar bahwa selama kurun waktu empat tahun Dispendik telah menghasilkan beragam inovasi pendidikan. Menurutnya,  ada 17 inovasi program pendidikan melalui aplikasi online. Tujuh belas inovasi program pendidikan di Surabaya, diantaranya Profil Sekolah, Sistem Informasi Pengelolaan Keuangan Sekolah (SIPKS),  Seleksi Calon Kepala Sekolah, Jurnal Online, Surabaya Belajar, Multimedia Pembelajaran, Rapor Online, Try Out Online, PPDB Online, Sahabat Dispendik,  Klinik Kurikulum, Kenaikan Pangkat Online, Tantangan Membaca 2015, P2KGS, Profil LKP dan PKBM,  Aplikasi Gaji Online, dan UNBK 100 persen. 

 

“Bulan November kemarin berkat inovasi-inovasi pendidikan, Surabaya menerima penghargaan Anugerah Ki Hajar Kategori Khusus oleh Kemendikbud ”.  (Humas Dispendik Surabaya)

Kabupaten Pidie Jaya, Aceh menggunggah empati para pelajar Surabaya untuk bersama-sama mendoakan, salah satunya dilakukan doa bersama oleh puluhan siswa SMP PGRI 6 (Spegrinam)  tadi pagi (08/12).

 

Acara doa bersama yang dimulai tepat pukul 07.00 juga diikuti oleh para guru dan tenaga kependidikan dilingkungan Spegrinam.

 

“Salah satu tujuan digelarnya istoghosah tersebut adalah untuk menanamkan kepedulian dan jiwa tolerenasi kepada sesama”, tutur Banu Atmoko Kepala Spegrinam Surabaya.

 

Pada kesempatan ini, Banu mengajak para siswa untuk untuk mendoakan saudara – saudara yang di Aceh terkena gempa dan  diampuni dosanya dan keluarga yang di tinggalkan diberikan ketabahan , serta agar kota Surabaya tercinta bebas dari bala bencana.

 

Doa bersama untuk korban aceh dipimpin oleh Fanny Hardian dan juga diikuti oleh seluruh siswa-siswi Spegrinam  kelas 7 – 9 dan seluruh siswa -siswi SDS AL-IKHLAS mulai kelas 1- 6. (Humas Dispendik Surabaya)

Subcategories

Ini adalah berita dari Sekretariat Dinas Pendidikan