Login

Situs Resmi Dinas Pendidikan Kota Surabaya

Tingkatkan Imtaq, SMAN 15 Adakan FIRST 2014

      Peningkatan keimanan dan ketaqwaan (imtaq) dalam diri siswa dapat diwujudkan melalui berbagai macam kegiatan positif sekaligus mengasah kemampuan bakat dan potensi dalam diri siswa.

     Tadi pagi, bertempat di lapangan SMAN 15, Sie Kerohanian Islam (SKI) SMAN 15 adakan kegiatan lomba-lomba islami dan ceramah agama. Kegiatan yang diberi nama (Festival of Intellectual & Religious Moslem Teenagers) FIRST 2014 dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya Dr. Ikhsan, S. Psi, MM.

     Dalam sambutannya, Ikhsan mengemukakan sekolah merupakan sebuah wadah para siswa untuk belajar tentang kehidupan, untuk itu dirinya memotivasi para siswa agar terus mengembangkan kreatifitas, bakat serta potensi yang dimiliki, baik di bidang akademik maupun non akademik agar dapat terus berkembang.

     "Ayo kita kembangkan bersama, segala bakat dan potensi yang dimiliki". Ikhsan menambahkan banyak kesuksesan diraih tidak hanya melalui bidang akademiknya saja, melainkan justru dari pengembangan kreatifitas sperti ini, kelak kesuksesan dapat diraih.

     Terkait himbauan untuk tidak keluar kota selama kegiatan tengah semester (KTS), Ikhsan menerangkan bahwa banyak para pelajar Surabaya yang tertimpa musibah, baik itu korban kecelakaan, tenggelam di sungai, ataupun penyebab lain diluar dugaan yang berakibat terhadap hilangya nyawa seseorang/kelompok.

     Untuk itu, Dispendik berupaya menghimbau para siswa, guru, sekolah ataupun orang tua siswa agar tidak melakukan kegiatan di luar kota Surabaya. "Banyak tempat-tempat ataupun taman-taman di Surabaya yang dapat dijadikan tempat untuk belajar sekaligus menikmati masa liburan kegiatan tengah semester ini". 

    Sementara itu, Kepala SMAN 15 Abu Djauhari menerangkan bahwa dalam FIRST 2014 diadakan beberapa jenis lomba, diantaranya lomba standup dakwah, cerdas cermat, Hadits arts, musikali puisi, MTQ putra/putri, dan ditutup oleh ceramah agama oleh Ustadz Abuya Miftahul Luthfi Muhammad. (Humas Dispendik Surabaya)

Dalami Kode Etik Konselor, Musyawarah Guru BK Adakan Seminar

     Upaya meningkatkan pengetahuan serta kemampuan dalam memberikan pelayanan bimbingan konseling kepada siswa, diwujudkan para guru bimbingan dan konseling (BK) yang tergabung dalam Musyawarah  Guru (MGMP) BK se-Kota Surabaya dengan menggelar seminar kode etik profesi konselor, tadi pagi (28/04) di Aula Lt. 3 SMPN 4 Surabaya.

    Ketua pembina MGMP guru BK Dra. Titik Sudarti mengungkapkan kegiatan seminar ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan wawasan kepada guru BK bagaimana memberikan pelayanan konseling terbaik kepada siswa. Titik menambahkan bahwa saat ini guru BK masih kental dengan sebutan "Polisi Sekolah".

    Oleh karena itu, melalui seminar kode etik konselor ini diharapkan dapat merubah cara pandang siswa kepada guru BK, yang selama ini sebagai "Polisi Sekolah" dapat menjadi gurunya manusia, serta sekolah di sekolahnya manusia. Seminar kode etik profesi konselor merupakan kerjasama anatara MGMP guru BK dengan Universitas Negeri Semarang.

    Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya Dr. Ikhsan, S. Psi, MM yang turut hadir membuka kegiatan seminar profesi kode etik guru BK mengungkapkan, dalam rangka memberikan pendampingan khususnya kepada siswa yang bermasalah, setiap tahun Dispendik selenggarakan kegiatan konselor sebaya.

    Konselor sebaya ini merupakan kegiatan yang bertujuan melatih para ketua kelas dan ketua OSIS untuk dapat menjadi konseling bagi temannya sendiri, dengan demikian permasalahan anak yang muncul dapat sedini mungkin dapat diatasi dan segera untuk dicarikan solusi serta pendampingannya.

    Selain itu, sebagai upaya peningkatan mutu serta kualitas pendidikan guru BK pemkot Surabaya juga telah memberikan beasiswa kepada guru BK. "Tahun kemarin sebanyak 40 guru BK telah melanjutkan kuliah S2 lewat beasiswa ini".

    Ikhsan berharap melalui pelatihan dan seminar ini, para guru BK dapat lebih meningkatkan pelayanan konseling kepada siswa, sehingga tidak dianggap sebagai "Polisi Sekolah".

    Terkait ujian nasional (unas) para guru BK selayaknya harus bisa memberikan sebuah pendampingan yang saat ini dibutuhkan para siswa dalam mempersiapkan mental anak menghadapi unas. (Humas Dispendik Surabaya) 

Additional information