Login

Situs Resmi Dinas Pendidikan Kota Surabaya

Bahas Pendidikan Gratis, Pemkab. Tulungagung Kunjungi Dispendik

     Pendidikan gratis dan berkualitas merupakan salah satu kebutuhan masyarakat. Pemerintah kota (pemkot) Surabaya melalui Perda no.16 Tahun 2012 tentang penyelenggaraan pendidikan mewajibkan masyarakat usia 7-18 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar dan menengah sampai tamat.

     Hal tersebut membuat terselenggaranya pendidikan gratis di sekolah-sekolah negeri Surabaya dan mewajibkan siswa kurang mampu untuk tetap bersekolah di semua sekolah  Surabaya.

     Melihat itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulungagung tertarik untuk belajar lebih dalam tentang pendidikan gratis, bermutu serta berkualitas yang telah diterapkan oleh kota Surabaya.

     Tadi pagi, bertempat di aula atas kantor Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya Jalan jagir Wonokromo 354-356 Surabaya. Dispendik menerima kunjungan rombongan Pemkab. Tulungagung.

     Rombongan Pemkab. Tulungagung yang dipimnpin oleh Asisten Bidang Kesra Bambang Y, SH, MH diterima oleh Kepala Dispendik Surabaya Dr. Ikhsan, S.Psi, MM didampingi Sekretaris Dispendik Drs. Aston Tambunan, M.Si, Kasubag. Keuangan Nyono, SH, Kasubag Umum dan Kepegawaian Retnowati, S.Sos, Kasi Kesiswaan Dikmenjur Aris Hilmi, dan Kasi Kurikulum Pendas Dwi Rinto.

     Pada kesempatan ini, Bambang mengemukakan dipilihnya Surabaya sebagai salah satu tempat kunjungan kerja tersebut, karena Surabaya telah berhasil mengembangkan pendidikan gratis di setiap jenjang, serta berbagai macam program pendidikan lainnya.

     Sementara itu, Kepala Dispendik Ikhsan memaparkan bahwa salah satu keberhasilan pendidikan gratis di Surabaya, yakni bukan saja akan dukungan APBD pada bidang pendidikan sebesar 34 % dari APBD kota. Melainkan juga, efisiensi terhadap anggaran pendidikan dengan dukungan sistem pengangggaran yang secara online dapat dipertanggungjawabkan melalui SIPKS  dan evalusai diri sekolah (EDS).

     "Jadi sekolah harus betul-betul melakukan penganggarannya sesuai hasil EDS yang dimana setiap kebutuhan sekolah berbeda sesuai dengan delapan standar nasional pendidikan yang telah ditetapkan".

     Selain itu, dalam paparannya Ikhsan menyebutkan bahwa sebagai upaya menjadikan pendidikan di Surabaya sebagai barometer pendidikan nasional. Pihaknya telah mengembangkan empat poin utama dalam memajukan serta mengembangkan pendidikan di Surabaya.

     Empat poin utama, yakni peningkatan kompetensi guru, peningkatan kompetensi siswa, ketersediaan layanan pendidikan yang bermutu serta berkualitas dan peningkatan kualitas sekolah. (Humas Dispendik Surabaya)

Ratusan Siswa Surabaya, Semarakkan Pencanangan Gerakan Menuju Indonesia Bersih Sampah 2020

     Sebanyak 250 siswa, mulai dari SD hingga SMP turut menyemarakkan pencanangan Gerakan Menuju Indonesia Bersih Sampah 2020 yang dibuka oleh Menteri Lingkungan Hidup  Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, tadi pagi (24/02) di halaman Taman Surya.

     Acara tersebut dihadiri oleh hampir seluruh bupati/walikota seluruh Indonesia. Dipilihnya Surabaya sebagai tempat pencanangan Gerakan Menuju Indonesia Bersih Sampah 2020, karena Surabaya talah menunjukkan perubahan yang positif dalam dan menjadi model bagaimana mengolah sampah di Indonesia.

     “Semangat mengurangi sampah dari sumbernya merupakan amanat Undang-Undang nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang harus terus ditingkatkan melalui prinsip 3R. Saya mengajak kita semua memantapkan komitmen kepala daerah, dunia usaha dan masyarakat untuk memulai langkah nyata dalam melakukan pengolahan sampah dari sumbernya dan pemanfaatan energi bersih, karena pada hakekatnya setiap individu merupakan sumber penghasil sampah. Edukasi masyarakat sangat penting untuk menumbuhkan perilaku yang dahulu membuang sampah sekarang dengan membiasakan memilah, mengolah dan menghargai sampah,” ungkap Menteri Lingkungan. Balthasar Kambuaya. 

      Sementara itu, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, MT mengungkapkan ruang terbuka hijau Surabaya kini telah mencapai 26%.  Hal tersebut telah melampaui dari undang-undang lingkungan hidup yang di tetapkan, yakni sebesar 20%   dari luas wilayah kota.

      Melalui gerakan 3R pengelolaan sampah yang lebih baik untuk lingkungan yaitu dengan mengurangi sampah (reduce), menggunakan kembali sampah (reuse) dan mendaur ulang sampah (recycle) dapat juga memajukan pertumbuhan ekonomi.

      Tri Risma (panggilan akrab walikota, red) juga menambahkan dengan masyarakat yang memiliki kepedulian akan lingkungan, pertumbahan juga tetap hidup. Hal tersebut dibuktikkan dengan pertumbuhan ekonomi penduduk Surabaya yang semakin meningkat.

      Pada tahun 2010 pertumbuhan ekonomi masyarakat Surabaya  sebesar 5,25 %, menjadi 7, 25 % pada tahun-tahun selanjutnya hingga kini. Acara semakin meriah dengan pertunjukkan yel-yel eco school dari SDN Bubutan IV dan SMPN 23 Surabaya, serta turut dimeriahkan oleh artis Tasya Kamila, Papa T. Bob, Putri Bumi dan Duta Sanitasi.

      Dukungan, partisipasi serta Kepedulian masyarakat, siswa, guru kepala sekolah dalam menjaga lingkungan merupakan modal utama untuk  menjadikan Surabaya sebagai kota yang berwawasan lingkungan, ungkap Risma dalam sambutannya.

      Turut hadir pada acara ini, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Dr. Ikhsan, S.Psi, MM, para kepala sekolah, kepala UPTD dan para kepala bidang di lingkungan Dispendik Surabaya. (Humas Dispendik Surabaya)

Additional information