Tepat pukul 10.30 WIB tadi siang (03/05) sebanyak 50 box naskah ujian nasional 2016 untuk kejar paket B dan SMPLB telah tiba di kantor Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya dengan pengawalan ketat oleh petugas kepolisian dari Polrestabes Surabaya.

 

Kasi Pendidikan Masyarakat Thussy Apriliyandari, SE menuturkan bersama tim Dispendik dan kepolisian pihaknya telah tiba di percetakan PT. Jausindo sejak subuh untuk mengambil nomer antrian, baru setelah sekitar pukul 09.00 naskah tersebut diambil dan lansung dimasukkan ke dalam mobil box untuk dikirim ke kantor Dispendik.

 

“Naskah-naskah tersebut kemudian akan dibagikan kepada para sub rayon ketika pelaksanaan unas tingkat SMP (09/05) minggu depan”.

 

Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) Dra. Eko Prasetyoningsih, M. Pd meyampaikan dengan dijaga ketat pihak dari kepolisian selama 24 jam, naskah ujian kejar paket B serta SMPLB disimpan di salah satu ruang aula Dispendik. Eko menambahkan 50 box naskah ujian tesebut terdisi dari naskah ujian utama serta susulan. Menurutnya, tahun ini (2016,red) pelaksanaan ujian kejar paket dan SMPLB diikuti oleh 45 lembaga.

 

Terkait pelaksanaan UNBK tingkat SMP, mantan Kepala SDN Wonokusumo tersebut menerangkan bahwa UNBK untuk tingkat SMP di Surabaya diikuti oleh diikuti 370 SMP dan MTs se-Surabaya dengan jumlah peserta sebanyak 43.051 siswa.

 

“Sama seperti jenjang SMA, UNBK SMP di Surabaya juga 100 persen”.

 

Sementara itu, Kasi Kurikulum Pendidikan Dasar Munaiyah mengungkapkan UNBK SMP di Surabaya juga melibatkan sebanyak 600 proktor dan 476 teknisi dengan jumlah sekolah penyelenggara UNBK mandiri sebanyak 317 lembaga dan sekolah penggabung sebanyak 53 lembaga.

 

“ Semua data serta informasi terkait UNBK Suabaya dapat diakses melalui dispendik.surabaya.go.id/unbk”. (Humas Dispendik Surabaya)

Para lurah dan camat di wilayah Kota Surabaya diimbau untuk menciptakan kondisi kampung (kawasan tempat tinggal) yang nyaman dan bagi proses tumbuh kembangnya anak-anak. Masyarakat diharapkan ikut mendukung dan menjamin pemenuhan hak anak dan mengupayakan perlindungan anak secara optimal.

Imbauan tersebut disampaikan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini ketika launching lomba kampung pendidikan Kampung’e Arek Suroboyo di Graha Sawunggaling Lantai VI kantor Pemerintah Kota Surabaya, Senin (2/5).

Menurut wali kota, tidak penting apakah nantinya akan menjadi pemenang atau tidak. Yang terpenting adalah setiap lurah dan camat mampu memotivasi warga di wilayahnya untuk mewujudkan kampung yang kondusif bagi tumbuh kembang anak. “Para lurah tolong di support program ini. Lurah dan camat menginisiasi warganya untuk ikut serta. Tidak apa-apa kalah, yang penting berusaha, yang penting manfaatnya besar untuk warga,” tegas wali kota.

Menurut wali kota, selama ini, pendidikan untuk anak-anak di sekolah sudah bagus. Namun, pendidikan tidak cukup hanya di sekolah. Keberadaan kampung juga sangat mendukung untuk membentuk karakter anak. Terkait hal itu, keberadaan lomba kampung pendidikan ini menjadi sangat penting. “Mari kita ciptakan lingkungan yang baik di sekitar kita. Dengan begitu, semakin kecil ruang bagi mereka untuk melakukan perbuatan negatif,” jelas wali kota Tri Rismaharini.

Tahun ini merupakan tahun kedua penyelenggaraan lomba kampung pendidikan Kampung’e Arek Suroboyo. Untuk tahun 2016 ini, sasaran program kampung pendidikan sebaanyak 308 kampung yang diharapkan menjadi piloting di setiap kelurahan. Ruang lingkup kampung pendidikan kampung’e arek Suroboyo secara administrasi meliputi satu RW yang bsia terdiri dari beberapa RT untuk mengakomodir kategori kampung.

Bentuk program kampung’e Arek Suroboyo terdiri dari lima kategori yang memiliki beberapa indikator. Yakni sebagai kampung belajar, kampung sehat, kampung asuh, kampung kreatif dan inovatif serta kampung aman.

Untuk tahun lalu, predikat Kampung Pendidikan kategori kampung belajar diraih oleh RW VIII Kelurahan Babat Jerawat. Salah satu yang menonjol dari Kelurahan Babat Jerawat adalah adanya program jam belajar.

Ketua RW VIII Kelurahan Babat Jerawat, Bagus Ardianto mengatakan, salah satu program unggulan di kelurahannya adalah program jam pendidikan. Bahwa pada jam pendidikan yakni dari jam 18.00 WIB hingga jam 19.30 WIB, semua anak-anak se-RW harus masuk ke rumah untuk belajar. Sehingga tidak ada anak-anak yang berkeliaran. Bahkan, kegiatan RW seperti rapat pun, juga harus digelar setelah jam pendidikan tersebut. “Awalnya memang berat. Saya juga harus berkeliling untuk memastikan tidak ada anak-anak yang masih berada di luar,” ujarnya.

 

Program jam pendidikan itu berdampak positif bagi warga Kelurahan Babat Jerawat. Tak hanya berhasil memenangkan lomba Kampung Pendidikan 2015 untuk kategori kampung belajar. Anak-anak di sana juga punya budaya belajar. Imbasnya, mayoritas mereka diterima bersekolah di sekolah negeri. “Hampir semua anak-anak di sini diterima di sekolah negeri. Kalaupun swasta, di sekolah favorit,” sambung Bagus. (Humas Dispendik Surabaya)  

Pelaksanaan Hardiknas di SDN Bulak Rukem I No.258 dilakukan dengan Upacara Bendera dan Menyanyikan Lagu Wajib Belajar secara sederhana, tadi (02/05). Lagu ini sudah lama sekali dilupakan. Pada pagi ini ini dinyanyikan bersama oleh seluruh siswa. Utamanya Siswa Kelas Vi yang selama enam tahun bersekolah dan membawa nama baik sekolah mendapat apresiasi dari Kepala Sekolah.

 

 Tanpa dikomando, para siswa kemudian  menyebutkan satu-persatu prestasi akademik dan non akademik yang pernah diraihnya sejak kelas 1 hingga kelas 6. Bagi Siswa Kelas VI, ini merupakan upacara terakhir dalam memperingati Hari Bersejarah. Sesudahnya siswa akan melaksanakan Ujian Sekolah. Tahun Pelajaran depan (2016-2017)  siswa kelas VI akan mengikuti  kegiatan di tempat baru yaitu SMP yang diinginkan.

 

Dalam kesempatan ini, kepala SDN Bulak Rukem I Rudy Prayitno  selaku Pembina Upacara membacakan Sambutan Pidato Mendikbud (Bapak Anies Baswedan) menggunakan HP. Rudy juga menyampaikan sejarah kehidupan Ki Hajar Dewantara sbb. : Lahir 2 Mei 1889 dan berdasarkan Keppres RI Nomor 316 tahun 1959 bahwa tahun Kelahirannya ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Peringatan Hardiknas setiap tanggal 2 Mei tidak semata-mata dimaksudkan untuk mengenang hari kelahiran Ki Hajar Dewantara selaku Bapak Perintis Pendidikan Nasional, namun merupakan momentum untuk kembali menumbuhkan rasa patriotisme dan nasionalisme pada seluruh Insan Pendidikan.

 

Pusaka yang ditinggalkan Beliau adalah semboyan “Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani”. Salah satunya yaitu Tut Wuri Handayani telah dijadikan ikon pendidikan di Indonesia.

 

 

Sebagai Tema Keriaan Hardiknas tahun 2016 adalah “Nyalakan Pelita, Terangkan Cita-cita”. Kita ingin pendidikan menjadi Pelita bagi anak didik, yang bisa melihat peluang, mendorong kemajuan,  menumbuhkan karakter, dan memberikan kejernihan dalam menata dan menyiapkan masa depan. Terima kasih kepada Insan Pendidik yang selama hidupnya mendharmabaktikan untuk kepentingan dan kemajuan pendidikan di Indonesia sehingga kita dikenal di seluruh penjuru dunia melalui prestasi siswa dan pendidik. (Humas Dispendik Surabaya)

 

Subcategories

Ini adalah berita dari Sekretariat Dinas Pendidikan