Dalam rangka pemutakhiran data lembaga, guru dan peserta didik serta data sekolah lainnya, selama dua hari yakni 29-30 Agustus Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya gelar sosialisasi pendataan kepada sekolah. Acara yang berlangsung di gedung Wanita tersebut dihadiri oleh para guru yang paham IT.

 

Kepala Bidang Ketenagaan Ir. Yusuf Masruh menjelaskan, selain melakukan pemutakhiran data profil sekolah, juga pemutakhiran data PTK (dapodik). Terkait pemutakhiran dapodik Yusuf menyampaikan, bahwa data dapodik dipergunakan sebagai baseline data pencairan BOS, TPG, dan Tamsil. Selain itu, dapodik juga digunakan untuk baseline data perhitungan indikator pendidikan nasional, serta pengambilan keputusan di tingkat pusat.

 

“Oleh karena itu, pada kesempatan ini sekolah-sekolah harus memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik mungkin updating data”.

 

Yusuf menambahkan, setelah dilakukan pembaharuan yang tak kalah pentingnya yakni melakukan sinkronisasi. Menurutnya, sinkronisasi data sangat penting dan perlu dilakukan agar data yang tersaji menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Selain itu, sinkronisasi data bertujuan agar data yang tersaji dalam aplikasi dapodik, profil sekolah  maupun data sekolah selaras.

 

Galuh Tri Wibisono, IT Dispedik berujar bahwa sekolah juga wajib melakukan pemutakhiran data menu profil siswa yang meliputi data siswa (Nama, NISN, NIK, Tempat Lahir, Agama, Status Siswa, Kelas, Jurusan, Rombel, Kelamin, NIS, Status Inklusi,Tanggal Lahir, Anak Ke), Ijasah Terakhir (Asal Sekolah, No. Ijasah, Tahun Ijasah), sampai tinggi badan, dan beserta data prestasi lainnya.

 

Sekolah wajib melakukan pemutakhiran data menu mutasi siswa. Untuk mutasi dalam kota, operator sekolah asal mengeluarkan data siswa, sedangkan operator sekolah yang dituju menerima siswa mutasi tersebut.

 

 

“Aplikasi Profil Sekolah merupakan sistem pendukung pengambilan keputusan terhadap kebijakan di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya, khususnya Dinas Pendidikan”. (Humas Dispendik Surabaya)

Setelah berjuang keras dalam seleksi tingkat provinsi, akhirnya tim Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) berangkat ke provinsi Sulawesi Utara untuk mengikuti seleksi tingkat nasional yang berlangsung mulai tanggal 29 Agustus-02 September di Manado. Sebanyak delapan cabang seni yang meliputi musik tradisional, storry telling, seni kriya, pianika, cipta baca puisi, film pendek, dan gitar solo dilepas Kadispendik Surabaya Dr. Ikhsan, S. Psi, MM tadi siang, Jumat (26/08) di ruang Ki Hadjar Dewantara.

 

Pada kesempatan ini, Ikhsan menyampaikan bahwa sekarang tanggungjawab tim bukan hanya mewakili Surabaya, namun mewakili provinsi Jawa Timur ke tingkat nasional, oleh karena itu dirinya berpesan agar ketika tampil nanti harus lebih percaya diri dan tidak mudah grogi, karena selama ini telah mendapatkan pendampingan yang cukup serta latihan terus-menerus.

 

“Secara kualitas mereka mampu bersaing, tinggal bagaimana melatih mental mereka untuk menjadi juara”.

 

Mantan Kepala Bapemas dan KB Kota Surabaya tersebut juga menambahkan agar anak Surabaya mampu menunjukkan karakternya yang baik hati, rendah hati, tidak sombong serta mudah bergaul. Ada empat hal yang ia pesankan kepada tim FLS2N, pertama yakni para siswa harus kompak, patuh terhadap guru pendamping/pelatih karena mereka yang mengetahui kondisi disana sebenarnya, tetap fokus terhadap lomba, serta mengkesampingkan urusan pribadi dan lebih mengutamakan lomba.

 

“Tujuannya agar mereka fokus, namun setelah lomba kami persilahkan”.

 

Ikhsan juga berpesan kepada para pendamping agar mereka kesana ialah karena tugas dan menjaga anak-anak selama mengikuti lomba.

 

Sementara itu, Aldi Cipta, Angle Chrisanta, dan Ezra Juninho tim film pendek yang menjadi juara I tingkat provinsi menceritakan bahwa pengalamannya belajar membuat film pendek berasal dari otodidak. Aldi menuturkan telah menyiapkan film pendek dengan judul “Sekolahku Inspirasiku” dalam seleksi FLS2N tingkat nasional nanti.

 

“Persiapan kami lebih menitik beratkan dalam teknik kamera yakni pengambilan gambar (angle) dan tenik musik”.

 

Berbeda dengan Aldi, Naufal Ramadhan Nugroho Putro pemain gitar solo asal SMAN 14 lebih memperdalam teknik tone untuk gitar agar nantinya suara yang keluar lebih rapi dan memenuhi kaidah-kaidah penjurian. Sedangkan Grace Pintaomas Thaviana Sirait anggota vokal grup dari SMPN 1 telah menyiapkan satu lagu tambahan diluar lagu wajib yang dibawakan.

 

“Jadi total ada tiga lagu yang kami bawakan yakni Rek Ayo Rek, Apa-Apanya Dong, dan Jatuh Cinta”,. Pungkas Grace. (Humas Dispendik Surabaya)

Pengembangan budaya literasi kota Surabaya yang cukup signifikan mulai dari menyiapkan program sampai pemenuhan sarana dan prasarana untuk mendorong minat para siswa agar gemar membaca dan menulis, menarik perhatian dari pihak lain.

 

Tadi pagi, Jumat (26/08) sebanyak 12 orang anggota dan pengurus Dewan Pendidikan (DP) Labuhanbatu mengunjungi kantor Dispendik. Kedatangan rombongan disambut hangat oleh Sekretaris Dispendik Drs. Aston Tambunan, M. Si di ruang rapat Kartini.

 

Annim Hasibuan, Ketua Tim DP Labuhanbatu menerangkan, bahwa kunjungan ke Surabaya ialah tidak lain ingin belajar bagaimana mewujudkan kota literasi. Menurutnya, Surabaya merupakan sebuah kota percontohan literasi nasional.

 

“Sebelum ke Dispendik kami mengunjungi perpustakaan kota dan TBM di Surabaya”.

 

Pada kesempatan ini, Kadispendik Surabaya Dr. Ikhsan, S. Psi, MM menjelaskan, awal mula menggalakkan budaya literasi yakni dengan meliburkan para siswa di hari “kejepit”, tujuannya agar para siswa dapat berkumpul dengan keluarga sekaligus meningkatkan ketahanan keluarga. Namun mereka tidak libur begitu saja, para siswa diberi tugas untuk menuliskan pengalamannya selama liburan bersama keluarga dan kemudian dituangkan dalam bentuk cerita pendek (cerpen).

 

 Cerpen-cerpen karya siswa dilombakan, 30 cerpen terbaik dibukukan dan dibagikan ke sekolah-sekolah. Selanjutnya program berlanjut menjadi Tantangan Membaca Surabaya.

 

 “Sampai akhir Desember tahun lalu jumlah buku yang telah dibaca siswa Surabaya mencapai 1.579.333 buku, dan di tahun 2016 ini target kami naikkan menjadi 2 juta buku”.

 

Sementara itu Aston menerangkan, salah satu program pendidikan di surabaya yang juga telah berhasil dikembangkan yakni pendidikan gratis di semua jenjang mulai dari tingkat SD hingga SMA. Pembiayaan pendidikan di Surabaya telah di-cover melalui anggaran pendidikan yang mencapai hampir 32 % dari APBD kota Surabaya.

 

“Selain BOS dari pusat Surabaya juga memiliki BOPDA untuk kegiatan operasional sekolah”.

 

Dispendik juga telah berhasil mengembangkan 17 inovasi program pendidikan melalui aplikasi online. Tujuh belas inovasi program pendidikan di Surabaya, diantaranya Profil Sekolah, Sistem Informasi Pengelolaan Keuangan Sekolah (SIPKS),  Seleksi Calon Kepala Sekolah, Jurnal Online, Surabaya Belajar, Multimedia Pembelajaran, Rapor Online, Try Out Online, PPDB Online, Sahabat Dispendik,  Klinik Kurikulum, Kenaikan Pangkat Online, Tantangan Membaca 2015, P2KGS, Profil LKP dan PKBM,  Aplikasi Gaji Online, dan UNBK 100 persen. 

 

Disisi lain, anggota Dewan Pendidikan Surabaya (DPS) Yuli Purnomo menyampaikan bahwa seleksi secara online dengan menganut azas transparan dan akuntabel telah dilakukan untuk menjaring anggota DPS yang profesional.

 

“Prosesnya pun juga melibatkan akademisi dari perguruan tinggi dalam menilai para calon”. (Humas Dispendik Surabaya)

Subcategories

Ini adalah berita dari Sekretariat Dinas Pendidikan