Login

Situs Resmi Dinas Pendidikan Kota Surabaya

Orpes Sebagai Forum Peduli Perlindungan Anak

Sabtu (29/11), bertempat di gedung Aula Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya, sekitar 68 anak yang tergabung dalam Organisasi Pelajar Surabaya (Orpes) mendapatkan pelatihan dan pembekalan tentang program perlindungan anak.

 

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 09.30 bertujuan meningkatkan fungsi ORPES sebagai Forum Peduli Perlindungan Anak di Sekolah, mengkoordinasikan berbagai program yang telah ada sebelumnya, serta mengkoordinasikan fungsi konselor sebaya menjadi bagian dari program UKS.

 

Untuk kegiatan ini peserta dibagi menjadi dalam 6 kelompok yang akan berperan untuk lingkungan mereka nantinya, baik lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Setelah itu kelompok ini diajak untuk mendiskusikan tentang fungsi dan peran ORPES menurut mereka baik untuk sekolah maupun masyarakat.


Melihat kondisi anak-anak yang semakin rentan terhadap segala kondisi, misalnya kejahatan seksual, oleh karena itu peran dari anak-anak yang diharapkan bisa untuk mencegah terjadinya tindak kejahatan yang semakin hari semakin banyak, campur tangan mereka untuk peduli terhadap lingkungannya sangat penting dalam mengurangi angka kejahatan terhadap anak.


Sesuai dengan indikator KLA dan untuk memperkuat peserta agar bisa melakukan tindakan pencegahan dan perlindungan anak di lingkungan, sekolah maupun masyarakat, maka peserta diajak berdiskusi untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk permasalahan, pencegahan dan bagaimana penanganannya ketika sudah terjadi disesuaikan dengan kebutuhan anak, serta yang harus dilakukan anak-anak dan bagaimana agar kegiatan ini bisa saling membantu.


Menurut Didik YRP narasumber dalam kegiatan ini, menjelaskan bahawa rencana tindak lanjut dari kegiatan ini, yakni melakukan pertemuan rutin sebulan sekali, sharing permasalahan yang ditemukan di sekolah yang terjadi pada siswa dan ditemukan solusi, program blusukan orpes ke sekolah-sekolah.

 

 Selain itu juga dibahas tentang peraturan/kesapakatan yang terdapat di sekolah. Mulai membahas tentang kedisplinan, sopan santun kepada guru, serta sanksi terhadap aturan yang dilanggar. (Humas Dispendik Surabaya)

 

Melalui Kegiatan Dialogis, Serap Aspirasi Tentang Implementasi Kurikulum 2013

     Sabtu (29/11) bertempat di ruang aula SMA Komplek, Dinas Pendidikan Kota (Dipendik) Surabaya gelar Workshop Pendampingan Implementasi Kurikulum 2013 Bagi Guru SMA. Acara tersebut dihadiri oleh Kepala Dispendik Surabaya Dr. Ikhsan, S. Psi, MM bersama Kepala SMAN 1 Johanes Mardijono.

     Kegiatan tersebut membahas tentang pembinaan sekaligus pendampingan kepada para guru dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 di lapangan.

      Pada kesempatan ini, Ikhsan mengungkapkan kegiatan ini merupakan sebagai ajang silaturahmi sekaligus sebagai wadah dalam menampung aspirasi para guru-guru guna menjadikan pendidikan di surabaya menjadi lebih baik dan menyiapkan generasi emas Indonesia 2045 mendatang.

      Berbagai aspirasi dituangkan oleh para guru-guru dalam forum pertemuan ini, salah satunya diungkapkan oleh Ardian. Guru dari SMA Masa Depan Cerah tersebut mengungkapkan bahwa pengisian rapor online membutuhkan akses yang lama, sehingga pengisian rapor online terkadang menjadi agak tersendat

      Ikhsan menjelaskan, program rapor online filosofinya berawal dari kejadian kebakaran yang pernah menimpa salah satu sekolah, sehingga kehilangan seluruh data-data siswa sehingga dibutuhkan sebuah data base. Selanjutnya, dalam kurikulum 2013 para guru harus menuliskan deskripsi penilaian siswa ke dalam rapor sehingga lebih banyak lagi membutuhkan waktu dalam memberikan penilaian hasil belajar siswa. Oleh karena itu, guna membantu meringankan beban guru dalam memberikan penilaian hasil belajar siswa yang disesuaikan dengan rapor online Dispendik meluncurkan program rapor online ini.

      Untuk dapat mengkases rapor online secara baik, dibutuhkan koneksi internet yang stabil. "Kami telah menambah kemampuan jumlah server yang ada, sehingga dapat menampung beban secara masksimal, untuk itu juga dituhkan akses internet yang prima pula", tuturnya.

       "Rapor on line merupakan salah satu bentuk inovasi pelayanan publik yang telah diakui oleh pemerintah pusat sebagai salah satu cara dalam menangani permasalahan implementasi kurikulum 2013 di lapangan". Ikhsan menambahkan banyak kunjungan dari berbagai daerah yang ingin mengadopsi rapor online sebagai sarana dalam pengimplementasian kurikulum 2013. (Humas Dispendik Surabaya)

Additional information