Login

Situs Resmi Dinas Pendidikan Kota Surabaya

Tertarik Pengelolaan Lingkungan, Kepala SMPN 1 Gowa Kunjungi SMPN 36

     Sebagai salah satu sekolah di kawasan Surabaya selatan yang memiliki kepedulian terhadp pengembangan lingkungan serta program-program pendidikan lainnya, SMPN 36 menjadi daya tarik tersendiri bagi daerah daerah lain untuk bersama meningkatkan mutu serta kualitas pendidikan.

     Beberapa waktu yang lalu, tepatnya 1 September 2014, SMPN 36 mendapatkan kunjungan dari kepala SMPN 1 Gowa Sulawesi Selatan. Sarea Kepala SMPN 1 Gowa mengungkpakan kunjungan tersebut bertujuan untuk mengkaji beberapa pengembangan program pendidikan yang telah berhasil diterapkan oleh SMPN 36.

     Mulai dari program lingkungan hidup, implementasi kurikulum 2013, pengembangan karakter siswa, hingga pada peningkatan pendidikan anak berkebutuhan khusus menjadi locus dalam observasi yang dilakukan.

     Tri Wahjuni, mantan kepala SMPN 36 yang kini menjadi kepala SMPN 6 menuturkan peningkatan kualitas pendidikan di sekolahnya tidak hanya pada bidang akademik saja, tetapi bidang non akademik pula turut dikembangkan bersama-sama para guru dan siswa di sekolah tersebut.

     Hal, tersebut merupakan buah implementasi dari Surabaya sebagai barometer pendidikan yang menjadi visi pendidikan di kota Surabaya. Dengan demikian, pengembangan di segala aspek maju berdampingan secara bersama-sama. (Humas Dispendik Surabaya)

Tari Lungiting Asmoro, Awali Pembukaan Seminar Nasional Harmonisasi Pendidikan Vokasi Dengan Dunia Usaha Dunia Industri

     Penampilan rancak dan atraktif tarian Lungiting Asmoro  dibawakan oleh para siswa-siswi SMKN 12 mampu membius hampir seluruh undangan yang hadir dalam acara pembukaan seminar nasional yang bertema "Harmonisasi Pendidikan Vocational Dengan Dunia Usaha/Industri di Provinsi Jawa Timur" yang tadi pagi (11/09) di buka oleh Gubernur Jatim Soekarwo di Hotel Bumi Surabaya.

     Tari Lungiting Asmoro juga berhasil meraih juara pertama dalam Festival Lomba Seni Siswa Nasioal (FL2SN) 2014 yang berlangsung di provinsi Jawa Tengah berberapa waktu lalu. Dalam cerita tari Lungiting Asmoro mengisahkan seorang pemuda yang sedang jatuh hati pada seorang gadis, kemudian ditolak cintanya. Lalu pemuda tersebut menggunakan cara yang tidak selazimnya (dukun) untuk menarik simpati gadis yang ddidambakan, hingga berakhir pada pemberotakan si gadis yang tetap tidak mau menerima cinta pemuda tersebut.

     Acara yang dihadiri oleh para kepala SMK dan MKKS se-Jatim tersebut membahas peluang bagi lulusan SMK semakin terbuka lebar untuk bisa memperoleh lapangan pekerjaan. Tidak hanya datang dari Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dalam negeri, melainkan juga internasional.

     Tak tanggung-tanggung, Jerman bahkan sudah mengumumkan peluang ini untuk seluruh lulusan SMK di Jatim sebanyak 6 juta  lapangan pekerjaan baru. 

     Hal ini dengan tegas diungkapkan Perwakilan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Konstan dari Jerman Andreas Goschie saat menghadiri Seminar Nasional bertajuk harmonisasi pendidikan kejuruan dengan DUDI .

      Andreas megatakan, peluang kerja di Jerman sangat besar bagi tenaga kerja terampil. Ini lantaran jumlah penduduk Jerman yang terus menyusut dari tahun ke tahun. "Contohnya saya ini juga orang tua tapi hanya memiliki satu anak. Jadi dari dua orang suami istri hanya melahirkan satu orang generasi baru," tutur Andreas. 

      Mengetahui peluang tersebut, Gubernur Jatim Dr H Soekarwo langsung merespon cepat. Bahkan Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Jatim, terlihat begitu ngecek untuk membuat suatu Memorandum of Understanding (MoU). "Kalau perlu MoU-nya hari ini juga boleh," tantang Pakde Karwo. Untuk mengisi peluang itu, langkah utama yang akan dilakukan ialah dengan menggali informasi terkait bidang kompetensi dan standarisasi yang dibutuhkan. Selanjutnya, untuk mempersiapkan sumber daya manusia.

      Kepala Dindik Jatim Dr Harun MSi menambahkan, kesiapan untuk memenuhi permintaan pasar tenaga kerja baik domestik maupun internasional akan diintegrasikan melalui kurikulum SMK. Misalnya saja dalam standarisasi pasar tenaga kerja internasional terdapat empat variabel, sedangkan SMK saat ini hanya mampu memenuhi dua variabel saja, maka perlu upaya khusus agar SMK mampu memenuhi seluruh variabelnya. "Jadi lulusan SMK benar-benar mampu memenuhi pasar tenaga kerja," kata dia. 

     Turut hadir dalam acara ini Kepala Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya Dr. Ikhsan, S. Psi, MM bersama para kepala SMK negeri se- Surabaya. (Humas Dispendik Surabaya)

 

Additional information