Login

Situs Resmi Dinas Pendidikan Kota Surabaya

3.000 Pendidik PAUD Ikuti Pelatihan Diklat Dasar

     Sebanyak 3.000 pendidik PAUD, meliputi pendidik kelompok bermain (KB) dan pendidik taman kanak-kanak (TK) mendapatkan pelatihan tingkat dasar. Pelatihan tersebut berangsung selam lima hari (10 - 14 November 2014) di gedung Pendidikan Profesi Guru (PPG) Unesa Kampus Lidah Wetan.

      Kasi PUDNI Dispendik Hari Joko menerangkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan program prioritas pertama dan utama dalam fokus pembangunan pendidikan di Indonesia tahun 2010- 2014 (Kemendiknas, 2011). Keberhasilan PAUD tidak terlepas dari peran pendidik PAUD mengingat peran utamanya dalam mengasuh, merawat, mendidik dan melindungi dalam upaya memaksimalkan seluruh sel otak yang saat lahir sudah terbentuk.

       Hari menambahkan, Tujuan umum kegiatan ini adalah memberikan pendidikan dan pelatihan kompetensi bunda PAUD secara  praktis dan efisien diberikan untuk meningkatkan kompetensi profesional Pendidik PAUD dengan berbekal pendidikan dan pelatihan kompetensi tingkat dasar yang berkualitas.

      Gunarti, dosen Unesa sekaligus ketua pelaksana kegiatan ini menuturkan, guru yang baik adalah guru yang profesional dan juga memiliki kemampuan pribadi dan kemampuan sosial yang prima pula. Hal ini sebagaimana dipersyaratkan dalam Standar Pendidikan Nasional (2005) yang mempersyaratkan empat kompetensi bagi seorang guru, yaitu (1) kepribadian, (2) profesional, (3) kependidikan dan (4) sosial. Keempat indikator tersebut merupakan ukuran produktivitas dari guru yang dinilai oleh kepala sekolah, rekan sesama guru, peserta didik dan orang tua peserta didik. Jika kinerja guru baik, maka produk yang akan dihasilkannya tentu juga akan baik.

       Produktivitas kerja guru, sebenarnya sangat dipengaruhi oleh kompetensi guru yang bersangkutan. Jika kompetensi guru baik maka dapat dipastikan bahwa produktivitas kerjanya akan baik pula. Pada hakikatnya guru akan dianggap menjadi pribadi yang menarik jika guru mampu menghasilkan produk yang berkualitas.

       Adapun kompetensi pendidik POS PAUD terpadu yang harus dimiliki  meliputi, kompetensi paedogogik, kompetensi kepribadian guru pendamping, kompetensi sosial, serta kompetensi profesional mengajar guru.

       Sementara itu, Kepala Bidang Kesenian, Olahraga dan PLS Dispendik Drs. Dakah Wahyudi, M. Pd berujar dasar pelaksanaan kegiatan diklat dasar untuk pendidik PAUD sesuai dengan Permendikbud no.58/2008 tentang standar kualifikasi pendidik PAUD.

       Dakah melanjutkan, bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya telah dua kali melaksanakan diklat dasar kepada para pendidik PAUD, tahun 2013 diikuti sebanyak 2.100 pendidik PAUD, dan pada tahun ini (2014) diikuti 3.000 pendidik PAUD.

       "Pelatihan ini terbagi menjadi lima gelombang, setiap gelombang diikuti 600 pendidik PAUD, melalui diklat dasar pendidik PAUD ini merupkan pengejawantahan peningkatan kompetensi para pendidikan PAUD dalam rangka menjadikan surabaya sebagai barometer pendidikan nasional".(Humas Dispendik Surabaya)

Dukung Surabaya Merdeka Dari Sampah, SMPN 23 Buat Lubang Biopori Dengan Cara Lain

Jumat siang (31/10), udara panas menyengat Kota Surabaya tak menyurutkan nyali para Kader Lingkungan Hidup SMPN 23, yang terdiri atas siswa dan guru, untuk berbagi bagaimana cara membuat “Biopori” kepada warga RT03/RW04 Kelurahan Kedung Baruk, Kecamatan Rungkut. Kegiatan yang dimotori oleh Kun Maryati, Penggerak PLH SMPN 23, dalam rangka mendukung program Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, yang menargetkan per tahun jumlah sampah di Kota Surabaya akan berkurang 10%. Upaya tersebut harus dilakukan dengan cara memberikan kesadaran kepada masyarakat mengenai lingkungan dengan mengelola sampah.


Sebelum berkunjung di RT 03/RW 04, kegiatan serupa dilakukan para Kader Lingkungan SMPN 23 dengan membuat lubang Biopori di halaman samping Kantor Kelurahan Kedung Baruk. Di samping para kader lingkungan, Rully Prasetya Negara, S.STP, MSi, Lurah Kedung Baruk dan Dra. Elly Dwi Pudjiastuti, M.Pd, Kepala Sekolah SMPN 23, turut mendukung acara tersebut dengan turun langsung ikut membuat lubang biopori. Diawali dengan mengebor tanah, memasukkan sampah-sampah daun kering yang diperoleh di sekitar halaman Kantor Kelurahan, kemudian memasukkan pipa paralon dan mengisinya dengan sampah daun kering.


Usai pembuatan biopori, Rully menyampaikan rasa terima kasihnya atas partisipasi SMPN 23, hal ini berkaitan dengan masuknya RT 03/RW 04 Kelurahan Kedung Baruk  dalam tahapan penjurian dengan kategori “Merdeka Dari Sampah 2014, Kampungku Lolos 50 Besar Go....” Dengan mendapatkan sumbangan bor dan pipa paralon dan bimbingan teknis cara membuat biopori dari SMPN 23 kepada warga RT 03/RW 04, nantinnya warga dapat mengembangkan sendiri dengan membuat sebanyak-banyaknya lupang biopori dengan memanfaatkan sampah yang ada, tambah Rully.


Lepas dari semua hal yang berkaitan dengan lomba atau kompetisi, yang berujung dengan kemenangan atau kekalahan, ada fenomena baru yang berkembang di Metropolis Surabaya. Tuntutan kualitas lingkungan hidup menjadi topik hangat yang diperdebatkan. 


Secara kasat mata, masyarakat mulai sadar akan kebutuhan lingkungan lestari. Sedikit terlambat memang, kesadaran ini tumbuh ketika ancaman global perubahan iklim telah menunjukkan akibatnya.


Setidaknya slogan ”Suroboyoku Bersih dan Ijo” tidak hanya sebagai slogan yang terpampang di pintu masuk kota. Tetapi telah menjadi hal yang mulai dilaksanakan segenap warga dengan kesadaran hati yang tinggi. Untuk merdeka 100 persen dari sampah jelas tidak mungkin. Tetapi dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan dengan mengolah sampah. Jumlah sampah bisa menurun 10 persen per tahun. (Humas Dispendik Surabaya)

Additional information