Dalam rangka menindaklanjuti Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan Undang-Undang No. 88 Tahun 2002 tentang Aksi Nasional Penghapusan Perdagangan (Trafficking) Perempuan dan Anak, Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjung Perak Surabaya turut turun tangan untuk membentuk karakter generasi penerus dengan paham hukum. Salah satunya, dengan program Jaksa Masuk Sekolah (JMS) yang digalakan secara berkelanjutan ke sekolah-sekolah, di antaranya di SMPN 23 Surabaya, Senin pagi (25/07).

 

Eko Agoes Febrijanto, S.H., salah satu dari Tim JMS Kejari Tanjung Perak Surabaya, mengatakan bahwa pembentukan karakater generasi penerus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keberlangsungan suatu bangsa. Satu di antara materi penting yaitu tentang  Human Trafficking perempuan dan anak. Karena itu menurutnya, penting untuk dilakukan peran hukum sebagai dasar agar para pelajar khususnya di SMPN 23 mengerti hukum.

 

“Kita sangat prihatin jika melihat perkembangan generasi muda yang menjadi pelaku kejahatan dalam beberapa waktu terakhir di berbagai daerah. Tetapi sebenarnya itu bukan dari niatan pelaku itu sendiri, sebaliknya karena mereka sebenarnya juga adalah korban.” tambahnya.

 

Masih menurut Agoes, kejahatan yang dilakukan pelaku anak atau generasi penerus itu dipengaruhi adanya unsur pornografi dari penyalahgunaan internet, pergaulan, seks bebas, dan narkotika. Dan tidak kalah penting akibat kurangnya perhatian dan pengawasan orangtua terhadap pergaulan putra-putrinya. Sehingga perlu peran penting yang dilakukan semua pihak, termasuk kejaksaan, untuk turut turun tangan membentengi para generasi agar paham hukum.

 

 

Melalui JMS, penyuluhan, dan penerangan hukum diharapkan dapat menginternalisasi nilai-nilai positif kepada generasi muda, dan mengurangi angka kejahatan yang dilakukan anak. Dengan begitu menurutnya, anak setidaknya paham hukum dan menjauhkan diri sanksi hukum. (Humas Dispendik Surabaya)

Berbagi adalah memberi atau menerima segala hal yang penting bagi hidup kita, berbagi juga bisa kepada Tuhan atau ciptaan tuhan, bahkan setiap hal di bumi ini. Makhluk sosial, itulah sebutan manusia. jadi, manusia saling membutuhkan dan dibutuhkan. Oleh karena itu manusia sebagai makhluk sosial manusia harus saling berbagi.

 

 Kita sebagai makhluk sosial sudah kewajiban kita untuk saling berbagi kepada orang lain, Berbagi tidak harus barang, apapun yang kita punya dan tidak dipunyai oleh orang lain perlu dibagikan karena sebagai bentuk kepedulian kita kepada orang lain.

 

Jumat (22/07) mengakhiri Layanan Orientasi Siswa (LOS)/ Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) puluhan siswa baru SMP PGRI 6 gelar aksi sosial dengan membagikan mie instan kepada warga yang kurang mampu di sekitar lingkungan sekolah.

 

“Rute yang disusuri yakni jalan Bulak Rukem – Bulak Banteng – Mrutu Kalianyar – Bulak Sari – Bulak Jaya”, tutur Banu Atmoko Kepala SMP PGRI 6.

 

Banu mengutarakan, mie instan yang dibawa oleh peserta didik baru dilarang  dibawa memakai tas palstik , tetapi wajib di bungkus oleh kertas kado. Hal tersebut bertujuan agar kemasan bingkisan yang dibagikan lebih menarik serta turut melestarikan lingkungan.

 

Tidak hanya itu, pembagian mie instan kepada kurang mampu tersebut juga diiringi musik drumband Ceria Nada dari SMP PGRI 6. Tujuannya ialah sekaligus memperkenal beberapa kegiatan ekstrakurikuler sekolah kepada masyakarat. (Humas Dispendik Surabaya)

Ada beberapa bentuk motif dalam desain ragam hias batik, yaitu motif bidang (geometrik dan organik), motif flora, fauna dan manusia, motif garis, dan motif benda. Motif-motif tersebut bisa tampil sendirian dan bisa berupa gabungan atau perpaduan motif satu dengan lainnya.

 

Motif bidang bisa berupa bidang geometrik, bidang organik, atau gabungan antara keduanya. Motif flora, fauna, dan manusia umumnya ditampilkan dalam bentuk stilasi dan dekoratif. Motif garis pada batik, misalnya motif garis berbentuk swastika, tumpal, dan garis lingkaran, yang tampil secara dominan bahkan sendirian. Motif alamdan benda, misalnya berupa perahu, rumah, gapura, guci, dan lain-lain. 

 

Salah satu motif yang populer adalah motif parang yang berbentuk pilin berganda. Motif ini banyak terdapat pada ragam hias batik di Jawa. Motif batik yang dibuat oleh para pengrajin sangat beragam, tergantung kebutuhan. Ada motif yang diwariskan secara turun-temurun. Pembuatan kain batik untuk busana tradisional atau busana adat, seperti jarit (kebaya), ikat kepala, selendang, dan perangkat busana adat lainnya, tetap menggunakan motif-motif tradisional. Sedangkan kain batik untuk busana, taplak meja, sprei, dan benda-benda kerajinan, motif yang diciptakan umumnya merupakan pengembangan dari corak-corak tradisional.

 

Meski lumayan susah, namun Nur Fajri Aprilia tetap semangat menyelasaikan rancangan pola batik dengan menggunakan canting.

 

Siswi kelas 5 SDN Kedungdoro 2 tersebut tengah mengikuti pelatihan membatik bersama 31 teman sebayanya yang digelar Dinas Pendidikan Kota Surabaya (Dispendik), pagi tadi (22/07).

 

Tidak hanya Nur, namun Endang sang guru pendamping turut mengajari dengan telaten cara membuat pola batik.

 

Sementara itu, di bidang membatik, Liwung narasumber membatik lebih menekankan penguatan pembuatan pola batik terlebih dahulu. Ia berujar bahwa membatik ialah merintang malam dalam kain. Pola yang dimaksud yakni membuat pola hubungan antara garis lurus dan garis lengkung sehingga tercipata bentuk batik yang indah dan dinikmati dengan hati dan perasaan. (Humas Dispendik Surabaya)

Subcategories

Ini adalah berita dari Sekretariat Dinas Pendidikan