Upaya untuk melindungi para generasi emas bangsa terhadap bahaya narkoba terus dilakukan oleh pemerintah melalui langkah pencegahan. Hari ini, Kamis (25/08) sebanyak 25 sekolah mendapatkan sosialisasi tentang narkoba bersama BNNP Kota Surabaya. Acara yang berlangsung di ruang Wahidin Sudirohusodo kantor Dispendik dibuka secara resmi oleh Sekretaris Dispendik Drs. Aston Tambunan, M, Si.

 

Pada kesempatan ini, Aston mengungkapkan akan pentingya cara-cara mengantisipasi masuknya narkoba ke dalam sekolah sekaligus upaya pencegahannya. Menurutnya, narkoba merupakan musuh bersama yang harus diperangi agar para generasi muda memiliki akhlak mulia dan menjadi penerus perjuangan bangsa.

 

 Aston menambahkan melalui kegiatan ini, para guru dapat mensosialisasikan pengalaman serta pengetahuannya selama dilatih oleh BNN untuk disebarluaskan kepada orang tua, siswa, serta masyarakat. Dengan demikian orang tua, guru serta masyarakat mempunyai sebuah kepedulian bersama dalam melakukan pengawasan terhadap bahaya narkoba.

 

Kepala BNNP Kota Surabaya AKBP Suparti menjelaskan bahwa gejala para pengguna narkoba dapat dilihat dari perubahan perilaku dan sikap, seperti ketika diajak berbicara jarang mau untuk kontak mata, emosional yang meledak-ledak, sering berkeringat dingin, dan berbagai ciri-ciri lainnya.

 

“Hasil identifikasi BNN ada 53 ciri-ciri pengguna narkoba”.

 

Suparti menambahkan, bahwa peran aktif warga sekolah sangat dibutuhkan untuk bersama-sama melakukan pencegahan. Menurutnya, para kepala sekolah dapat memberikan arahan kepada pihak keamanan sekolah untuk melakukan identifikasi terhadap orang-orang asing ataupun sesuatu yang mencurigakan baik di dalam ataupun diluar lingkungan sekolah.

 

“Tidak hanya dengan BNN sekolah pun dapat melakukan pembinaan kepada para siswa dengan mengundang Babinkamtibmas ataupun pihak yang berwajib untuk menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan sekolah”.

 

Perwira menengah dengan melati dua di pundak tersebut menambahkan, di Surabaya terdapat beberapa Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) untuk para pecandu narkoba yang digunakan sebagai tempat  rehabilitasi. IPWL tersebut terletak di Puskesmas Jagir, Ponpes Inabah, Puskesmas Gayungan, RS. Soewandi, RSUD Dr. Soetomo, dan BNN Kota Surabaya.

 

“IPWL  ini berfungsi sebagai tempat rehabilitasi para pecandu narkoba yang telah diatur dalam UU no. 35 Tahun 2009”. (Humas Dispendik Surabaya)

Kemajuan teknologi adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditolak kehadirannya. Itu adalah bagian dari “wajah” era kekinian. Termasuk juga bagaimana gadget dan sosial media kini menjadi ‘kawan dekat’ anak-anak. Namun, keberadaan teknologi itu seharusnya diimbangi dengan budaya literasi. Sebab, literasi akan sangat penting dalam mendukung imajinasi dan kreativitas anak. 

 

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini mengatakan, apa yang terjadi pada anak-anak sekarang merupakan sebuah “lompatan”. Seharusnya, anak-anak lebih dulu dikenalkan budaya membaca. Baru kemudian bersentuhan dengan teknologi. Yang terjadi sekarang, anak-anak sejak usia dini sudah mengenal teknologi.

 

“Seharusnya antara kemajuan teknologi dan budaya baca itu seimbang. Karena itulah, saya terus mendorong Badan Perpustakan dan Kearsipan untuk terus menggalakkan budaya baca di masyarakat. Utamanya pada anak-anak,” tegas wali kota seusai me-launching Surabaya Akseliterasi di Graha Sawunggaling, Lantai VI Kantor Pemkot Surabaya, Rabu (24/8).     

 

Menurut wali kota, kebiasaan membaca memiliki beberapa pengaruh positif dalam membentuk karakter anak. Bahwa dengan membaca, anak-anak akan terlatih untuk bebas berimajinasi. Semisal ketika membaca kalimat di buku yang berbunyi “burung bersuara merdu’. Maka, anak-anak yang membaca buku tersebut akan membayangkan seberapa merdu suara burung tersebut. Sementara bila melihat dari gadget, anak-anak akan langsung bisa melihat/mendengar.

 

“Dengan membaca buku dan berimajinasi, anak-anak akan bisa berpikir kreatif. Ini yang penting. Sebab, kita harus membangun sumber daya manusia yang bisa survive di kondisi apapun,” jelas wali kota yang mengatakan semasa kecil selalu membaca buku sebelum tidur.    
Wali kota peraih penghargaan Ideal Mother dari Universitas Kairo ini menyebut, Pemkot Surabaya sangat concern dalam mendukung hidupnya budaya literasi di Kota Pahlawan.

 

Parameternya, kini sudah ada lebih dari 1000 perpustakaan/taman bacaan di Surabaya yang tersebar di kampung-kampung, sekolah, taman kota, pondok pesantren ataupun mobil keliling. “Untuk budaya literasi ini, di Surabaya sudah jalan sejak beberapa tahun lalu. Sekarang kita tingkatkan lagi volume nya. Kita sudah lebih baik dibanding kota lainnya,” sambung wali kota.   

 

Kepala Badan Kearsipan dan Perpustakaan (Baperpus) Kota Surabaya, Arini Pakistyaningsih mengatakan, Surabaya Akseliterasi ini meliputi empat kegiatan. Yakni lomba kampung literasi, lomba orang tua peduli pendidikan anak, lomba pustakawan berprestasi dan fasilitator literasi.
Arini menjelaskan, untuk kampung literasi, akan dilihat kampung mana yang memiliki tempat belajar yang menyenangkan dan menfasilitasi anak-anak untuk belajar. Lalu untuk lomba orang tua peduli pendidikan anak, bertujuan untuk mengajak orang tua peduli pada anak-anak karena memang pendidikan bukan hanya wewenang pihak sekolah (guru). 

 

“Nanti ada kriterianya. Semisal anak-anaknya berhasil dan menjadi manusia seutuhnya yang cerdas, terampil, punya jiwa sosial dan spiritualnya bagus. Mereka (orang tua) mendaftar dan penilaiannya nanti orangnya tidak tahu bila dinilai. Semua kegiatan ini untuk memotivasi masyarakat agar lebih mencintai literasi,” jelas Arini. (Humas Dispendik Surabaya)

Tak salah jika Surabaya sebagai kota literasi, mulai pengembangan program meningkatkan motivasi siswa untuk membaca sampai ketersediaan layanan perpustakaan keliling di setiap sudut-sudut kampung bahkan sampai taman-taman kota menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi daerah lain untuk mengkaji serta memperlajarinya.

 

Tadi pagi, Rabu (24/08) sebanyak 15 guru se-Provinsi Aceh lakukan kunjungan keliterasian ke Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya dan ke beberapa sekolah. Mereka berasal dari para guru yang menjadi juara lomba literasi di provinsi Aceh.

 

Zulkarnaen ketua rombongan menuturkan, kunjungannya ke Surabaya ialah untuk belajar keliterasian, menurutnya banyak sekolah-sekolah yang menjadi percontohan literasi nasional.

 

“Setelah dari Dinas kami juga akan mengunjungi beberapa sekolah”.

 

Pada kesempatan ini, Kadispendik Surabaya Dr. Ikhsan, S. Psi, MM mengungkapkan awal mula menggalakkan budaya literasi yakni dengan meliburkan para siswa di hari “kejepit”, tujuannya agar para siswa dapat berkumpul dengan keluarga sekaligus meningkatkan ketahanan keluarga. Namun mereka tidak libur begitu saja, para siswa diberi tugas untuk menuliskan pengalamannya selama liburan bersama keluarga dan kemudian dituangkan dalam bentuk cerita pendek (cerpen).

 

Cerpen-cerpen karya siswa dilombakan, 30 cerpen terbaik dibukukan dan dibagikan ke sekolah-sekolah. Selanjutnya program berlanjut menjadi Tantangan Membaca Surabaya.

 

“Samapi akhir Desember tahun lalu jumlah buku yang telah dibaca siswa Surabaya mencapai 1.579.333 buku, dan di tahun 2016 ini target kami naikkan menjadi 2 juta buku”.

 

Mantan Kepala Bapemas dan KB Kota Surabaya tersebut menambahkan, salah satu program pendidikan di surabaya yang juga telah berhasil dikembangkan yakni pendidikan gratis di semua jenjang mulai dari tingkat SD hingga SMA. Pembiayaan pendidikan di Surabaya telah di-cover melalui anggaran pendidikan yang mencapai hampir 32 % dari APBD kota Surabaya.

 

“Selain BOS dari pusat Surabaya juga memiliki BOPDA untuk kegiatan operasional sekolah”.

 

Bantuan pendidikan tersebut diwujudkan melalui pemberian BOPDA serta penyediaan sarana dan prasarana kebutuhan siswa yang memadai. Selain itu, peningkatan mutu guru juga menjadi perhatian tersendiri dari Pemkot Surabaya, mulai dari berbagai pelatihan, pengiriman guru ke luar negeri, beasiswa, hingga tunjangan kinerja telah menjadi salah satu program peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di Surabaya.

 

 “Besaran BOPDA yang  diberikan, yakni untuk siswa SD sebesar Rp. 29.000,-/siswa/bulan, siswa SMP Rp. 80.426-/siswa/bulan, dan siswa SMA/SMK sebesar Rp. 152.000/siswa/bulan”.

 

 Dispendik juga telah berhasil mengembangkan 17 inovasi program pendidikan melalui aplikasi online. Tujuh belas inovasi program pendidikan di Surabaya, diantaranya Profil Sekolah, Sistem Informasi Pengelolaan Keuangan Sekolah (SIPKS),  Seleksi Calon Kepala Sekolah, Jurnal Online, Surabaya Belajar, Multimedia Pembelajaran, Rapor Online, Try Out Online, PPDB Online, Sahabat Dispendik,  Klinik Kurikulum, Kenaikan Pangkat Online, Tantangan Membaca 2015, P2KGS, Profil LKP dan PKBM,  Aplikasi Gaji Online, dan UNBK 100 persen. 

 

Kunjungan kemudian dilanjutkan ke SMAN 5, SMAN 21 serta SMKN 1. Tak lupa pada rombongan juga menerima buah tangan berupa cerpen karya siswa edisi ke-3 sebagai cinderamata. (Humas Dispendik Surabaya)

Subcategories

Ini adalah berita dari Sekretariat Dinas Pendidikan