Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, pagi tadi Kamis (05/01) meresmikan SMPN 55 yang terletak di Jalan Pagesangan Mulia, Jambangan Surabaya. Peresemian tersebut merupakan komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam mengembangkan sekaligus meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di Surabaya.

 

Dalam sambutannya, Risma –panggilan Wali Kota- menyampaikan bahwa kemajuan suatu bangsa bergantung pada kualitas sumber daya manusia mengingat persaingan ke depan terutama dalam menghadapi era persaingan global dan tantangan terhadap pengaruh negatif seperti narkoba dan kenakalan remaja lainnya akan semakin berat.

 

Menurutnya, para siswa perlu dibekali dengan kemampuan tambahan dalam mengembangkan bakat dan potensinya. Oleh karena itu Pemkot Surabaya saat ini tengah menyiapkan berbagai fasiitas sarana dan prasarana agar nantinya para siswa dapat memiliki bekal kemampuan tambahan.

 

“Jika perlu kita nanti mendatangkan tenaga-tenaga professional untuk melatih para siswa”.

 

Walikota menuturkan, kegiatan anak-anak harus diisi dengan kegiatan positif. Anak-anak harus dilatih secara fisik karena tantangan ke depan semakin besar. Ia berterima kasih kepada para guru karena dalam tiga tahun terakhir angka kehamilan di luar nikah siswa dapat ditekan. 

 

Walikota berharap setiap kelas dilengkapi pc dan lcd projector. Setiap sekolah juga diharapkan dapat dilengkapi dengan laboratorium ipa, ips, matematika, dan bahasa. Walikota juga berpesan agar kegiatan ekstrakurikuler didukung penuh oleh sekolah.

 

Usai sambutan dilakukan penandatanganan prasasti dan pemotongan pita oleh walikota didampingi dengan forpimda. Walikota melakukan peninjauan langsung bangunan dan fasilitas yang tersedia pada SMPN 55 Surabaya.

 

Terkait Valentine walikota menghimbau para guru untuk mengarahkan para siswa untuk bersurat kepada orang tua dan guru. Menurutnya, godaan kepada siswa sangat banyak, walikota berharap para siswa untuk dekat pada guru dan orang tua.

 

Peresmian SMPN 55 secara simbolis dilakukan dengan penandatanganan prasasti dan pemotongan pita bunga oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini didampingi Kadispendik Ikhsan, Plt. SMPN 55 Chamim Rosyidi, Forpimda, dan jajaran pejabat Pemkot Surabaya. (Humas Dispendik Surabaya)

Siapa yang tak menduga kotoran sapi ternyata dapat diolah menjadi bahan yang memiliki nilai kebermanfaatan yang tinggi. Lewat tangan terampil tim peneliti belia asal SMP Islam Al Azhar 13, Muhammad Rizky Airlangga Djojonegoro dan Wan Muhammad Irfan mencoba inovasi yaitu kotoran sapi dijadikan alat peredam suara.

 

“Kami pernah baca jurnal peredam suara di Jepang pakai bambu yang kaya Selulosa. Sedangkan kotoran sapi yang selama ini hanya dipakai biogas atau kompos juga kaya selulosa”, tutur Rizky -panggilan Muhammad Rizky Airlangga Djojonegoro- ketika bertemu Kadispendik Surabaya Ikhsan tadi sore, Rabu (04/01) di kantor Dispendik.

 

Rizky memaparkan, ide pembuatan peredam suara dari kotoran sapi tersebut berawal dari penelitian yang dilakukan sejak Februari 2015. Waktu itu keduanya ingin membuat peredam suara dari bahan alami. Dari berbagai referensi, kami menemukan senyawa organik yang memiliki fungsi peredam suara adalah selulosa (serat, Red) pada tanaman hijau,’’ tutur siswa kelas IX-A tersebut. 

 

Selulosa, tutur Rizky, terdapat di berbagai jenis tanaman hijau. Keduanya lantas memilih bonggol jagung, enceng gondok, dan ampas tebu. Kami juga menjajal bahan yang sedikit ekstrem. Yakni, kotoran sapi,’’ jelas penggemar olahraga basket tersebut.   Empat bahan itu lantas mereka buat dengan tahap serupa.

 

Bahan dikeringkan, kemudian diblender. Bahan yang sudah dihaluskan itu direkatkan dengan lem PVC. Adonan yang sudah jadi lantas dijemur di bawah terik matahari hingga kering. Setelah rampung, bahan tersebut kemudian diuji pada alat khusus untuk mengukur efektivitas pere- daman suara. Pengujian dilangsungkan di dua laboratorium berbeda. Yakni, Balai Riset dan Strandardisasi Surabaya serta Laboratorium ITS.  

 

Dari situ, kemampuan daya serap bunyi dari kotoran sapi ditemukan lebih tinggi daripada bahan lainnya. Sekitar 21,19 desibel dengan frekuensi suara 8000 Hz. Ternyata kotoran sapi ini daya serapnya melebihi glass wool lho,’’ ungkapnya. Glass wool merupakan bahan yang umum digunakan sebagai bahan dasar peredam suara.  

 

Untuk mengumpulkan kotoran sapi, keduanya punya pengalaman seru. Irfan menuturkan, mereka harus pergi ke peternakan sapi di Madura. Kotoran sapi mereka ambil sendiri dengan wadah yang disiapkan. Harus fresh dari asalnya. Jadi, kami harus bersiap di belakang sapi. Menunggu pup keluar,’’ tuturnya, lantas terkekeh.  

 

Kotoran sapi yang dibutuhkan tidak boleh terkena tanah. Kotoran yang sudah jatuh ke tanah nggak bisa dipakai,’’ ungkap Irfan. Kalau orang awam, berurusan dengan kotoran sapi itu rasanya jijik dan bau. Namun, mereka enjoy saja. Nggak tuh ( nggak bau, Red),’’ lanjut Irfan.   Kegigihan mereka pun terbayar.

 

Keduanya mendapat medali emas dalam ajang peneliti belia kategori fisika tingkat nasional di Jakarta pada 18-19 November lalu. Kemenangan tersebut membuat keduanya mendapat tiket mewakili Indonesia pada dua kompetisi Internasional. Yakni, ( dan Asia-Pacific Conference of Young Scientists ( pada 2017. Ini ajang yang kami impikan. Semoga kami bisa mendapatkan medali emas,’’ jelas siswa 14 tahun tersebut.

 

“Kami berharap lolos pada tahapan seleksi selanjutnya dan dapat berangkat ke Stuttgart untuk mengikuti lomba peneliti belia tingkat internasional. (Humas Dispendik Surabaya)

Menginjak awal tahun baru sekaligus sebagai upaya menyiapkan para siswa dalam menghadapi ujian nasional, Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya tadi siang (04/01) memberikan pembinaan kepada para kepala SMPN se-Surabaya. Acaran yang berlangsung di gedung aula Bung Tomo tersebut dipimpin langsung oleh Kadispendik Ikhsan.

 

Dalam arahannya, Kadispendik Ikhsan menghimbau agar sekolah sekolah-sekolah dapat menyiapkan strategi terutama dalam menyiapkan para siswa menghadapi unas sekaligus tetap menjaga kebersihan di lingkungan sekolah.

 

“Untuk menyiapkan para siswa saat ini sekolah-sekolah berlomba-lomba memotivasi siswa agar meningkatkan prestasi dengan giat belajar”.

 

Menurutnya ada beberapa strategi yang dapat dilakukan, pertama menyiapkan soal-soal latihan bersama MGMP dan KKG, kedua menyiapkan strategi pelatihan dan metode pembelajarannya sehinga ketika unas para siswa dapat meraih hasil yang terbaik.

 

Mantan Kepala Bapemas dan KB Kota Surabaya tersebut juga berujar bahwa tantangan siswa ke depan akan semakin berat, oleh karena itu kita harus mempersiapkan sedini mungkin.

 

“Kita ingin mereka nantinya tidak hanya dapat menjadi calon pemimpin bangsa bahkan jika mampu menjadi pemimpin dunia”.

 

Ikhsan juga mengemukakan untuk melatih para siswa dalam menghadapi unas Pemkot Surabaya melalui Dispendik juga menyediakan berbagai saluran salah satunya yakni try out online serta rumah matematika yang dapat dijadikan wahana belajar para siswa. (Humas Dispendik Surabaya)   

Subcategories

Ini adalah berita dari Sekretariat Dinas Pendidikan