Linus Nara siswa kelas XI SMAN 16 tampak serius mengisi lembar jawaban tes. Penemu helm berpendingin dan anti gegar otak tersebut bersama 41 pelajar SMA lainnya tengah mengikuti seleksi pelajar prestasi SMA tingkat kota yang berlangsung mulai hari ini, Senin (31/08) di ruang Ki Hajar Dewantara Kantor Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya.

 

Kasi Kesiswaan Dikmenjur Aries Hilmi, S. STP menuturkan, kegiatan seleksi pelajar prestasi SMA bertujuan menjaring semua pelajar berprestasi, cerdas dan berbakat SMA yang mempunyai kemampuan di bidang akademis dan non akademis, sehingga terwujud generasi emas berakhlak  mulia.’

 

Seleksi tersebut dikemas dengan tiga bentuk tes, diantaranya tes tulis, tes wawasan/wanacara, serta tes potensi baat. Sedangkan, untuk aspek kriteria penilaian meliputi, aspek akademis 40% (tes tulis bahasa inggris, bahasa indonesia, dan matematika), tes wawasan 30%, tes bakat 20%, dan administrasi 10%.

 

Aries menambahkan, dalam waktu 180 menit para siswa mengerjakan 20 butir soal matematika, 30 butir soal bahasa indonesia, 30 butir soal bahasa inggris, dan 20 butir soal wawasan umum.  

 

“Dari 92 siswa yang mendaftar hanya 42 siswa yang mengikuti seleksi”.

 

Seleksi pelajar prestasi SMA merupakan wahana untuk mengkomunikasikan atau menginformasikan semua kegiatan yang berlansung di sekolah tentang pengetahuan dan kompetensi serta peningkatan budi pekerti yang dimiliki oleh pelajar. (Humas Dispendik Surabaya)

 

Setelah kemarin, dalam usaha menciptakan lingkungan yang ramah untuk anak belajar dan bermain. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana (Bapemas-KB) Kota Surabaya melakukan gerakan Inisiasi Kampunge Arek Suroboyo (IKAS).

 

Puncaknya, Sabtu (29/8), di halaman Taman Surya, bersamaan dengan Puncak peringatan Hari Anak Nasional, dilakukan juga pemberian penghargaan bagi Kampung pendidikan menuju kampunge arek suroboyo yang diikuti oleh 161 kelurahan di 31 Kecamatan Kota Surabaya.

 

Di acara yang dihadiri oleh Kepala BNN Kota Surabaya, AKBP Suparti, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Ikhsan, bersama Forum Pimpinan Daerah Kota Surabaya, dan Jajaran SKPD Kota Surabaya. Kepala Bapemas Kota Surabaya, Nanis Chairani dalam laporannya menyebutkan, bahwa  kegiatan tahun ini sedikit istimewa, karena acara ini didukung juga oleh Muspika Kota Surabaya, Lembaga Ketahanan Masyarakat Kelurahan Kota Surabaya dan ibu ketua tim penggerak PKK.

 

“Acara tahun ini sangat spesial, dari 154 kelurahan yang terdaftar, pada final terdapat 161 kelurahan. Kami berharap, para kontestan ini semakin mampu memahami dan mengerti cara berpartisasi untuk menciptakan kampung mereka menjadi kampung yang nyaman untuk tempat belajar, tempat berekreasi, dan sehat untuk anak-anak,” imbuh Nanis.

 

Dihadapan para orang tua pelajar dari berbagai jenjang pendidikan yang hadir, Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini mengingatkan bahwa kedepan dalam menghadapi era global para orang tua diwajibkan untuk mendisiplinkan anak-anaknya dalam berbagai bidang. Karena anak-anak ini nantinya yang akan memegang peranan penting.

 

“pada tahun 2010 hanya ada 300 anak yang berprestasi tingkat kota sampai dunia, di tahun 2014 kemarin kita memiliki 5000 anak yang berprestasi di tingkat kota dan dunia. Ini artinya, ruang yang diberikan para orang tua, guru, kepala sekolah, dan tokoh masyarakat, sudah membuktikan bahwa anak-anak kita mampu berprestasi,” tegas wali kota.

 

Melalui kampung pendidikan, kampunge arek suroboyo, Wali Kota mengajak para orang tua, dam tokoh masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang sehat dari narkotika. Selain itu, Wali kota perempuan pertama di sejarah pemerintahan kota surabaya ini juga menambahkan, bahwa setiap orang tua wajib melakukan pengarahan kepada anaknya, meskipun telah menginjak usia dewasa. Anak-anak yang dulunya memiliki masalah di lingkungan dengan arahan yang benar mereka mampu mencetak prestasi. Bahkan, anak-anak yang berkebutuhkan khusus, mampu untuk menciptakan karya lukisan yang sudah dipajang di berbagai negara.

 

Setelah memberikan arahan kepada para pelajar, orang tua, guru dan kepala sekolah yang hadir, Wali Kota bersama Kanit Intelkam Polrestabes Surabaya, AKP Alum Asofi, Kepala BNN Kota Surabaya AKBP Suparti, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Ikhsan, Kepala Sub Bagian Pembinaan Kejaksaan Kejaksaan Negeri Kota Surabaya, melakukan penandatangan plakat ikrar gerakan nasional anti kekerasan seksual kepada anak, yang dibacakan oleh  tim penggerak PKK , tokoh masyarkat, dan LKMK Kota Surabaya.

 

Kepala Bapemas-KB Kota Surabaya, Nanis Chairani menambahkan komitmen Pemkot adalah menjadikan Surabaya sebagai kota yang aman dan nyaman bagi anak-anak sehingga mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Menurut Nanis, dengan terpenuhinya semua kebutuhan dasar, anak-anak akan tumbuh menjadi manusia berkualitas.

 

Jika terjadi kasus kekerasan seksual terhadap anak, harap masyarakat memberikan laporan sehingga lekas ditangani. Pada level kelurahan ada satuan tugas perlindungan perempuan dan anak. Pada tingkat kecamatan pusat krisis berbasis masyarakat (PKBM) siap memfasilitasi penyelesaian masalah anak. Sedangkan, pada skala kota, Surabaya punya Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (PPT-P2A),” imbuh mantan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Kota Surabaya ini.

 

Sementara, penghargaan Kampung pendidikan menuju Kampunge Arek Suroboyo tahun 2015, untuk kategori kampung belajar, juara pertama diraih oleh Kelurahan Babat Jerawat, juara kedua Kelurahan Ngagel Rejo dan juara ke tiga Kelurahan Wonokusumo.

 

Sedangkan, untuk kategori Kampung Asuh, Kelurahan Dukuh Setro menempati juara pertama, disusul Kelurahan Jambangan pada  posisi ke dua, dan Kelurahan Karang Poh pada posisi ke tiga.

 

Untuk kategori Kampung Sehat, juara pertama diraih oleh Kelurahan Wonokusumo, juara kedua Kelurahan Jambangan, dan juara ketiga Kelurahan Dukuh Setro. Untuk kategori Kampung Aman, Kelurahan Gubeng Kertajaya meraih juara pertama, disusul Kelurahan Dukuh Setro pada posisi ke dua, dan Kelurahan Ngagel Rejo pada posisi ketiga.

 

Kategori terakhir, kampung kreatif diraih oleh Kelurahan Lontar pada juara pertama, Kelurahan Banyu Urip pada juara ke dua, dan Kelurahan Jambangan pada posisi ketiga. Sebelumnya, Wali Kota sempat  menyanyikan beberapa lagu bersama enam anak inklusi bersuara emas yang lihat memainkan alat musik di atas panggung. (Humas Dispendik Surabaya)

Perasaan lega dan bahagia tidak dapat disembunyikan dari rat muka lima siswa SMP di Kantor Dinas Pendidikan (dispendik) Surabaya, pada Jumat kemarin (28/8). Mereka berhasil mengalahkan ribuan pesaing dan berhak maju ke tingkat provinsi dalam lomba siswa berprestasi. Mereka antara lain Aryo Seno Bagaskoro (SMPN 6), Allysa Ramadhani (SMPN 1), Sarah Fitriani Widodo (SMPN 22), Vide Marsha Anasuciara (SMPN 19), dan Kensas Kristanto (SMP Kristen Petra 5).

 

Lima siswa tersebut sudah melalui proses seleksi bertahap dan ketat. Diantaranya administrasi, tes tulis, wawancara, pidato, dan penampilan bakat minat. “Proses seleksi mulai tingkat sekolah,” ujar Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah Dispendik Surabaya Eko Prasetyoningsih.

 

Tidak hanya memiliki pengetahuan luas, Eko melanjutkan siswa berprestasi itu juga dituntut bertalenta yang menarik. Karena itu, salah satu proses seleksinya adalah penampilan bakat dan minat masing-masing peserta. “Lima peserta tadi mendapatkan nilai tertinggi. Mereka semua juara satu yang lolos ke provinsi,” kata Eko.

 

Setelah ini, lima siswa mendapatkan pembinaan. Tujuannya, memberikan persiapan maksimal sebelum mengikuti perlombaan ke jenjang provinsi Jatim. “Sudah kami persiapan jadwal latihan dan pembinaan. Ada pembina khusus yang akan melatih mereka,” terang perempuan yang menjabat sebagai Humas Dispendik Surabaya ini.

 

Salah satu peserta yang lolos adalah Sarah. Siswa kelas IX SMPN 22 itu mengaku sangat plong dan bahagia saat dinyatakan lolos. Dia tampil apik saat unjuk aksi bakat. Siswa 14 tahun ini menari salsa. “Saya sebenarnya juga aktlet ski air. Tapu saya juga suka salsa sejak lima bulan yang lalu,” katanya.

 

Selain Sarah, perasaan campur aduk menguasai Seno. Siswa SMPN 6 menceritakan sangat lega sekaligus deg-degan. “Harus melakukan persiapan lebih keras untuk jenjang provinsi nanti,” ungkap siswa kelahiran Surabaya, 23 Agustus 2001 tersebut.

 

Dia mengaku sempat merasa gugup saat sesi wawancara. Namun, prose situ berlangsung cepat dan malah memberikan akhir membahagiakan. “Saya membawakan story telling bercerita Roro Jongrong, andalan saya,” ujarnya. (Humas Dispendik Surabaya)

 

Subcategories

Ini adalah berita dari Sekretariat Dinas Pendidikan