Meski sudah sekian kali diselenggarakan, Festival Tari Remo dan Yosakoi di Surabaya tidak kehilangan aura kemeriahannya. Ajang tahunan yang kali ini dihelat di Balai Pemuda, Minggu (2/8) itu mampu menarik animo masyarakat.

 

Sedikitnya 250 penari remo unjuk kebolehan menampilkan tarian khas Jawa Timur. Rentang usia peserta Tari Remo mulai anak umur 5 tahun hingga remaja 16 tahun. “Mulai siswa taman kanak-kanak (TK) sampai pelajar SMA, semua ambil bagian dalam festival ini,” terang Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Surabaya, Wiwiek Widayati.

 

Sedangkan Tari Yosakoi dibawakan oleh 1.000 orang yang terbagi dalam 40 grup. Masing-masing grup diberikan kesempatan secara bergiliran menampilkan tarian tradisional Jepang tersebut.

 

Wiwiek mengatakan, Pemerintah Kota Surabaya sudah menjadikan Festival Tari Remo dan Yosakoi sebagai agenda rutin tahunan. Kegiatan tersebut merupakan implementasi dari hubungan sister city antara Kota Surabaya dengan Kota Kochi di Jepang. Festival Tari Remo dan Yosakoi juga diintegrasikan sebagai bagian dari rangkaian acara Cross Culture Festival (CCF) atau Festival Seni Lintas Budaya yang juga dilaksanakan setiap tahun.

 

Konsul Jenderal Jepang di Surabaya Yoshiharu Kato yang turut hadir menyatakan, pihaknya sangat berterima kasih dan mengapresiasi Festival Tari Remo dan Yosakoi. Menurut dia, sejak pertama kali diselenggarakan di Surabaya pada 2003, festival ini bukan sekadar sebagai tontonan seni saja, melainkan sudah menjadi simbol persahabatan yang kental antar kedua kota, yakni Surabaya dan Kochi.

 

Kato menuturkan, di Jepang sendiri Festival Tari Yosakoi biasanya diadakan setiap bulan Juli. Sebab pada rentang waktu tersebut, Jepang sedang memasuki musim panas dimana sangat cocok untuk diselenggarakannya Festival Tari Yosakoi.

 

Secara keseluruhan, Kato mengaku terkesan dengan Festival Tari Remo dan Yosakoi yang ada di Surabaya. “Ini baru pertama kali saya menyaksikan festival ini di Surabaya. Saya sangat senang melihat respon masyarakat akan pentingnya kegiatan lintas budaya seperti ini,” ujar Kato yang resmi menggantikan Noboru Nomura per April 2015 ini. (Humas Dispendik Surabaya)

Pemerintah Kota Surabaya menggelar upacara Pembukaan Pelatihan dan Pembekalan Paskibraka Kota Surabaya tahun 2015. Bertempat di Graha Sawunggaling (3/8) upacara tersebut dihadiri oleh 100 siswa terpilih dari 57 SMA dan SMK di kota Surabaya. Dalam upacara tersebut, Sumarno Kepala Bakesbangpol dan Linmas bertindak sebagai inspektur upacara didampingi oleh Agus Purnomo, Kabid Perlindungan Masyarakat untuk membacakan laporan penyelenggara.

 

Upacara pembukaan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang diikuti oleh seluruh peserta upacara. Kemudian dilanjutkan dengan penyematan tanda peserta. Sebelum proses pemberian amanat, dilakukan pembacan laporan penyelenggara oleh Agus Purnomo.
Pada pembacaan laporan penyelenggara, Agus menjelaskan bahwa acara pelatihan dan pembekalan Paskibraka akan dilakukan selama 13 hari di balai kota Surabaya. Pelatihan tersebut dilakukan dalam tiga bentuk kegiatan, yakni Orientasi (3-9 Agustus), Pemantapan (10-12 Agustus) dan Karantina (13-17 Agustus).

 

Agus juga menegaskan bahwa tujuan pelatihan dan pembekalan Paskibraka Kota Surabaya ini adalah untuk melakukan pengibaran bendera merah putih pada hari Kemerdekaan Indonesia Raya di Taman Surya Kota Surabaya. Selain itu Agus menambahkan bahwa pelatihan tersebut adalah untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air pada diri siswa.

 

Setelah pembacaan laporan, dilanjutkan dengan pemberian amanat upacara oleh inspektur upacara. Dalam pemberian amanat tersebut Sumarno membacakan sambutan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Sumarno mengatakan kepada para siswa-siswi Paskibraka terpilih untuk saling mengenal dan menjalin ikatan satu sama lain. Selain memberikan semangat, Sumarno juga menegaskan kepada peserta paskibraka kota Surabaya agar tidak bersikap sombong dan saling mengingatkan.

 

Setelah memberikan amanat upacara, Sumarno melanjutkan dengan membacakan tantingan kepada peserta upacara diikuti oleh jawaban serentak para peserta upacara. Setelah proses tantingan, Feronika Nicken, salah satu petugas upacara yang berasal dari SMA Negeri 8 Surabaya membacakan Dharma Mulia Putra Indoenesia. Upacara yang berlangsung khidmat tersebut kemudian ditutup dengan pembacaan doa dan seremonial pemotongan tumpeng oleh inspektur upacara. (Humas Dispendik Surabaya)

 

Program Adiwiyata bukanlah program khusus yang harus dilaksanakan oleh pihak sekolah. program ini menyatu dalam 8 standar nasional pendidikan, sehingga pada proses pelaksanaannya tetap menjadi satu kesatuan yang utuh dan bulat sesuai dengan peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan. selain itu, kepedulian terhadap lingkungan hidup yang menjadi inti dari program adiwiyata tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) pada tiap jenjang pendidikan di indonesia.

 

Tadi siang (03/08) bertempat di ruang Dr. Wahidin Sudirohusodo, Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya lakukan pembinaan kepada calon sekolah Adiwiyata Mandiri dan Sekolah Imbas tahun 2015.

 

Kasi Kesenian dan Olahraga Damaris Padmiasih mengemukakan pembinaan ini telah secara rutin dilakukan kepada sekolah-sekolah yang memiliki kepedulian tinggi dalam menjaga lingkungan sekolah, sehingga sekolah menjadi lebih bersih, sehat, serta memberikan rasa kenyamanan dalam kegiatan pembelajaran di kelas.

 

Semantara itu, terkait Standar Operating Procedure (SOP), Dra. Sofia Nurbaya Pengawas Pembina menuturkan, secara operasional untuk menjadi sekolah adiwiyata diharapkan melalui proses yang tersusun secara hirarki menjadi 5 (lima) langkah menjadi sekolah adiwiyata, yaitu membetuk tim Adiwiyata sekolah, menyusun kajian lingkungan sekolah, menyusun rencana aksi lingkungan sekolah, melaksanakan kegiatan aksi lingkungan, dan terakhir adalah evaluasi & monitoring.

 

Tim Adiwiyata sekolah harus mengandung unsur kepala sekolah, komite sekolah, guru, tenaga kependidikan (tata usaha), siswa, orang tua siswa, pemerintah setempat (kelurahan, kecamatan), perguruan tinggi, masyarakat sekitar termasuk juga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

 

Berbicara kajian lingkungan, hal tersebut dapat dilakukan melalui sebuah instrumen checklist mencakup berbagai isu lingkungan yang terjadi sekolah, misalnya; sampah, air, energi, makanan dan kantin sekolah, serta keanekaragaman hayati (masalah lain yang menjadi isu lingkungan di sekolah).

 

Sofia menambahkan rnencana aksi harus dikembangkan berdasarkan hasil kajian lingkungan yang telah dilakukan. Dalam penyusunan rencana aksi lingkungan perlu diperhatikan bahwa sasaran yang ditetapkan realistis sesuai dengan potensi dan sumber daya yang dimiliki dan dapat dicapai.

 

Pelaksanaan aksi lingkungan harus dapat dibuktikan dengan dokumen otentik yang sah, seperti bukti perencanaan program, bukti daftar hadir dan berita acara, bukti silabus dan rencana pelaksaan pembelajaran, bukti akta kerjasama (Memorandum Of Understanding), bukti hasil kegiatan siswa, bukti-bukti lain yang mendukung seperti photo, leaflet, dan sebagainya.

 

Khusus untuk sekolah Adiwiyata Nasional yang akan menuju Adiwiyata Mandiri disamping bukti otentik tersebut, harus juga dilengkapi dengan bukti otentik tentang akta kerjasama dan laporan kemajuan (progress report) dari hasil pembinaan/pengimbasan kepada 10 (sepuluh) sekolah lain yang menjadi kewenangannya.

 

Evaluasi monitoring dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah tim Adiwiyata sekolah berhasil mencapai target yang tercantum dalam Rencana Aksi lingkungan atau tidak, maka harus dilakukan pemantauan untuk mengukur kemajuan yang diharapkan. Proses evaluasi dan monitoring yang dilakukan terus menerus akan membantu memastikan bahwa kegiatan ini tetap berkelanjutan.

 

Sebanyak 34 sekolah imbas dan 3 calon sekolah Adiwiyata Mandiri mengikuti pembinaan yang dilakukan oleh Dispendik bersama BLH Kota Surabaya. Ke-36 sekolah imbas tersebut diantaranya, SDN Asemrowo, SDN Balongsari I, SDN Banjarsugihan III, SDN Manukan Kulon, SDN Manukan Kulon II, SDN Pradah Kalikendal III, SDN Benowo I, SDS Al-Kautsar, SDN Banjarsugihan V, SD An-Nur, SDN Manukan Wetan I, MI H. Ali, SDN Ujung 5, SDN Wonokusomo I, SDN Wonokusomo V, SDN Sidotopo Wetan IV, SDN Sidotopo, SDN Ujung 13, SMPN 21, SMPN 31, SMPN 41, SMP Kemala Bhayangkari I, SMP KHM. Nur, SMAN 8, SDN Kebonsari I, SDN Jambangan, SDN Pagesangan, SDN Karah, SDN Ketintang I, SDN Menanggal I, SMPN 22, SMP Al-Hikmah, SMP Baitusalam, SMP PGRI 17.

 

Sedangkan 3 sekolah calon Adiwiyata Mandiri ialah SDN Sememi I, SMPN 11, dan SMPN 36. (Humas Dispendik Surabaya).

Subcategories

Ini adalah berita dari Sekretariat Dinas Pendidikan