Pembaharuan aturan dari Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 060/U/2002 tentang Pedoman Pendirian Sekolah menjadi Permendikbud No.36 tahun 2014 tentang Pedoman Pendirian, Perubahan, Dan Penutupan Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah membutuhkan sosialisasi yang harus segera dilakukan.

 

Tadi siang (06/07) Dinas Pendidikan (Dispendi) bersama Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah (DBPT) kota Surabaya lakukan sosialisasi Permendikbud tersebut kepada ratusan sekolah di gedung aula SMKN 6.

 

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dra. Eko Prasetyoningish, mengungkapkan dengan adanya perubahan aturan tersebut sekolah harus memiliki lahan sendiri dalam mengajukan perpanjangan ataupun pengurusan baru ijin opersional. Status kepemilikan tanah dan/atau bangunan satuan pendidikan harus dibuktikan dengan dokumen kepemilikan yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan atas nama Pemerintah, pemerintah daerah, atau badan penyelenggara.

 

Eko menambahkan, pada saat berlakunya Peraturan Menteri ini , bagi satuan pendidikan yang sudah berdiri tetapi status kepemilikan tanahnya belum milik Pemerintah, pemerintah daerah, atau badan penyelenggara diberi tenggang waktu untuk memenuhi syarat kepemilikan tanah atas nama penyelenggara dalam jangka waktu paling lambat 10 (sepuluh) tahun.

 

“Kami dari Dispendik harus segera mensosialisasikan hal tersebut, agar sekolah-sekolah menyiapkannya sebelum 2024 nanti”.

 

Sementara terkait Izin Pemakaian Tanah (IPT), Eka dari DPBT menjelaskan IPT diberikan oleh Walikotamadya Kepala Daerah atau Pejabat yang ditunjuk untuk memakai tanah dan bukan merupakan pemberian hak pakai atau hak-hak atas tanah lainnya sebagaimana diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 1960. Pemegang IPT adalah orang atau Badan Hukum yang telah mendapat IPT.

 

Persyaratan pengajuan pemutihan IPT untuk sekolah diantaranya, mengisi  Form Pemutihan, Identitas Lembaga Penyelenggara (Akta Pendirian, SK Kemenkumham, dan KTP yang mewakili Lembaga Penyelenggara Pendidikan), SKRK peruntukan Sekolah, Lunas Retribusi Pemutihan, Surat Pernyataan (khusus sekolah).

 

Sedangkan persyaratan pengajuan perpanjangan IPT yang digunakan untuk sekolah ialah mengisi Form Perpanjangan, Identitas Lembaga Penyelenggara (Akta Pendirian, SK Kemenkumham, dan KTP yang mewakili Lembaga Penyelenggara Pendidikan), SKRK peruntukan Sekolah, Lunas Retribusi Tahun Terakhir, dan Surat Pernyataan (khusus sekolah).

 

Pengajuan proses Pemutihan dan Perpanjangan melalui Loket UPTS Jl. Menur 31-C Surabaya”, pungkasnya. (Humas Dispendik Surabaya)

Raut wajah Mahardika H. P tampak serius mengerjaan butir-butir soal Tes Potensi Akademik (TPA), alumnus  SMPN 5 tersebut bersama 6.405 peserta lainnya hari ini (06/07) mengikuti tes TPA jalur SMA Kawasan yang diselenggarakan secara serentak oleh Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya pada 15 titik lokasi yang berbeda. Lokasi tersebut diantaranya, SMPN 1, 6, 37, 9, 3, 4, 29, SMAN 5, 2, 1, 9, 6, 7, 4, dan SMKN 5.

 

Ketua PPDB Surabaya Ir. Yusuf Masruh menjelaskan jika pada tes TPA jalur SMP kawasan menggunakan 17 lokasi, maka pada TPA jalur SMA kawasan hanya menggunakan 15 lokasi. Hal tersebut disebabkan karena jumlah peserta TPA jalur SMP kawasan lebih besar dari jumlah peserta TPA jalur SMA Kawasan.

 

“Jika pada jalur SMP kawasan diikuti 7.668 siswa maka pada jalur SMA kawasan hanya 6.406 peserta saja”.

 

Yusuf menambahkan, dari pantauan, pelaksanaan ujian tenang dan tanpa gangguan. Hampir seluruh peserta lulusan SMP tersebut mengerjakan dengan tenang. Para tester pun yang masih mahasiswa psikologi semester 2 terlihat santai. 

 

 Tester mengawasi dari depan. Padahal, biasanya tester tes TPA di lembaga profesional berkeliling untuk melihat peserta mengerjakan soal. Hal itu untuk melihat apakah peserta sudah paham soal atau tidak. Usai ujian, peserta langsung menuju ke orang tua yang sudah menunggu di depan pintu gerbang lokasi.

 

Dekan Fakultas Psikologi UNAIR, Prof. Dr. Seger Handoyo mengungkapkan standar TPA untuk anak SMPN akan berbeda dengan standar dengan anak SMAN. “Lokasi berpikir setiap jenjang kan berbeda, tapi intinya mengetahui potensi dan nalar anak,” jelas Seger. Tak hanya untuk masuk jenjang SMP, Seger berharap TPA juga bisa dijadikan paduan untuk masuk ke jenjang SD. “Jadi guru dan orang tua tahu kemampuan anak-anaknya. Sangat berguna untuk proses pembelajaran ke depan,” katanya.

 

Seleksi dengan TPA merupakan proses untuk penyaringan siswa dengan tujuan memilih siswa yang diprediksikan (diramalkan) akan (1) lebih berhasil dalam prestasi belajarnya di jenjang yang lebih tinggi, dan (2) lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami stress dengan tuntutan belajar di sekolah kawasan.

 

Siswa yang memiliki kemampuan berfikir yang tinggi akan memiliki proses dan strategi berfikir yang efektif dan efisien yang membuatnya lebih mudah mempelajari mata pelajaran di sekolah dan menyelesaikan persoalan, sehingga dia tidak mudah untuk mengalami kecemasan dalam belajar dan akan memiliki prestasi belajar yang lebih baik. Jadi TPA berfungsi melengkapi (komplementer) nilai UN/US.

 

Lebih dari itu, pengukuran TPA juga akan memberikan profil kemampuan berfikir siswa (berfikir dengan bahasa, angka, atau gambar) yang dapat dipergunakan oleh guru dan sekolah untuk mengembangkan proses pembelajaran di sekolah tersebut atau membantu siswa secara individual. Dengan begitu, proses pembelajaran di sekolah akan lebih efektif dan siswa dapat belajar serta meningkatkan kemampuan berfikirnya secara optimal.

 

Contoh, seorang siswa yang mempunyai profil kemampuan berfikir yang menunjukkan kekuatan kemampuan berfikir dengan gambar dibandingkan dengan kemampuan dalam berfikir bahasa dan angka, maka anak sebaiknya diminta untuk membuat sketsa-sketsa gambar untuk memahami pelajaran yang bermuatan bahasa yang tinggi. (Humas Dispendik Surabaya)

Hari ini, Minggu (05/07) sebanyak 7.668 siswa yang baru lulus SD  mengikuti Tes Potensi Akademik (TPA) untuk jalur SMP Kawasan. Kegiatan tersebut berlangsung secara serentak di beberapa lokasi diantaranya, SMPN 1, 6, 37, 9, 3, 4, 29, 12, SMAN 5, 2, 1, 9, 6, 7, 4, SMKN 5, dan SMKN 8.

 

Ketua PPDB Surabaya Ir. Yusuf Masruh mengemukakan Tes TPA yang dipergunakan untuk seleksi SMP dan SMA di Sekolah Kawasan akan mengukur 3 (tiga) bagian kemampuan berfikir, yaitu: (1) Verbal; ( 2) Numerikal; dan ( 3) Figural.Berikut ini diberikan penjelasan tentang masing-masing bagian.

 

Seleksi dengan TPA merupakan proses untuk penyaringan siswa dengan tujuan memilih siswa yang diprediksikan (diramalkan) akan (1) lebih berhasil dalam prestasi belajarnya di jenjang yang lebih tinggi, dan (2) lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami stress dengan tuntutan belajar di sekolah kawasan.

 

Siswa yang memiliki kemampuan berfikir yang tinggi akan memiliki proses dan strategi berfikir yang efektif dan efisien yang membuatnya lebih mudah mempelajari mata pelajaran di sekolah dan menyelesaikan persoalan, sehingga dia tidak mudah untuk mengalami kecemasan dalam belajar dan akan memiliki prestasi belajar yang lebih baik. Jadi TPA berfungsi melengkapi (komplementer) nilai UN/US.

 

Lebih dari itu, pengukuran TPA juga akan memberikan profil kemampuan berfikir siswa (berfikir dengan bahasa, angka, atau gambar) yang dapat dipergunakan oleh guru dan sekolah untuk mengembangkan proses pembelajaran di sekolah tersebut atau membantu siswa secara individual. Dengan begitu, proses pembelajaran di sekolah akan lebih efektif dan siswa dapat belajar serta meningkatkan kemampuan berfikirnya secara optimal.

 

Yusuf menambahkan para peserta yang mengikuti TPA ini berasal dari hasil pendafatar yang telah melakukan registrasi melalui website pppdbsurabaya.net. Pelaksanaan TPA untuk jalur SMP Kawasan ini dimulai pukul 08.00-10.00.

 

“Pengumuman hasil tes TPA akan secara serentak diumumkan melalui website ppdbsurabaya.net dan sekolah”.

 

Kepala Dispendik Surabaya Dr. Ikhsan, S. Psi, MM menyampaikan monitoring dan evaluasi pelaksanaan TPA di beberapa lokasi sekolah akan dipusatkan pada gedung Aula SMA Komplek. Monitoring bersama Tim dari Fakultas Psikologi UNAIR  ini bertujuan untuk memperlancar pelaksanaan TPA.

 

"Kami menggunakan media sosial untuk saling menyampaikan laporan di tiap-tiap sekolah tempat pelaksanaan TPA".

 

Sementara itu, Prof. Dr. Seger Handoyo Dekan Fakultas Psikologi UNAIR mengungkapkan TPA seharusnya diberlakuan di Indonesia mulai dari anak masuk ke jenjang SD, TPA hanya sebagai alat ukur bakat dan minat siswa bukan menjadi sebagai dasar dalam penjurusan.

 

Lebih lanjut Seger menjelaskan bahwa jika sebagai penentu dalam penjurusan, hasil dari pada TPA  haruslah dikombinaasikan dengan nilai ujian sekolah anak. Tampak para orang tua menunggu anaknya yang tengah mengikuti TPA di depan pintu gerbang masuk sekolah. (Humas Dispendik Surabaya)

Subcategories

Ini adalah berita dari Sekretariat Dinas Pendidikan