Login

Situs Resmi Dinas Pendidikan Kota Surabaya

120 Lembaga Dapatkan Pembinaan BAN-PNF

     Peningkatan kompetensi para lembaga penyelenggara pendidikan terus dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya. Selama tiga hari, mulai dari hari ini (29/08) sampai (31/08) Dispendik selenggarakan sosialisasi dan kegiatan lokakarya bersama Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Non Formal (BAN-PNF).

     Kepala Bidang Kesenian, Olahraga, dan PLS Drs. Dakah Wahyudi, M. Pd menerangkan sebanyak 120 lembaga yang terdiri dari 60 PAUD, 36 Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) dan 24 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) mengikuti sosialisasi dan lokakarya ini.

     Dakah menambahan nantinya semua lembaga pendidikan akan harus terkareditasi. Dengan akreditasi para penyelenggara pendidikan mendapatkan penilaian berdasarkan delapan standar nasional pendidikan. "Nantinya dalam mengurus perijinan, lembaga harus sudah terakreditasi".

     Acara yang berlangsung di aula belakang kantor Dispendik Surabaya menghadirkan dua orang narasumber dari BAN-PNF. Mereka ialah Prof. Dr. Yatim Riyanto, M. Pd serta Ir. H. Ilyas.

     Menurut Ilyas, Akreditasi dilakukan untuk menentukan KELAYAKAN program dan satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan nonformal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.

      Selain itu, akreditasi PNF merupakan pengakuan formal dalam pembentuk pemberian status kelayakan oleh BAN-PNF yang menyatakan bahwa program dan satuan PNF tertentu telah memenuhi persyaratan sesuai dengan SNP.

     Salah satu manfaat adanya akreditisai ialah mendorong satuan PNF untuk selalu berupaya dalam meningkatkan mutu program dan lembaganya secara bertahap, terencana, dan kompetitif.

      Sementara itu, menurut Yatim akreditasi PNF berdasarkan permendiknas no. 69/2009 tentang sistem penjamin mutu dan permendikbud no. 59/2012 BAN. Melalui kegiatan sosialisasi dan lokakarya ini para lembaga akan menyusun dokumen akreditasi sebagai bentuk penilaian yang disusun berdasarkan instrumen yang telah ditentukan.

      Penyusunan dokumen akreditasi berdasarkan delapan standar nasional yang meliputi, standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar pendidik dan tenaga pendidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, standar penilaian pendidikan. "Dengan demikian mutu serta kualitas lembaga penyelenggara pendidikan non formal akan lebih berkualitas". (Humas Dispendik Surabaya)

Tingkatkan Pelayanan Kepada Siswa Inklusi, Dispendik Beri Pelatihan Guru

     Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya terus berupaya dalam meningkatkan pemenuhan hak dasar anak, terutama bagi para siswa berkebutuhan khusus dengan memberikan pelatihan terapi pijat kepada para guru BK, guru agama serta guru penjaskes tingkat SD se-Surabaya.

     Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dra. Eko Prasetyoningsih menerangkan pelatihan terapi pijat ini bertujuan untuk memberikan pengalaman kepada guru dalam memberikan pelayanan sebaik mungkin kepada para anak berkebutuhan khusus (ABK) ketika mereka menerima kegiatan pembelajaran di sekolah.

      Melalui pelatihan ini, para guru  diharapkan mampu mengidentifikasi lebih awal  kebutuhan para siswa ABK sehingga nantinya treatment yang diberikan dapat sesuai dengan kebutuhan anak.

      Beberapa treatment yang diberikan dalam pelatihan terapi ini meliputi, long life refleks, NMRI, serta protokoler.  Dalam pelatihan terapi ini, para guru diajarkan bagaimana memberikan salah satu yakni treatment  long life refleks. Ada beberapa gerakan yang dilakukan dalam  treatment ini, yaitu melatih reflek dengan menempel di tanah (gorunding), posisi stabil (stabilizing), dinamik hingga posisi stabil (balancing), garis tengah (centering), dan posisi tegak (tendon guard).

      Sementara itu, narasumber Fajar Suryani Amd Ot dari RS.Haji menjelaskan bawa pentingnya identifikasi awal yang dilakukan oleh para guru agar nantinya dapat membedakan treatment yang diberikan tergantung jenis kebutuhannya. "Rata-rata siswa ABK di  Surabaya mengalami hyperactive serta slowlener", untuk itu perlu penanganan terapi yang sesuai dengan kebutuhan mereka".

      Kasi Kurikulum Pendidikan Dasar Dra. Munaiyah, M. Pd mengatakan pelatihan terapi pijat berlangsung selama dua hari (27-28/08) di SMPN 13 dan diikuti oleh 150 guru BK, agama islam, serta guru penjaskes SD se-Surabaya. (Humas Dispendik Surabaya)

 

Additional information