Login

Situs Resmi Dinas Pendidikan Kota Surabaya

Jangan Coba-Coba Narkoba

“Jangan coba-coba narkoba”, itulah ungkapan pertama kali yang dilontarkan oleh Doni Ariestawan seorang mantan pengguna narkoba yang menjadi narasumber dalam acara sosialisasi penanggulangan narkoba di sekolah tadi (27/01). Acara tersebut berlangsung di  gedung aula kantor Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya.

 

Dihadapan para peserta yang merupakan guru BK SMP se-Surabaya, Doni menceritakan pengalamannya ketika ia harus masuk panti rehabilitasi berkali-kali untuk menjalani serangkaian treatment karena sangat ketergantungan sekali terhadap zat adiktif berbahaya tersebut.

 

“Menggunakan narkoba tidak ada sukanya, hanya imajinasi belaka dan penyelasan seumur hidup yang didapat”.

 

Doni berpesan agar para remaja ataupun masyarakat jangan sekali-kali menggunakan narkoba karena akan berdampak buruk  kedepannya nanti. Relawan BNN bidang pencegahan dan pemberdayaan ini berharap melalui rencana tindak lanjut (action plan), sekolah dapat membuat program bersama orang tua untuk bersama-sama menanggulangi penyalahgunaan narkoba yang saat ini kerap kali disalahgunakan oleh pelajar, sekaligus menjaga lingkungan sekolah agar terbebas dari peredaran narkoba yang kini tengah merajalela.

 

Sekretaris Dispendik Drs. Aston Tambunan, M. Si, menganggap bahwa narkoba merupakan musuh bersama yang harus diperangi agar para generasi muda memiliki akhlak mulia dan menjadi penerus perjuangan bangsa.

 

Aston menambahkan melalui kegiatan ini, para guru BK dapat mensosialisasikan pengalaman serta pengetahuannya selama dilatih oleh BNN untuk disebarluaskan kepada orang tua, siswa, serta masyarakat. Dengan demikian orang tua, guru serta masyarakat mempunyai sebuah kepedulian bersama dalam melakukan pengawasan terhadap bahaya narkoba.

 

Kasi Penmas Thussy Apriliyandari, SE mengutarakan sosialisasi tentang penanggulangan bahaya narkoba para guru BK ini merupakan salah satu program tindak lanjut dari ekstrakurikuler konselor sebaya.

 

“Dengan pengalaman yang di dapat, para guru BK nanti dapat mengimbaskan kedalam kegiatan ekstrakurikuler konselor sebaya di sekolah”.

 

Sementara itu, Badi narasumber dari BNN  Kota Surabaya menerangkan bahwa salah satu jenis narkoba, yakni heroin memiliki sifat analgesic dalam tubuh dan membuat ketergantungan. Bahaya lainnya yakni dapat menyebabkan berbagai macam penyakit seperti kanker otak dan memutuskan urat-urat syaraf.

 

Badi menambahkan saat ini  di Surabaya terdapat beberapa Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) untuk para pecandu narkoba yang digunakan sebagai tempat  rehabilitasi. IPWL tersebut terletak di Puskesmas Jagir, Ponpes Inabah, Puskesmas Gayungan, RS. Soewandi, dan BNN Kota Surabaya.

 

“IPWL  ini berfungsi sebagai tempat rehabilitasi para pecandu narkoba yang telah diatur dalam UU no. 35 Tahun 2009”. (Humas Dispendik Surabaya)

Merawat Kearifan Lokal, Pemkot Surabaya Gelar Festival Topeng Maulud 2015

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memiliki kepedulian tinggi untuk ikut merawat budaya kearifan lokal agar tidak lenyap dan tergusur oleh modernitas zaman. Salah satu upaya Pemkot Surabaya untuk  melestarikan kearifan lokal adalah dengan menggelar festival topeng Maulud yang digelar di halaman Taman Surya, Surabaya, Minggu (25/1/2015).


Ini merupakan kali kedua penyelenggaraan festival Topeng Maulud. Namun, dibanding acara pertama yang digelar di Taman Bungkul, acara kali ini jauh lebih semarak. Ada 1000 lebih warga Surabaya yang ikut ambil bagian untuk memeriahkan acara tahunan ini. Halaman Taman Surya pun serasa disulap menjadi panggung pesta rakyat dengan hamparan karpet merah. Ada puluhan ragam topeng Maulud yang seperti dipajang di sebuah etalase. Juga ada gunungan hasil bumi seperti sayur-sayuran, buah-buahan serta gunungan apem (jajanan) khas Surabaya.


Selain itu, ada beragam penampilan dari siswa-siswi sekolah, komunitas sanggar tari/seni, dan juga dari pewakilan kecamatan yang terkemas dalam parade topeng Maulud 2015. Diantaranya, tari topeng Shalawat dari SMPN 12 Surabaya, juga drum band SMAN 19 Surabaya.


Setelah pembacaan doa, acara dilanjutkan dengan ritual keberkahan yang diawali dengan Tarian Topeng Gedeg oleh Sanggar Surabaya Menari, dilanjutkan pembagian topeng Maulud oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Kemudian dilanjutkan dengan rebuan gunungan apem dan gunungan hasil bumi.

 

Kegiatan Festival Topeng Maulud tahun 2015 ini merupakan ide dari Walikota Surabaya yang kemudian ditindaklanjuti oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya. “Sebenarnya ini penyelenggaraan yang kedua kalinya. Memang saya minta ke Disbudpar. Tujuannya supaya anak-anak Surabaya tahu ada budaya seperti ini di Surabaya. Anak-anak kecil jadi tahu ada Topeng Maulud,” tegas Walikota Tri Rismaharini.


Karenanya, walikota sarat prestasi ini menegaskan, acara seperti ini akan rutin diselenggarakan oleh Pemkot Surabaya. “Ke depannya akan terus kita sempurnakan sehingga anak-anak tahu kekayaan budaya di Surabaya. Kali ini pun packagingnya beda dengan sebelumnya. Bila sebelumnya adanya topeng Maulud saja, sekarang ada gunungan buah adan apem seperti di aara ruwat desa,” sambung walikota perempua pertama dalam sejarah pemerintahan di Kota Surabaya ini.


Topeng Maulud merupakan salah satu budaya kearifan lokal yang ada di Surabaya selain ludruk, manten pagon, tari remo, undukan doro dan gulat okol. Pemkot Surabaya telah melakukan berbagai upaya untuk merawat budaya lokal tersebut agar tetap ada dan dikenal generasi muda. (Humas Dispendik Surabaya)

 

Additional information